My Sugar Brother

My Sugar Brother
20. Berakit-rakit namun belum sampai Ke Hulu, kenapa?


__ADS_3

Ia membalik pancakes dengan pan, lalu tersenyum tipis melihat keberhasilannya dan meletakkan pancake itu di piring yang sudah memiliki tumpukan pancake dengan penampilan yang sama cantiknya dengan si pembuat.


itu pancake terakhir, ia sekarang hanya perlu mengoles sedikit mentega dan menuangkan sedikit madu juga beberapa buah stroberi yang sudah ia bersihkan.


Ia sedikit berjengit saat tangan seseorang menarik lembut rambut panjangnya yang sejak tadi mengganggu pandangannya. Lea menoleh mendapati Asa tengah mengepangi rambutnya ke belakang, dengan senyum terlukis di wajah tampan itu.


" ini niatnya emang bantu atau biar di bagi sarapan nih?" canda gadis berusaha menyindir. Asa tertawa mendengar ucapan itu. Padahal ia hanya gemas melihat rambut Lea yang sudah panjang ini, menutupi wajah cantik gadis itu.


" are you happy?"


" of course I am.. sejak kapan bikin pancake itu gak bikin seneng?" Jawab Lea dengan cepat. Gadis itu membawa kedua piring pancake itu ke meja makan, dan menepuk bangku disebelahnya. " ayo makan.." ujarnya.


Asa mendengus, Lea benar-benar sudah menjadi tuan rumahnya sekarang. Itu suatu keuntungan baginya dimana Lea sudah tidak membangun dinding. Gadis itu benar-benar bersandar kepadanya sekarang.


setelah insiden 3 bulan yang lalu, dimana Lea berakhir dengan trauma, Asa langsung mencuti perkuliahan gadis itu, dan membiarkan Lea mendapat Psikiater. Walau Lea berkata gadis itu baik-baik saja,


tingkahnya yang gemetar saat bertemu Sehan ataupun Rafa waktu itu, sudah memberikan jawaban yang valid bagi Asa. Asa tak bisa membiarkan itu terus berlanjut saat itu. Ia memang ingin Lea bergantung padanya, tapi jika bergantung kepadanya dengan kondisi tidak normal seperti ini, Lea tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya.


Itulah kenapa Pria 27 tahun itu memutuskan untuk mengajukan cuti kuliah Lea dengan alasan kesehatan mental, dan sekarang, setelah 3 bulan berlalu, Lea menjadi lebih baik. Gadis itu sering membuat kue dan memasak, melakukan hal-hal yang nyaris tak pernah ia lakukan seperti membaca di perpustakaan nasional, pergi ke luar negeri bersama Asa walau tujuan pergi itu untuk pengobatannya.


Kini, gadis itu ikut dalam forum kelas memasak dan kelas fotografi. Asa tak masalah jika Lea ingin kursus lainnya. Toh gadis itu bahagia, apa lagi yang Asa perlu pertimbangkan?


Asa menatap jenaka Lea yang begitu sibuk memakan kuenya. apa Pancake semenarik itu?


" Ah, Kak Asa di kantor fine-fine aja?"


mendengar pertanyaan itu, Asa pun mengerutkan keningnya. " That's all fine, I thought." jawab Asa. Lea mengerucutkan bibirnya, seolah tengah merasa kesal juga berpikir keras. " kenapa, Lea?"


Lea menoleh, namun kembali menatap makanannya, ia bahkan memotong pancake itu, dan menusuk-nusuknya tapi tidak di masukkan ke mulut. " hemm... engga sih, cuma kayak... agak bingunggg.." ucap Lea frustasi.


Asa tersenyum sambil menatap Ekspresi kesal gadis di sampingnya. Hei, Apa Asa berdoaa jika ingin memiliki gadis ini untuk dirinya sendiri? tak masalah bukan? batinnya berkata. " kenapa bingung?" ujar Pria itu sambil menyampirkan anak rambut Lea ke belakang telinga gadis itu.


" Biasanya tuh aku mikirin askep.. maksud aku asuhan keperawatan, diagnosanya, intervensi, terus mikirin pathogenesis dari penyakit atau keluhann pasien,


tapi sekarang kayak gak mikir banyak... aku kemarin kan ke perpustakaan nasional, terus, aku baca buku tentang bisnis.. and you know? maybe I'm a little bit..,"


melihat sikap malu itu membuat Asa ingin tertawa namun ia tahan. Ia ingin mendengarnya secara lengkap terlebih dahulu, dan baru tertawa keras kemudian.


" you're little bit what?"


" aku sedikit tertarik... I meant, Kak Asa 'kan pebisnis, terus kata Mas Farhan, perusahaan kakak itu dirintis sendiri, untuk bisa sebesar ini aku rasa Kak Asa hebat banget. makanya aku sedikit tertarik dengan kerjaan Kak Asa.. kayak wahh kalo orang sehebat ini lagi kena masalah X, solusi yang dia kasih apa ya??"


Mendengarnya membuat Asa mengurungkan tawa dan kini hanya tersenyum manis.


Lea merasa gula darahnya naik tanpa sebab, Kemanisan senyum itu benar-benar berbahaya bagi jantung dan hidupnya.


Tak lupa, Asa mengelus lembut kepala Lea. " Kamu mau coba?"


Lea mengangguk. Ia ingin mencoba semua hal yang menarik perhatiannya. Apalagi, mengingat sepak terjangnya sejak SMA, Lea rasa ia cukup berbakat dalam berbisnis. " Kak Asa tau gak? dulu pas SMA aku tuh Queen of Seller. semua yang aku jual pasti abis! Ada gorengan lah, Usus ayam, donat, bahkan tempat makan juga lakuu." Lea bercerita dengan wajah ceria hingga berhasil menularinya kepada Asa.

__ADS_1


Asa bahkan tersenyum hingga matanya menyipit dan tanpa bisa ia tahan, ia menangkup kedua pipi Lea dan mencubit benda yang sedikit tembam itu.


" kamu gendutan ya?? apa emang semua kue yang kamu buat larinya kesini??" godaan itu membuat Lea mengerucutkan bibirnya, menimbulkan dentuman aneh di jantung Asa secara mendadak tanpa aba-aba.


Keduanya terbisu akan masalah jantung yang sama. Sama-sama bekerja terlalu aktif, terlalu bersemangat sampai-sampai rasanya darah yang begitu panas naik ke wajah, sehingga tak dapat ditutupi keduanya bahwa wajah mereka merah padam.


" Ehm.. pak Asa, maaf ganggu."


Asa langsung melepas tangannya dan bahkan mengangkat kedua tangannya seolah tengah di todong polisi karena kejahatannya. Sedangkan Lea langsung kembali menghadap Pancakenya dan langsung mengunyah banyak makanan manis itu.


" Maaf Lea, pak Asa harus ke kantor karena ada tamu penting." Mendengar ucapan Farhan, Lea langsung menatap kesal Asa, rasa canggung dan berdebar itu terganti akan kekesalannya. Lagi-lagi Asa bersikap santai saat ada hal penting hanya karena dirinya.


" Sini, pancake kak Asa aku yang abisin. Kak Asa langsung ganti baju terus ke kantor. Mas Farhan, kalo Kak asa lelet, langsung seret aja sekarang!" omel gadis itu. Asa tertawa sambil berjalan pergi meninggalkan Lea.


Siapa yang bilang Lea sudah tidak canggung hanya karena kesal? Wajahnya merah padam mengalahkan bayi yang menangis saat baru lahir. Dan itu sangat menggemaskan Dimata Asa.


Saat ia sampai di tangga, Asa teringat akan sesuatu. Ia menoleh kepada Farhan yang berada di belakangnya, " Ajak Lea ke kantor. mungkin dia Bosen di rumah terus." ucap Asa dengan senyum lembutnya. Tentu senyum itu muncul bukan untuk Farhan, Semua orang tahu senyum lembut hanya akan muncul jika bersangkutan dengan Lea.


****


Gadis itu tak henti-hentinya menatap lembaran yang ada di map, berusaha Fokus dan tidak terlihat penasaran akan urusan 3 orang disamping sana, tepatnya di sofa yang berjarak sekitar 5-6 meter dari meja kerja yang ia duduki sekarang.


Tapi ternyata otaknya lebih paham dengan pembicaraan Orang tua Asa dan Putra mereka itu daripada berkas yang sejak tadi ia baca.


Sebenarnya Lea lumayan paham isi berkas itu, tapi Ia lebih ingin tahu pembicaraan Asa. Jiwa penumpang teh menggebu-gebu sekarang. Lagipula, kenapa Asa harus membawanya ke ruangan pria itu alih-alih ke ruang rapat atau dimana pun yang tidak bersama tamunya ini?


" Ya sudah. 'kan kamu udah putus dari model itu... kenapa gak ikut perjodohan yang Mommy siapin aja?"


" it's not a thousand already.. maybe five?" sanggah Wanita cantik yang terlihat sedikit tak yakin akan ucapannya. Pria paruh baya disampingnya mengangkat keenam jarinya dengan wajah datar,


" lebih tepatnya 6 kali." timpal pria itu.


"Pfftt!!"


suara tawa tertahan di bibir itu menarik perhatian ketiga orang ini untuk menatap meja Kerja Asa. Lea tengah menopang dagunya dengan tangan kanan yang juga menutup mulut nakal yang hendak tertawa keras.


Apa ini benar orang tua yang jarang menengok anaknya? Lea rasa tak heran jika Ada begitu kesal kepada orang tuanya, Mereka terlalu santai.


" Kalo emang ada perempuan yang kamu suka, bawa kesini sekarang juga. Suruh Farhan jemput, gampang 'kan?" ujar Ferdian, Ayah Asa.


Ada berdecak kesal. Jika memang semudah itu, Masalahnya Lea ada disini sekarang mana mungkin ia bilang begitu kepada orang tuanya disaat Lea sendiri disini?


lalu apa yang terjadi jika Lea tahu tentang perasaannya? apa gadis itu akan membencinya? merasa dibohongi? atau dikhianati?


" Kak Asa.." panggilan Lea membuat Asa langsung mendongak dan menatap panik gadis itu. " aku mau ke toilet." ucap gadis itu canggung.


Asa menghela nafasnya lega, sambil mengangguk dan menunjukkan pintu di Belakangnya. sepeninggalan Lea ke toilet, Valerie, ibu Asa langsung mengambil duduk disamping putranya dan berbisik, " dia siapa?"


" temennya Bara." ujar Asa seadanya. Kedua orangtuanya sempat terdiam sejenak, mengingat mendiang putra mereka walau hanya beberapa detik sebelum Valerie merangkul leher putra sulungnya.

__ADS_1


" kok bisa sama kamu?"


" ya gitu.."


" apanya??"


Ferdian mendengus melihat putranya memalingkan wajah dari istrinya. Apa memang kelakuan ini menurun darinya?


" Kalo kamu gak dapetin dia selama bulan ini, Ayah langsung Adain pernikahan kamu sama anaknya rekan Papi di Aussie. got it?" ujar Ferdian. Asa menatap tak suka ayahnya.


" Lea bukan barang untuk taruhan. Papi gak bisa seenaknya kayak gitu sama aku atau Lea." ucap pria itu tegas. Valerie menahan senyum bangganya melihat Anaknya ini kalau sudah bersangkutan dengan hak milik berubah dari anjing penurut menjadi serigala buas, hahaha..


Ferdian menyesap tehnya sambil mengendikkan bahu. " kalo dia seberharga itu, kamu gak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada selama ini."


Valerie mengangguk. melihat seberapa akrabnya Lea dengan Asa yang ia ketahui terbiasa bersikap cuek dan dingin, Pasti telah banyak kesempatan yang Asa buang hanya untuk mempertahankan situasi tidak jelas seperti sekarang. " Ingat Sa, siapa cepat dia dapat. Kamu udah berakit-rakit terlalu lama, tapi gak nyampe-nyampe ke hulu, menurut kamu karena apa?"


" karena gak tau tujuannya kemana. atau mungkin karena gak punya jangkar buat menepi dan takut gak bisa kembali?" jawaban yang terdengar seperti dugaan, membuat ketiga orang itu menoleh dan mendapati Lea tersenyum canggung.


Gadis itu menggaruk lehernya yang tak gatal agar tidak seperti kambing cengo yang bodoh. Valerie menjentikkan jarinya menandakan bahwa ia membenarkan jawaban Lea, dan Ferdian bertepuk tangan ringan untuk mengapresiasi kepintaran Lea.


" Dia aja tau kamu gak tau tujuan kamu. ini Kamu yang bego atau dia yang gak peka sih Sa?" ujar Valerie gemas.


" Mii!"


Ferdian menepuk tangannya sekali dengan begitu keras, lalu berdiri. " Udah Ya, Papi sama Mami kesini cuma nawarin pernikahan cepet atau pernikahan yang emang kamu mau. Kami tunggu sampe bulan depan. Nama kamu siapa?"


mendapat tatapan secara langsung dari pria tinggi ini, Lea langsung menegapkan posisinya, " Ae-Aeleasha Gayatri, pak."


" panggil Papi aja, kamu temennya almarhum Bara 'kan? Papi sama Mami pamit dulu, titip Asa ya. Mi, ayo." Ujar Ferdian sambil mengulurkan tangannya kepada Valeria dan pergi meninggalkan Asa yang frustasi dan Lea yang sedikit bingung.


Gadis itu menatap heran Asa yang bertingkah seolah tengah terlilit hutang dan ia tak punya untuk membayarnya besok. " Kak, kenapa sih?" heran gadis itu sambil mengusap kepala Asa yang berada tepat didepan perutnya. Tanpa diduga, Asa menarik pinggang Lea dan menyenderkan kepalanya pada perut gadis itu.


" Kak?" bingung Lea.


dibilang kaget, tentu saja Lea kaget. Tapi Asa belakangan ini memang suka bermanja-manja seolah dirinya adalah kucing menggemaskan. Memang menggemaskan, tapi tak ada Kucing yang bersifat posesif sampai bisa memeluk perut seorang gadis seerat Asa ini. Lea mengelus Asa, berusaha menampik debaran konyol akibat tingkah jantungnya yang tidak bisa diam dan memfokuskan diri untuk menemukan jawaban atas sikap aneh Asa ini.


" jangan tinggalin Kakak."


Lea mengerutkan keningnya. Apa ia terlihat mampu dan mau meninggalkan pria ini? Yang ada juga Lea yang takut Asa meninggalkannya karena terlalu merepotkan pria itu.


Lea mengapit kedua pipi Asa dan menariknya lembut, membuat wajah tampan ciptaan Tuhan itu mendongak berhadapan langsung dengan wajahnya.


Rasanya deja vu.


" Kak, kalo aku ninggalin Kakak, emang aku mau kemana? ke alam baka? gausah minta hal yang emang udah dimiliki deh... gabut banget sih?" gemas Lea.


Asa tersenyum senang mendengarnya. benar, Untuk apa meminta jika Lea Memang sudah jadi miliknya?


iya 'kan? maksud ucapan Lea barusan memang begitu 'kan?

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2