
Melihat Sahabatnya tengah berbincang serius dengan seorang pria berhasil mengundang senyum Lea yang sejak tadi enggan muncul. Gadis itu berjalan cepat ke meja sahabatnya sambil bersiul-siul manja seolah menggoda sahabatnya. " Lo Tuh ya kalo ditinggal lama langsung digodain cowok pas-- Kak Asa?" Lea menatap terkejut pria itu.
sedangkan Asa hanya tersenyum kecil melihat tingkah lucu Lea tadi. Kali ini, Tazqia yang keheranan. dilihat dari sikap Asa selama berbicara dengannya, Tazqia merasa Asa adalah pria yang dingin walau perhatian terhadap Lea. Tazqia juga mengira pantas saja Sahabatnya itu canggung terhadap Asa karena pria itu sama cueknya dengan sang sahabat.
tapi melihat Asa yang langsung bersikap hangat terhadap Lea, Tazqia mulai kebingungan.
" Lo Mau Abang Lo nikah Ama gue? gue mah mau-mau aja." ujar Tazqia sambil tersenyum miring menatap Asa. Toyoran kecil Dari Lea membuat senyumnya hilang berganti wajah kesal. " Ngimpi Lo! Abang gue udah punya cewek." sungut Lea sambil mengambil duduk disamping Tazqia.
Lea mulai menatap langsung Asa. " Kak Asa kenapa? mau ngopi? Kak Asa 'kan gak suka kopi kecuali Mocha."
" lo dicariin Abang Lo, hp Lo gak aktif gara gara pecah 'kan?" jelas Tazqia. Lea menatap nyalang sahabatnya itu untuk bungkam. " Sana Lo pulang, gue pulang Ama Abang gue. hush hush, Cafenya mau tutup!" ucap Lea kesal. Tazqia menggerutu walau ia tetap keluar untuk pulang, padahal ia menunggu Lea untuk mengantarnya, malah dia yang diusir.
Asa tertawa kecil, ia memang sempat Menerka-nerka seperti apa Lea saat bersama dengan sahabatnya jika dihadapan dirinya, tapi sepertinya, Atensi Asa bahkan tak mempengaruhi gadis yang ia anggap seperti adiknya itu.
" Ayo pulang, saya belum makan."
****
Keduanya tengah duduk dimeja makan, makanan mereka sudah selesai dan tengah saling menatap dalam diam.
melihat Wajah kusut Lea sejak tadi, Asa jadi teringat akan percakapannya dengan Tazqia,
kembali saat Asa dan Tazqia berbincang,
Asa tersenyum manis walau bukan itu maksud dari hal yang akan ia ucapkan untuk menjawab pertanyaan Tazqia. " Saya punya alasan sendiri untuk menghidupi dan meminta Lea tinggal dengan saya, dan saya rasa belum waktunya untuk dia tahu makanya saya simpan dulu alasannya.
tapi tujuan saya melakukan semua itu cuma satu, Lea bahagia. kamu juga ingin lihat temen kamu senang kan?"
Tazqia mengangguk cepat. " Tapi apa Bang Asa merasa udah tau semuanya Sampe bisa bilang dia gak menghargai diri?
kalo Lea gak menghargai dirinya, dia udah jual badan dari semester kemarin, ataupun minta uang Bang Asa sejak dia tinggal sama bang Asa.
Bang Asa tau gak Lea abis ngalajn hari ini?" pertanyaan disertai senyum miring Tazqia hanya Asa jawab dengan gelengan. Tazqia menatap Lea yang tengah sibuk membuat kopi sambil menjawabnya, " Dia abis lemparin anak orang pake Hp nya Sampe Hpnya mati dan papan tulis kelas orang retak. Dia juga ngancem orang tadi." ujar Tazqia dengan percaya diri. saat ia kembali menagap wajah tampan Asa, Tazqia tersenyum melihat wajah terkejut Asa.
__ADS_1
" Dia bukan gak menghargai diri, cara Lea menghargai dirinya adalah dengan membatasi dirinya biar gak kelewatan dan berujung kecewa sama diri sendiri. Dia emang Overthinking Dan suka nyalahin diri sendiri. Makanya Saya tanya bang Ada bilang dia gak menghargai diri tuh dari mananya?
pas kalian jatoh, tapi dia malah mentingin Bang Asa? atau saat dia bilang Bang Asa harus prioritaskan pacar bang Asa dibanding dia? itu semua cara dia melindungi diri biar di akhir nanti, dia gak terluka.
tolong ya Bang Asa, lain kali, jangan bilang hal kayak gitu atau ngekritik sikap Lea. karena dia selalu punya alasan sama kayak bang Asa sendiri."
Kembali saat Asa makan bersama Lea
Asa memijit pelipisnya, lalu menatap mata Lea yang sejak tadi termenung. " Lea, Kenaoa HP kamu bisa pecah?"
Lea menggaruk lehernya yang tak gatal, " jatoh hehehe... maaf ya kak, gak langsung ngabarin tadi." ucap Lea dengan senyum bodohnya. Asa menghembuskan nafasnya lega, Setidaknya tidak terjadi hal apapun terhadap Lea.
" gak ada apa-apa 'kan, Lea?" tanya Asa memancing.
Lea terdiam sejenak menatap piring kosongnya. ia teringat akan bujukan Tazqia padanya tadi sore. " Lea, " panggil Asa lagi.
Lea merasa jantungnya berdegup terlalu cepat.
" apa?"
" aku tadi, sempet ribut sama anak kelasan aku..." Lea merasa nafasnya tersendat karena gugup. Ia terbiasa mengubur masalahnya sedalam mungkin dan bersikap seolah ia lupa kalau dia punya masalah itu.
tapi ini pertama kalinya ia bercerita tentang masalahnya kepada orang lain selain Tazqia. Ia merasa takut akan penolakan atau membebani Asa yang mendengar Ceritanya nanti. " Lea... cerita aja." ucapan lembut dan genggaman tangan itu mampu meyakinkan gadis itu.
" Jadi..." Lea menceritakan kejadian yang ia alami tadi siang di kampusnya. Walau rasanya berat, terutama saat seorang anggota kelasnya mengatakan ia berhutang, Lea tetap menceritakannya.
Selesai bercerita gadis itu menyempatkan minum, " Maksud aku tuh, aku udah punya Kak Asa gitu, kalau emang mau, aku bisa minta walaupun gak akan, lagian uang 10 juta buat apa sih? ke Korea aja gak cukup." kesal gadis itu.
Asa mengangguk paham dan mengelus kembali tangan Lea, " 10 juta? kamu ada rekening bendahara kamu?"
Lea menatap Asa dengan kening berkerut. " buat?"
" buat Kakak transfer lah." ujar Asa santai. Pria itu tak tahu bahwa ia baru saja membangunkan singa betina yang lapar.
__ADS_1
" Kak, aku gak salah.."
" tapi Mereka nuduh kamu, walau kamu gak salah, kalau bisa dibay--"
" AKU GAK SALAH, KENAPA HARUS BAYAR?!"
Asa dan Lea saling terkejut. ini kedua kalinya mereka berdebat dan saling terkejut akan sikap masing-masing. Tapi yang membuat Asa lebih terkejut adalah wajah Lea yang basah akan air mata.
Lea mengusap wajahnya kasar. " Aku kira, aku tahu, ini terlalu aneh untuk aku percaya, cuma tetep aja aku berharap dan percaya... Kak Asa... adalah satu orang selain Qia yang percaya sama aku... " Lea tertawa kecil sambil menunduk, air matanya masih mengalir, seolah menggambarkan bahwa hatinya masih sakit dan kecewa.
"tapi aku emang bego aja.." gumamnya sebelum ia melangkah pergi, Asa tentu dengan sigap menyusul gadis itu. " Lea, tunggu," Asa menggenggam pergelangan tangan Lea, dan gadis itu menarik tangannya,
" aku mau... cari angin dan sendiri, Kak Asa tidur aja duluan."
Asa tak mampu membantah ataupun mencegah Lea saat gadis itu keluar dari pagar rumahnya. Asa mengacak rambutnya kasar,
"cara Lea menghargai dirinya adalah dengan membatasi dirinya biar gak kelewatan dan berujung kecewa sama diri sendiri.."
Asa berjongkok sambil memegang kepalanya. " Gue yang ngajak dia lewatin batas, tapi gue juga yang bikin dia kecewa.... bodoh!"
**Bersambung...
Heyhoo** lagiiii
gimana kabarnya? semoga sehat selalu ya..
dapet salam dari Mas Asa Aldebara nih
......"Jangan lupa bahagia ya.." ......
...Asa Aldebara...
__ADS_1