
" Raia, kenapa kamu gak ikut pulang sama Sam?" Tanya Wanita berperawakan asia-barat itu. Rambutnya tak begitu pendek, tapi justru hal itulah yang membuatnya terlihat sangat menawan di kalangan wanita karier LA. I mengelus dada bidang pria yang sejak tadi ia jadikan sandaran.
Geraia hanya menggeleng kepalanya, matanya terus menatap langit-langit begitu lekat. Rasanya ada yang kurang, tapi Raia tak tahu apa itu. Seolah ada sesuatu yang tertinggal, itulah sebabnya ia tak ikut pulang bersama Leksa, adiknya.
" kamu gak mau ngenalin aku ke Mommy Daddy kamu?" Geraia mengerutkan keningnya. kenapa tiba-tiba membahas hal ini lagi? " Gak, dan Aku gak ngerasa harus."
" oh, c'mon Rai! mau sampe kapan aku diumpetin begini?? toh kamu kenalin gak bikin aku langsung jadi istri kamu 'kan?"
Raia meringis, menahan emosinya yang ingin meledak didepan Michelle, kekasihnya. sudah berbulan-bulan ia merasa ada yang aneh dan kurang, hingga membuatnya frustasi dan tak tahu harus apa, bahkan sampai tak ikut pulang ke Indonesia dengan Leksa dan kini ia terjebak di satu unit apartemen bersa Michelle yang terus mengajaknya 'making out'.
" Stop it Michelle!!" sentak Geraia. Pria itu mengangkat tubuh Michelle dengan memegang kedua sisi pinggul wanita itu, dan menopangnya di bahu. Michelle tertawa gemas, berpikir bahwa ia akan dibawa ke kamar pria yang mengagumkan ini, namun ternyata dia dikeluarkan dan di biarkan terduduk di lantai koridor apartemen sebelum Geraia membanting pintu apartemennya.
bukan, ternyata memang bukan Michelle yang membuatnya enggan pergi dari LA. lalu apa?? siapa??
Dilain Sisi, Pria yang lain, yang tak berbeda jauh tingginya menatap figura dihadapannya dengan seksama. " Sama." Gumamnya. Ia sudah mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mengawasi seseorang yang menarik perhatiannya, dan juga mengambil sesuatu dari orang tersebut secara diam-diam.
Ia tak bisa dihantui rasa penasarannya begitu lama. Ia mengambil ponsel dari sakunya, dan menghubungi seseorang yang dibutuhkannya. " Lea, let's get engaged." Ucap pria itu lugas.
Di lain sisi, Seorang pria tengah duduk diam memperhatikan figura di meja kantornya. Pikiran yang sejak beberapa hari yang lalu ia singkirkan dan ia abaikan kembali terpatri dengan jelas. " Sama."
Walau ia berusaha menyingkirkan pikiran tersebut, Orang itu tak bisa menahan rasa penasarannya hingga akhirnya ia sudah menyuruh beberapa orang suruhan untuk mengawasi si penarik perhatiannya itu dan bahkan mengambil sesuatu secara diam-diam.
Ia harus menuntaskan rasa gelisah dan penasarannya.
...****************...
Lea menatap layar laptopnya di meja ruang tengah apartemen Daniel, sedangkan adiknya hanya duduk diam memperhatikan layar laptop kakaknya. " SMA mana aja gapapa mbak... yang penting negeri biar mbak gak perlu bayar sekolah aku.."
Lea mengangguk paham. Ia memang berencana memasukkan adiknya ke sekolah negeri. Tapi Ia tak tahu perkembangan akreditasi sekolah sekarang ini. " SMP mbak aja mau gak?"
" SMP Semesta?"
" iyaa.. Setau mbak disana kalo mau pindahan pake test mutasi. kalo lolos kamu bisa diterima disana. mau?"
" gak perlu nyogok kan?"
" engga... kalo emang perlu, mbak juga gak akan mau. Yang penting kamu belajar aja buat mutasinya. Mbak bakal kabarin jadwal ujiannya, ok?"
Daniel mengangguk paham sambil tersenyum. Apa lagi yang perlu ia keluhkan? Bahkan Kakaknya tak pernah mengeluh walau diperlakukan tidak adil, Dan ia pun hanya bisa menonton tanpa mampu membantu kakaknya sejak dulu.
Setelah membantu Lea kabur dari Roni si tua Bangka hidung belang itu, Daniel kena tampar dan caci maki ayahnya, Juga dikurung di rumah selama akhir pekan. Hanya karena itu, Daniel sedikit merasa dendam pada ayah dan ibunya.
Bagaimana dengan Lea? yang bahkan diperlakukan lebih parah darinya dan bahkan sudah sejak lama?
" Makasih ya mbak..." ucap Daniel lembut. Lea menoleh dan tersenyum lembut. Ia mengusap kepala Daniel, berharap adiknya tidak memiliki banyak pikiran, tidak sepertinya.
Walau sudah mulai sibuk dengan mengurus adiknya, rumah Asa, kantor Asa, dan hubungan perusahaan dengan perusahaan asing, Lea masih memikirkan harapannya pada Asa. Apa sesulit ini merelakan.
Lea mulai lelah berharap. Ia lelah melewati batasan yang dulu ia buat. Saat Ia melewati batasan itu, Ada Asa yang mau mendampinginya. Siapa yang menyangka ditengah jalan luar perbatasan itu, Asa pergi dan sampai sekarang belum kembali?
" Ya!! GAYA!!" Teriakan Leksa setelah membuka pintu bersandi itu dan berlari kecil memasuki apartemen tersebut membuat Lea tak mengerti lagi bagaimana caranya agar tetangga satu itu bisa sedikit lebih tenang. " Kak Leksa kenapa??"
" Abang gue Tunangan masa!! tiba-tiba gitu!!" ujar Leksa tak percaya. Lea mengerutkan keningnya. Ah... kakak Leksa yang tidak jadi ikut pulang itu? yang masih di LA?
" Oh ya? congrats dong... Dia pasti lebih tua dari Kak Leksa 'kan? akhirnya menemukan tambatan hati..,"
" Iya... masalahnya, Dia mau balik ke Indonesia dulu. katanya besok berangkat. Sama ceweknya."
__ADS_1
Lea mengangguk paham. " Mau bikin welcome party? maybe he likes it?"
" boleh!! ayo! di unit Lo tapi ya?"
" Please ya, yang dirayain siapa, apart siapa yang dipake.. gak jelas.."
" apart gue lagi jadi kandang babi hehehehe.."
Lea mendelik mendengar ucapan Leksa yang begitu jujur. " Yaudah, Kak Leksa siapin pestanya, aku beresin apart kakak. sana belanja sama Daniel."
...****************...
Lea mengerutkan kening saat melihat laporan yang ada ditangannya ini. " Apa aku terlalu banyak ngabisin waktu buat Daniel ya?? kok ada penurunan?"
Farhan menggeleng kepalanya. " Itu masih melewati batas target Bu, Walau memang sedikit turun jika dibandingkan bulan lalu."
" itu berarti penurunan. Kalo kayak gini, nanti pas kak Asa pulang, kerjaannya bakal banyak."
Lea menghela nafasnya gusar. " Rencana meeting di luar itu kemana?"
" Ke Macau, dan Seoul lagi Bu. Karena pihak Seoul ingin membicarakan produk otomotif terbaru kita ZF-3012."
" ahh... iya-iya... Itu kapan ya? soalnya besok dari siang sampe malem aku punya acara sendiri."
' tapi ibu ada meeting sama tim Produksi dan pemasaran besok siang Bu, Dan ada Meeting juga dengan Pak Orias besok siang juga."
Lea mengerutkan keningnya. " Orias? kak Orias? buat?"
" Bisnis perhotelan kita memang ada kerja sama dengan pihak perusahan Lev.Corp Bu, Dan beberapa bulan yang Lalu memang ada perencanaan untuk menambah fasilitas dan layanan di perhotelan kita dengan mereka."
Lea memijit pangkal hidungnya. kenapa mendadak padat seperti ini? " Coba tanya sekretaris Kak Orias, bisa dimajuin gak, jadi malem ini? Aku benar-benar gak mau diganggu besok siang sampe malem."
" Sore ini juga. majuin aja semua jadwal besok siang sampe malem ke hari ini atau besoknya. Jadi aku ke Macau kapan?"
" Lusa Bu. Tapi kalau ibu mau diundur satu hari masih bisa."
" Gapapa. lusa aja. lebih cepet selesai lebih baik. Boleh bawa adik aku gak? tiketnya aku bayar pake uang aku aja."
" Uang perusahaan ini uang ibu juga kok."
" Gak... ini punya Kak Asa."
Farhan terdiam. Walau Lea bekerja sekeras ini, Gadis itu tak pernah menyentuh uang hasil jerih payahnya berbulan-bulan. Padahal Farhan sudah mengatakan bahwa ia sudah memisahkan antara uang perusahaan dengan gaji Lea sendiri. " Tapi kerja anda memang harus dibayar Bu. Saya sudah memisahkan Gaji anda dalam satu kredit atas nama anda. Tidak apa-apa?"
Lea memijit kepalanya. Kalau masalah uang, hutang Budi, dan sejenisnya, Kepala Lea serasa mau pecah. " Kalo gitu, tarik black card aku. tukeran aja."
Farhan tersenyum sambil meraih tas yang Lea sodorkan. Ia memasukkan satu kartu kredit yang selalu ia bawa itu, dan tidak mengambil kartu cantik nan langka yang Lea relakan untuk ia tarik. itu Hak Lea. Asa yang memberikannya.
Lea sendiri tak pernah menyangka bahwa Asa akan memberikan beban tentang uang kepadanya seperti ini. Mungkin lebih baik jika Asa menghilang tanpa menurunkan harta dan jabatannya kepada Lea. Lea tak merasa ia berada disamling pria itu karena uang, walau memang hubungan diantara keduanya memang berhubungan dengan Uang.
Lea pun semakin tak menyangka saat Orias tersenyum miring sambil melihatnya dan mengatakan bahwa Ia memang sangat menarik. " Maksud Kak Orias apa?*
" Wow, jadi sekarang kita gak dalam pertemuan bisnis?"
" Kakak duluan yang membicarakan hal diluar bisnis. Sekarang aku tanya, kita mau diskusi bisnis atau hal random?" tanya Lea bingung sekaligus jengah. Ada apa dengan Orias. Lea merasa ucapan memuji itu terdengar sarkas dan menyindir.
Orias menggoyangkan gelas berisi Wine yang ia pesan sejak tadi. Ia sendiri merasa sangat lucu karena ia rela membatalkan makan malam pentingnya bersama seseorang hanya demi memenuhi permintaan Lea untuk rapat malam ini.
__ADS_1
" Oh, C'mon Lea ... kamu emang bener istimewa tau! kesulitan bayar uang kuliah, tiba-tjba ditawari bantuan oleh pengusaha sukses, lalu pengusahanya kecelakaan dan hilang, at the end, kamu bahagia dengan segala harta dan kekuasaan yang dimiliki Asa. bukankah kamu
emang menarik?"
Lea hanya diam. Ada apa dengan Orias. Sejak dulu Lea tak.pernah paham dengan semua tindakan Orias. Mengatakan rahasia Asa kepadanya, berusaha mendapatkannya dan kini menghinanya secara halus.
" ah... tunggu-tunggu... kalo gak salah sih, Lo berhasil narik perhatian calon manajer perusahaan Luar sampe akhirnya jadi bawahan Lo 'kan?"
Lea mengerutkan keningnya. Apa maksud pria ini? siapa? Lea tak mengerti. " Siapa namanya? Ge...ardion? maybe? Terus-terus!!..." Orias terlihat begitu antusias sambil menunjuk Lea dengan jarinya beberapa kali, seolah teringat akan sesuatu yang sangat menarik. " Lo juga lagi ngedeketin Cowok yang mirippp banget sama adeknya Asa, si Albara... iya gak sih? Lo tau gak? dia anak pengusaha terkenal di LA.
Gila, Le... Lo benar-benar jadiin Asa batu loncatan buat Lo ya...."
Lea menatap datar Orias. Apa pria ini mengawasi semua gerak geriknya? Apa pria ini sudah gila? cari mati ya?
" Saya rasa anda mabuk, saya akan mengatur jadwalnya ulang saat anda sudah lebih waras." pamit Lea sambil bangkit dari duduknya.
Orias tersenyum miring sambil menatap punggung yang akan tertutup oleh pintu yang baru terbuka. " Keadaan Lo sekarang... ngorbanin hidup Ashilla." ujar Orias dingin.
Lea menoleh, menatap wajah dingin Orias dengan sedikit gemetar. " Apa maksud Kakak? kakak gak tau gara-gara kak Ashilla aku nyaris gila!!" sentak Lea tak terima. Orias berdiri dari duduknya, tertawa kecil sebelum ia melepar gelas yang ia genggam sejak tadi ke arah pintu tepat dibelakang Lea.
Prang!!!
Lea berjengit karena terkejut, menatap tak percaya Pria di sebrang sana. " Ashilla bunuh diri Gara-Gara Lo brengsek!!! Gue akan bikin Lo melakukan hal yang sama seperti apa yang Ashilla alamin!! Lo pegang kalimat g--"
" Aku gak perduli." Ucap Lea sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan ruang VIP itu dan berjalan dengan angkuh sepanjang koridor. Lea menghubungi Farhan yang mungkin berada di parkiran bawah,
" Maaf Bu, Mobilnya tadi mogok saat saya mau isi bensin. Mau saya pesenin taksi Bu?"
" gausah. aku pesen sendiri aja. Mas Farhan langsung pulang aja, nanti aku WA." Ujar Lea sambil menghela nafasnya kasar.
Gadis itu menatap rintikan hujan yang cukup deras di depan restoran ternama itu. Lea tak ingin pulang. Apa benar dirinya menggoda banyak pria? apa benar Dion melepas kesempatannya bekerja di luar negeri hanya untuk dirinya?
Apa ia memang seperti itu tanpa sadar? Lea tak tahu. Selama ini Ia hidup memang sering memikirkan ekonomi. Memikirkan dirinya yang kesulitan karena orang tua yang enggan membayar kuliahnya, Lea berpikir jika mereka tak bisa, maka dirinya harus bisa.
Lea tak pernah sekalipun mengutuk mereka, Ia juga tak mempermasalahkan beberapa orang yang memandangnya rendah karena terlihat miskin. Gadis itu tak perduli. Yang terpenting adalah dirinya masih bisa bernafas untuk berusaha memenuhi targetnya. Menjadi kebanggaan orang tuanya, bebas dari segala kekhawatiran yang selalu menghantuinya tentang membebani keluarganya, menghalangi adiknya dan lainnya.
Tapi bertemu dan mengenal Asa membuat Lea sadar. Dalam proses usahanya, ia tak pernah menghargai dirinya sendiri. Asa begitu menghargainya, dan bahkan memohon kepadanya untuk mementingkan diri sendiri.
Tanpa sadar wajah ber-make up itu sudah basah dengan air mata. Lea tak kuat lagi. Ia tak tahu dirinya tengah kemana sekarang. Orang yang mengajak dirinya keluar dari perbatasan mendadak hilang. Ia tak tahu harus kemana dan harus apa.
Lea merasa tersesat. Gadis itu berjongkok di depan Restoran, tak memperdulikan percikan air yang bertemu tanah didepannya menyentuh kulit dan bahkan mengotori pakaiannya.
"Aelea?"
Lea mendongak dan menatap sendu orang yang memanggilnya. Gadis itu mengerutkan keningnya sambil berdiri menatap bingung orang tersebut sambil mengusap air matanya, " Anda.. Kak Gemada 'kan? anaknya om Agam.. ah, maaf.. harusnya saya manggil pak ya? saya kebiasaan sok kenal, hehehe..," Lea tertawa hambar sambil terus mengusap air matanya yang tak mau berhenti keluar.
Gemada tak bergeming ataupun terlihat memiliki niat untuk merespon ucapan Lea. Yang ia pikirkan sejak tadi,
Apa yang membuat Lea menangis seperti ini? Dari informasi yang ia dapat, Lea termasuk perempuan tegar yang memiliki seribu satu cara ajaib hingga bisa bernafas sampai sekarang. Lalu apa yang membuat gadis ini menangis sesenggukan, bahkan didepan dirinya yang masih asing bagi gadis itu?
" Maaf... Saya gak bisa berhenti nangis..." Ucap Lea. walau begitu, Tangisnya justru semakin menjadi. Merasa menyedihkan saat ia menangis pilu seperti ini didepan Pria yang baru ia kenal beberapa hari ini.
Dibawah Langit malam yang penuh berawan hingga terlihat sedikit merah muda kusam dan kelabu, juga Rintikan Air yang menghantam payung hitam besarnya, pertama kalinya Gemada mengambil langkah tanpa memikirkan logika, teori, ataupun Untung-rugi.
" Urusan saya sama kamu. Ayo saya antar pulang." Ucap Gemada datar.
Satu langkah ini, Gemada harapkan akan bisa membayar sebuah lubang besar yang sejak dulu menganga dan ia abaikan.
__ADS_1
Bersambung...