My Sugar Brother

My Sugar Brother
How Mens take care a little boy


__ADS_3

Ia sibuk melempar tamparannya kepada pipi yang tirus itu. Terkadang ia memilih untuk meremas dagu kotak didepannya, dan akhirnya menggunakan jurus andalannya,


Menggigit hidung mancung berchoco chip milik ayahnya.


" Aksa.... Ayah masih ngantuk.."


" Bubun elgi... Aca yapell.." (Bubun pergi, Aksa laperr) rengek sang putra. Asa mengangguk paham sambil membalij punggungnya dan memilih melanjutkan tidurnya. Nanti juga anaknya tidur lagi, begitu pikir Pria itu.


Tapi kesunyian tanpa gerakan sedikitpun membuat Asa merasa heran dan langsung membalik tubuhnya kembali,


Matanya langsung terbuka lebar dan langsung duduk. Ia mencari-cari Aksara yang kini hilang tanpa jejak,


" Sa? Aksara?"


"BWAAAA!!" Teriakan riang yang muncul dari arah bawah kasur membuat Asa sedikit terkejut sebelum dirinya tertawa mendengar tawa riang Aksara saat ini.


" Ayah kaget lho... Kirain anak ayah jatoh..." Ucap Asa sambil mengangkat tubuh bayi berumur 2 tahun 4 bulan itu untuk duduk diatas pangkuannya.


" Aca yapell Yayahh.." (Aksa laper ayahh...) ulang bocah kecil itu dengan wajah yang sedikit jengkel. Apa ayahnya tidak mengerti ucapannya? Bahkan Bundanya tak pernah membuatnya kelaparan seperti ini.


" Yapel? Mau Cucu? ayah punya Cucu lho.." tawar Asa sambil tersenyum manis. Ia mengangkat kedua alisnya bersamaan dan menatap guyon anaknya itu.


Aksara menatap bingung ayahnya. " Yayah unya ucu?" (Ayah punya susu?)


Asa mengangguk dan membuka kaus tipis rumahannya. " Ucu Na mana?" (Susunya mana?) Heran Aksara melihat dada bidang yang kotak itu, memang mirip, tapi sepertinya tidak empuk seperti milik bundanya.


Asa menunjukkan putingnya dan tersenyum. " ini... Susunya disini, enak lho... Lebih enak daripada punya Bubun." Ucap Asa yang kembali meyakinkan Aksara untuk mencoba 'susu'nya.


Aksara mendekati dada bidang Asa, menatap bingung ayahnya dan kembali menatap Pitung dada ayahnya yang semakin terlihat berbeda dari milik bundanya.


Saat bibirnya menyentuh dada itu, dan mencoba menghisapnya, Alis bayi kecil itu langsung mengernyit, tertekuk dengan sangat jelas dan berhasil membuat tawa ayahnya pecah.


" AHAHAHAHAHA! Susu ayahkan udah abis... Makanya Aksara jangan bangun kesiangan..." ledek pria yang sebentar lagi berkepala tiga itu.


Aksara, si bayi mungil tak berdosa itu menatap ayahnya dengan pandangan kesal. Siapa yang bangun siang? Bahkan Aksara yang membangunkan ayahnya! Aksara dengan wajah penuh kejengkelannya turun dari pangkuan Asa dan mencoba keluar dari kamar ayahnya walau ia memang tak bisa. Ia yang berdiri bahkan belum mencapai setengah dari ketinggian tuas pintu.

__ADS_1


Asa tak mengerti mengapa di Minggu pagi ini aksara sudah membuatnya tertawa berkali-kali.


" Jadi siapa yang laper?" Ucap Asa sambil berjongkok dibelakang Aksara yang menghadap pintu, seolah engga meminta bantuan ayahnya.


"Aca.." ucap bocah itu dengan ketus. Asa terkekeh pelan, berusaha agar putra kecilnya tidak mengetahui apa yang ia lakukan sekarang, menertawakannya. " Yaudah. Ayah masakin. Ayah kan lebih jago masak daripada Bubun." Ucap pria itu lagi.


" Nda mau! Acem aya ucu Yayah!" ( Engga mau! Asam kayak susu Ayah!)


Asa tertawa lagi sambil mengangkat tubuh kecil Asa untuk digendongnya. " Beneran.. kan kita bikin sereal doang. Tapi serealnya lebih banyak dari yang bunda biasa kasih. tapi jangan bilang-bilang bunda, ok?"


Mata yang penuh kekesalan itu kini berubah penuh dengan binar kesenangan. " mang Boyeh?" (memang boleh?)


Asa menggeleng kepalanya. " Tapi kalo sama ayah boleh. Mau gak?"


Binar senang itu meredup. " Bubun nyanci edih.." ucap bocah itu.


Aksara masih ingat ibunya tadi pagi sebelum pergi berkata,


"jangan mau diajak ayah ngelanggar larangan bubun ya? Bubun 'kan sayang Aksa, makanya bunda gak mau Aksa sampai sakit kalau Aksa gak ikutin saran Bubun.


Gapapa sih kalau Aksa gak mau ikutin ucapan Bubun. Tapi nanti kalau Aksa sakit atau kenapa-kenapa, nanti Bubun nangis Samapi gak bisa tidur."


Asa tersenyum mendengar ucapan bijak anaknya. Wahh.. sepertinya ia akan punya saingan sengit untuk memperebutkan Lea dirumah ini.


Baru saja sarapan terlambat dan alakadar dari Bapak Asa siap untuk disantap, pintu rumahnya terbuka lebar dengan keras hingga membuat Aksara berjengit kaget.


"Anyong hasyimika! Om GI yang tampan paripurna, the world wide handsome datang menyelamatkan kalian yang kelaparan!!!" Teriakan heboh berlebihan itu disambut meriah oleh Aksara yang bertepuk tangan seoalah sedang menyambut seorang Badut.


Asa hanya memijit pangkal hidungnya yang mendadak pening saat ini. Sedangkan Aksara sekarang sudah berada di pangkuan Agus yang entah sejak kapan duduk di sana.


"Bang, anak gue mau makan."


" Giyatsa yang masakin. kalo sama Lo makan Indomie yang ada." ucap pria itu ketus.


memang Asa patut curiga dengan Agus. sejak bertemu Aksara dulu, saat anaknya itu masih berumur beberapa Minggu, Agus sering bertingkah posesif kepada anaknya ini. padahal Asa sebagai ayahnya tidak seposesif Agus si Bujang lapuk tapi berkualitas ini.

__ADS_1


" anak gue bang. bukan anak Lo. makanya nikah, biar punya anak."


" Lo kan punya anak sebelum nikah. kenapa gue harus nikah dulu buat punya anak?" balas Agus santai tapi menohok Asa hingga pria berbuntut satu itu kini memilih bungkam.


" Om jujus, Janan mayahin Yayah... kacian Yayah.." ujar Aksara sambil mengusap lengan Agus seolah tengah meredakan emosi orang yang tengah marah. Mendengar pembelaan putranya, Asa mengulum senyumnya. Ahh.. apalagi yang Asa inginkan hari ini? oh iya, pelukan Lea, hehehehe.


Agus tersenyum manis kepada Aksara dipangkuannya sambil menyuapi sereal bocah itu. " Ayah kamu itu emang breng-- patut diomelin. dulu dia sering bikin bunda nangis tau." adu Agus dengan senyum manisnya.


Asa menatap nyalang sahabatnya itu. " Jan buka kartu bang.."


Agus hanya mengendikkan bahunya acuh. sedangkan Aksara kini menatap tajam ayahnya. " Yayah nda Boyeh jahad cama Bubun!!" Omelan keras itu membuat Agus sedikit berjengit dan Asa nyaris tersedak makanannya.


Agus terkekeh. Anak sekecil ini sudah seagresif seperti sekarang, jika Aksara tau apa yang Asa lakukan kepada Lea dulu, mungkin Aksara akan membawa pisau kepada ayahnya sendiri. mungkin akan menjadi hiburan komedi bagi Agus.


" Aksara... gak boleh teriak begitu ke orang yang lebih dewasa, Bunda pernah kasih tau gitu ke kamu kan?" Giyatsa menatap sedih Aksara seolah Aksara membuatnya bersedih. Sedangkan Aksara yang diberi nasihat hanya menunduk.


Giyatsa mendekati Asa, " kalo Ayah nakal, Biar Om GI yang hukum. Aksara jadi Anak baik aja, biar Bunda seneng ok?"


Aksara mengangguk cepat sambil kembali menatap Agus, meminta disuapi kembali.


" susunya Aksa ada?" tanya Agus kepada bocah itu. Memang dasar Agus yang terlalu bodoh untuk menanyakan hal itu kepada Aksa,


" Om ajus unya Ucu? ucu Yayah acem!" ucap Aksara dengan imut. Agus hanya terdiam sejenak. yah... apapun itu untuk keponakan imutnya.


" ada.." ujar pria itu dengan senyum canggungnya. sedangkan Asa hanya menopang dagunya dengan senyum senang karena akan melihat pertunjukan badut yang begitu langka."


...****************...


Wanita itu memasuki rumahnya dengan langkah cepat sekeluarnya ia dari mobil. ia melepas semua belanjaan bulanannya di lantai, dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya, khawatir anaknya bermain hal yang aneh dengan sang suami.


terakhir kali Lea menitip Aksara kepada Asa, Suaminya itu malah mengajak anaknya berenang di akuarium, dan kali terakhir sebelumnya, Aksara dibiarkan bertengkar dengan kucing Rafa yang gemuk itu, kata suaminya, " ini adalah pertarungan sparta!"


" Mas Asa, Aksara re-- ASTAGA!! INI KENAPA ANAK AKU MALAH NGEMPENG KE KAMU?!"


......................

__ADS_1


...Bonus Part 1 - End...


......................


__ADS_2