
Lea tidak mengurung dirinya di kamar seperti kebiasaannya saat terpuruk, tapi ia menjadi sangat dingin kepada siapapun. Semua Tim produksi Yang mengikuti rapat dengan CEO muda itu harus berterimakasih kepada Agus karena telah membuat Pimpinan mereka menatap tajam mereka dan mengatakan hal pedas seperti,
" Saya udah makan bahan percobaan kalian. harga segitu memang buat orang kaya gak mahal. Tapi rasa sama harganya, gak sinkron. kalo kalian kasih harga segitu, saya bakal bilang makanan kalian sampah, hotel kita sampah, Nextdoor perampok!" Seperti itu ucapannya.
Bahkan Rapatnya belum selesai Namun Lea sudah keluar. Dion hanya mengangguk saat Lea berkata bahwa sisanya diserahkan kepada pria pintar itu.
Farhan yang terkejut melihat Lea sudah keluar langsung mengekor Lea. " Hari ini udah gak ada rapat, kalau Anda mau pulang, biar saya Antar." Ujar Farhan sesampainya diruang Lea. Gadis itu menatap Farhan sejenak sebelum ia menggeleng kepalanya. " Boleh minta waktu sendiri? aku mau keluar sebentar, Tapi gak mau dianter atau ditemenin siapapun..." Pinta gadis itu lemas.
Ia lelah
tidak hanya fisiknya tapi batinnya juga lelah. Mengingat fakta bahwa Asa bahkan belum ditemukan dan Agus menyerah akan hal itu, Lea merasa setengah harapannya sirna dan itu menguras tenaganya untuk melakukan hal-hal melelahkan ini.
Farhan mengangguk. Giyatsa sempat memberitahunya bahwa kemungkinan Lea akan absen ke kantor, Tapi saat Ia bertemu Lea dengan wajah kusut dan datar di rumah tadi, Ia tahu gadis ini pasti memaksakan dirinya.
" Tapi tolong, kabari saya atau pak Dion kalau ada yang gak beres sedikit saja." Lea mengangguk cepat dan tersenyum tipis.
Sebelum ia keluar, Ia menoleh kepada Farhan dan menatap lekat pria itu, " Jangan kasih tau Kak Dion aku pergi sendiri. bilang aja Mas Farhan yang anter terus balik lagi."
Sepeninggalan Lea, Farhan merasakan tatapan tajam dari belakang, Ia menoleh, namun tak menemukan apapun. Apakah ada yang mengawasinya?
****
Lea menatap jalan raya yang ramai namun tidak begitu padat. Gadis itu menopang dagunya di pinggir jendela dan menghela nafasnya. Sudah lama ia tak berada disini. di dalam bis yang tidak begitu ramai, di tengah ibu kota yang tidak begitu sibuk karena saat ini masih jam kerja. Ia merindukannya.
Ia juga tak mengira hal ini akan memperbaiki moodnya yang hancur sejak semalam.
Gadis itu turun di halte ternama dan berjalan lumayan jauh untuk mencapai tujuannya. Perpustakaan nasional. Ia tersenyum cerah saat melihat Puncak gedung itu dari kejauhan. Angin musim kemarau yang menyejukkan panas matahari siang Jakarta membuat Lea merasa semesta tengah mendukungnya untuk kembali senang dan melupakan kesuraman yang lalu-lalu.
Baru saja menutup loker tempat ia menaruh tasnya, Lea bertemu pandang dengan seseorang yang ia kenal. " Eh, Kak ba-- Kak Leksa maksud aku, hehehe.." Senyum canggung gadis itu tak melunturkan senyum Leksa yang manis saat ini.
" Kenapa CEO perusahaan besar malah ke perpustakaan di jam kerja gini ya?"
Lea mengusap lehernya canggung sambil tertawa kecil. " Kerjaannya udah kelar.. terus ya gitu... lagi mumet jadi cari refreshing place hehehe.."
" Ahh... So reading a book makes you feels Refresh?"
Lea tersenyum sambil mengangguk. Keduanya melangkah bersama menuju Lift. " Kak Leksa? emang suka baca buku atau gimana?"
Leksa tertawa kecil sambil menggeleng kepalanya. " Engga deh.. Udah pusing baca buku selama kuliah. Cuma mau lihat-lihat aja... kebetulan emang lagi liburan ke Jakarta."
Lea mengerutkan keningnya. " Kak Leksa gak tinggal disini?"
__ADS_1
" Nanti... abis urusan kepindahan gue sama Abang selesai, kita bakal pindah kesini. Beberapa tahun lalu sih tinggal di LA Cuma sempet ke Jerman karena dapet beasiswa kuliah disana. Sekarang mau tinggal disini lagi." Penjelasan Leksa membuat Lea merasa Lega dan juga paham. Pria ini begitu keren dimatanya.
Leksa menatap jenaka Lea, " Dipikir-pikir lagi, Lo kayaknya gak pernah sebut nama Lo ya? cuma gue doang nih yang ngasih tau nama?" Godaan Leksa membuat Lea tersenyum malu dengan pipi yang sedikit memerah.
" A-aku.. Aeleasha Gayatri.."
" Ele? aneh tapi lucu.." Lea menggeleng kepalanya dan menarik lembut Tangan Leksa, membuka telapak tangan besar itu, dan menuliskan namanya, " Pake A dulu baru E.. jadi Aeleasha.. tapi Sebutnya E Aja." gadis itu membuat pola namanya, sambil menjelaskan hal tersebut.
" Ahh.. kayak huruf Korea itu ya? unik ya nama Lo.." Mendengar pujian itu membuat Lea merasa senang. Dulu Albara juga menyebut namanya unik.
Leksa menatap langit-langit Lift dan mengangguk kecil sendiri, membuat Lea bingung apa yang dipikirkan pria ini. " berarti Lo dipanggil Gayatri? atau justru Elea?"
" Lea kak, hehehe.."
" tapi gue maunya manggil Gaya.. gemes dengernya. Ya, ya, Ya. hahahaha... gapapa 'kan?" Leksa menoleh dan menatap Lea dengan senyum gembiranya. Tentu hal itu menular kepada Lea yang kini mengangguk dan tersenyum manis.
Niat Lea untuk membaca buku langsung sirna karena Leksa mengajaknya berkeliling perpustakaan besar itu, Mereka naik-turun Lift, dan beberapa kali menaiki tangga.
" Bener-bener keliling coba..." Keluh Lea sambil menarik nafasnya dalam karena lelah menaiki tangga. Leksa tertawa melihat wajah jengkel Lea. " Biasa aja mukanya... AHAHAHAHA!!"
" Sstt!!!" peringatan dari beberapa pengunjung yang terganggu membuat Lea dan Leksa langsung menutup mulut mereka dengan kedua tangan sambil menatap kikuk satu sama lain. Detik berikutnya, mereka tertawa kecil seperti dua anak bodoh yang tidak tahu aturan perpustakaan.
Pria itu tertawa kecil. memberikan sebuah senyuman yang sudah lama Lea rindukan. Senyum pria itu sama dengan senyuman yang Lea lihat saat mereka membuat 'janji kematian bodoh mereka.'
" Kali ini, Lo mau kemana Ya?" pertanyaan yang baru dan panggilan baru itu membuat Lea tak bisa menahan senyumnya.
" Ke Cafe mau? ada Cafe rekomendasi aku. disana kopinya unik-unik." Ujar gadis itu. Leksa tersenyum sambil mengangguk. Pria itu menggapai tangan Lea dan menggenggamnya. Membawa gadis itu untuk pergi bersamanya lebih cepat.
Berkat arahan Lea dan Cara berkendara ugal-ugalan Leksa, Mereka sampai saat Langit biru yang cerah tadi mulai menguning dengan cahaya senja penanda hari terik akan berakhir dalam hitungan jam. Lea membuka pintu Cafe, mendapat pandangan terkejut Adam, Manajer Cafe tersebut.
" Lea?!" Kagetnya sambil tersenyum. Ia beranjak dari duduknya, Sedangkan Lea melangkah sambil tersenyum. " Hari ini aku jadi pelanggan, hehehe.. mau Pesen Farewell Coffe. tapi whipnya agak banyak ya Mas, hehehe.." Lea menoleh ke arah Leksa yang tengah memperhatikan papan menu di atas kepalanya.
" Farewell Coffe? kopi pisah? AHAHAHA! seru deh.. HM... karena gue lagi seneng... Gue pilih... Lembayung Coffe? itu artinya apa?"
Lea tertawa kecil, " Senja." Namun tak ada raut mengerti di wajah pria itu. Leksa masih terlihat bingung. " Sore hari kak... kayak langit sore ini... Senja." jelas gadis itu.
Leksa menoleh ke arah jendela Cafe dan mengangguk. " Keren..." takjubnya melihat sore Jakarta Selatan hari ini.
Mereka duduk di pojok, dekat jendela, ingin menikmati ramainya Orang-orang yang terlihat lelah dan harus bertemu kemacetan, atau melihat beberapa pengendara menyelak kendaraan lain dengan cerdik atau bahkan ekstrim. " Gue suka Senja di LA atau Senja di Jerman. Tapi gue gak tau kalau senja Jakarta di tambah macetnya tuh seindah ini. Keliatan ramai, tapi juga hangat."
Lea tersenyum mendengarnya. Ia tak mengira melihat Leksa takjub seperti ini bisa membuatnya ikut takjub. Takjub dengan pria ini. Leksa terlalu sederhana. Ia bisa dibuat senang hanya dengan melihat senja. " malem nya juga bagus. mau liat di rooftop apartemen?"
__ADS_1
Leksa menoleh dan mengangguk tersenyum. Tak ada luntur-lunturnya senyuman itu. Hari ini benar-benar menakjubkan dan menyenangkan. "Gaya, bisa fotoin gak? mau gue kirim ke Abang gue." Lea merogoh ponsel dari tasnya dan mengarahkannya kepada Leksa. Pria itu tersenyum melihat hasilnya.
" Keren!! jago moto?"
Lea menggaruk lehernya. " Ikut kursus dulu.. belom lama ini sih.. cuma gak selesai karena ada beberapa kendala." mendengarnya membuat Leksa semakin penasaran. apa pun yang Lea kerjakan selalu berhenti ditengah jalan. Mulai dari kerja di Cafe, Kuliah gadis itu yang sempat diceritakan kepadanya di jalan, Sekarang kursus fotografi nya.
Tapi Leksa ingin menunggu sedikit lebih lama. Ingin menjaga hangatnya hubungan baru ini agar Ia pun tak melewati batasan tak terlihat.
" Tapi, nanti fotoin lain di pinggir jalan ya? biar ästhetisch. " mendengar ucapan Leksa yang tiba-tiba berubah logat membuat Lea tertawa mendengarnya.
" Itu logat apa? AHAHAHAHA gemes dengernya."
" Jerman. Di Jerman sih emang udah pada estetik.. tapi di Jakarta tuh lucunya, semakin berantakan semakin gampang ditemuin estetikanya." Ucap Leksa. Lea menggeleng kepalanya tak habis pikir dengan pria dihadapannya. Leksa terlalu ceria jika dibandingkan dengan Albara. Albara memang asik, tapi hanya kepada Lea dan cenderung bersikap tenang dan lembut.
Sedangkan Leksa begitu ceria dan tak bisa diam. Bahkan pria itu dengan santai menanyakan kenapa manajer kantor ini tampan sekali. Lea merasa bodoh menganggap Albara hidup kembali.
dihadapannya ini, hanya ada Leksamana Maeda Brillhant. tidak ada Albara-nya. hanya ada teman barunya, Leksa.
****
Lea Merebahkan dirinya, menatap langit-langit kamarnya sambil tersenyum. Mungkin hari ini adalah hari dimana ia tersenyum sangat banyak setelah kabar hilangnya Asa. Benar-benar banyak sampai ia Tak bisa menyangka Akan seberpengaruh itu kehadiran Leksa yang tiba-tiba di depan lokernya, dan obrolan canggung mereka di lift, bisa membawa mereka sampai menghabiskan harinya dan berakhir malam yang menyenangkan.
Lea membuka ponselnya, dan mencari ikon galeri. beberapa Foto Leksa yang masuk di hapenya karena pria itu begitu jahil, dan Foto night city mengingatkannya momen-momen lucu tadi.
ini adalah Foto yang akan Leksa kirim kepada kakaknya. Pria itu akan membanggakan dirinya kepada sang kakak bahwa ia bisa menjadi estetik. Lea bahkan tak bisa menahan tawanya karena saat mengambil gambar ini, Leksa sempat diperhatikan orang banyak.
Lea ingat ini. Ini foto Selfie Leksa di hapenya saat mereka mampir ke toilet di gedung apartemen. Apa pria ini tak berbakat Mirror Selfie? kenapa malah terlihat imut?
Foto kali ini membuat Lea tertawa terpingkal-pingkal. Gadis itu jadi ingat saat Leksa berteriak bodoh dalam bahasa Jerman kebawah, dan ternyata ada beberapa orang yang menoleh ke atas. Keduanya tertawa saat itu. Mereka berdua berlomba Foto, dan akhirnya tetap Lea yang menang. Tapi Leksa tak terima dan berkata bahwa ia tak memiliki ilmu dalam fotografi, sehingga ia yang menang.
Lea menghela nafasnya lega. Sudah lama ia tak tertawa bodoh seperti ini.
Bersambung
__ADS_1