
btw ini kek telat banget sih tapi ingin meluruskan saja..
jadi selama Asa ini amnesia kalian pasti bingung soalnya dia kadang disebut Asa, kadang Geraia juga. Ya, selama Abang ganteng ini amnesia, gue bakal nyebut dia geraia karena itu identitas dia juga. Sedangkan pemanggilan Asa hanya berlaku kalo gue lagi ngomongin persepsi atau pikiran tokoh yg ngenal si Asa.
And... ini bakal panjang banget Wkwkwk semangat scrollingnya! Happy reading!
...****************...
...****************...
Mungkin karena efek kehamilan, Lea menjadi cukup sensitif terhadap banyak hal. Entah itu berhubungan dengan bau ataupun hal-hal random yang bisa dibilang tidak penting juga.
belakangan ini, Jika ia tengah berbincang dengan Gemada, pasti akan berakhir dengan perfebatan kecil yang dimenangi oleh Lea sendiri karena Gemada mengalah.
Seringnya, karena Gemada menjawab ibu hamil itu dengan singkat, padahal itu sudah lebih baik daripada kebiasaan Gemada yang sering mengabaikan seolah ia tuna rungu. Tapi Lea bukanlah ibu hamil yang mudah dibujuk. Gemada harus menuruti idam Lea untuk bisa mendapatkan senyum tipis adiknya itu.
Tak Apa, Gemada itu Kakak yang bucin sekali dengan adiknya, jadi kalau Lea mengidam planet baru pun akan Gemada usahakan dapat malam ini juga.
Namun untuk dua hari ini, Gemada seolah tak berdaya menghadapi kemurungan Lea. Adiknya itu terus murung sambil menatap jendela, Seperti Hachiko yang menunggu majikannya datang menjemputnya.
Gemada telah menerka-nerka, tapi enggan mengungkitnya karena menghawatirkan keadaan Lea dan keponakannya. Lea sudah mengandung selama 8 bulan. terkadang ia merasa nyeri dan terkadang ia menginginkan sesuatu yang terlalu aneh.
Tempo hari ia minta Lego Upin Ipin dan Dora sedangkan benda itu sepertinya belum ada. Akhirnya Gemada memesan langsung ke perusahaan pusat dan mendapatkannya 3 hari kemudian. Tapi dirinya mendapat penolakan Karena Lea sudah tidak menginginkannya.
Hari ini, Lea mengidam Awan. permintaan aneh lainnya. Sedangkan Gemada sendiri tak bisa menuruti yang satu ini. Hanya orang gila yang menyanggupi permintaan Lea. Dan sayangnya Gemada Waras. jadi kali ini Gemada menolaknya dan menawarkan hal yang lain.
" Pasti karena aku udah gendut kayak babi makanya Kak Gema gak mau nurutin aku... aku ngidam, Kak... emang Kak Gema mau punya ponakan kerjaannya ngences sampe banjir satu rumah?" Mendengarnya, Gemada hanya bisa tertawa kecil sambil mendekati adiknya. " Ya... siapa yang bilang Kamu mirip babi? kalo kamu mirip babi, Kakak akan larang kegiatan makan babi karena itu artinya Kakak membiarkan banyak orang makan sesuatu yang mirip sama kamu.."
Lea mengulum senyum sambil memukul lengan Kakaknya. satu hiburan dirumah ini selain dimanjakan adalah di berikan kalimat-kalimat manis seperti ini. Lea mudah senang jika dipuji sedikit.
", Tapi aku gemukan..."
" Gapapa.. enak dipeluk kan." Ucap Gemada sambil menarik adiknya kedalam pelukan. Lea mendongak, menatap dagu Gema yang berada tepat didepan pandanganya. " terus Awannya gimana?"
" Permen kapas mau?"
" yang didepan SMA aku?"
" iya.. eh gimana gimana?" Gemada menatap bingung adiknya itu. Memang tukang gulali didepan SMA adiknya masih ada?
" mau Gulali dari SMA aku.. kalo bukan dari situ, Kak Gema aja yang bikinin."
Gema menghela nafasnya setipis mungkin agar adiknya tidak mendengar. Ia menghubungiku asistennya dan meminta dibelikan alat pembuat gulali dan bahan-bahannya.
Sedangkan Lea kini duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Notif dari Leksa dan Daniel lumayan banyak. Selama Hamil, Lea jarang membuka ponselnya. Ia lebih sering melihat tv yang menampilkan Video YouTube memasak.
Leksamana Maeda
...Hari ini...
...08.25...
Yaya...
Kangen Euy
eta teh kapan mampir ke Cafe aing
ada Kopi Sejuta Rindu ini..
__ADS_1
Ya... Kue Lo udah abis.. gak mau bikinin lagi?
Tapi bikinnya disini ya jangan di Bogor..
bengek saya tuh kalo kesana mulu.. udah mana gerbang Ama villanya jauh pisan, bengek jalannya.
^^^^^^Yaya lagi mager bikin kue disini...^^^^^^
^^^besok jemput deh^^^
^^^sekalian Yaya mau nengokin Daniel^^^
Ish beneran ya
Jan batal-batal maneh
nanti sakih hati aingnya
...----------------...
Lea tertawa membawa balasan Leksa ini. Ia keluar dari ruang chat tersebut dan membuka chat dari Daniel.
Daniel G.
Mbak
Kangen..
Besok ambil rapot
Daniel ngasih tau aja
kalo gak bisa gapapa,
^^^Engga.. mbak aja^^^
^^^besok mbak ke Jakarta^^^
^^^kamu ke sekolah duluan aja,^^^
^^^kabarin mbak kapan ambilnya ya^^^
^^^jangan berani-berani kamu ambil sendiriš¤¬^^^
...----------------...
Lea Menghela nafasnya. " Kak Gema... aku besok ke Jakarta ya??" entah wanita itu berniat meminta izin atau memberitahu, yang pasti ia sangat berhasil membuat Gemada yang tengah menonton video tutorial membuat gulali langsung menoleh cepat, menatap aneh adiknya itu. " ngapain? kan Kakak udah beli mesin gulalinya." ucap Gemada heran. Lea tertawa kecil sambil menggeleng.
" mau ambil raport sama ngurus kue buat Cafenya kak Leksa." jawab Lea sambil menyodorkan ponselnya kepada sang kakak.
gemada menghela nafasnya. " kamu lagi hamil tua lho. rentan banget kenapa-kenapa..*
" bisa kok. yg jemput kan kak Leksa. dia lebih slow bawa mobilnya, jadi aman." ucapan Lea tak mampu menyurutkan rasa khawatir Gemada.
tentu saja. Setelah mengetahui adiknya ini hamil, Gemada langsung meneror semua teman dokternya untuk menanyakan hal-hal penting dan berbahaya bagi ibu hamil.
dan Yang Gemada tangkap secara singkatnya adalah, Masa hamil tua adalah masa paling beresiko dan berbahaya baik bagi ibu ataupun bayinya.
jika terjadi sesuatu yg buruk, semisalnya kecelakaan hebat, mungkin saja anaknya selamqt tapi ibunya tidak, ataupun sebaliknya.
Gemada tak ingin dua kemungkinan itu terjadi sama sekali. Karenanya, Gemada memberi usul, " kakak nyusul di belakang ya?"
__ADS_1
Lea yang cukup mengerti perasaan Gemada kini mengangguk cepat. Mungkin bagi orang lain, sudah hampir 7 bulan lalu lamanya Lea terakhir kali memijakkan kakinya di Kota metropolitan penuh kesibukan dengan sejuta kemacetan di sepunjuru jalannya.
Tapi bagi wanita hamil itu sendiri, rasanya baru kemarin ia pergi dari sana. baru kemarin malam ia berpamitan kepada adiknya sambil menangis dan memeluk Daniel ataupun Leksa,
dan rasanya baru beberapa hari yang lalu Geraia yang tidak lain adalah Asa kembali menghancurkan hatinya dengan perlakuan istimewa pria itu sendiri kepadanya.
Lea menghela nafasnya kasar. Ia berharap besok bukanlah hari yang panjang penuh masalah. Jika bisa, is tak ingin bertemu Asa di Jakarta besok.
ia tak ingin bertemu kunci dari pintu rasa sakit dan kesedihannya. Dan tak ingin Anaknya ini mendapati penolakan dari sang ayah nantinya.
" jangan takut ya my little boy. kita gak akan ketauan ayah kamu kok. ' kan ada Om Gema yang jagain kita." ucap Lea dengan lembut sambil mengusap sayang perutnya besarnya itu.
Gemada lagi-lagi menghela nafasnya. apapun untuk adik dan keponakannya, Gema pasti bisa melakukan semuanya.
...****************...
Mungkin baru semalam Lea meyakinkan Bayi kecil di perutnya bahwa mereka tak akan ketahuan oleh Asa. tapi nyatanya, tidak hanya Sang ayah dari janinnya yang memergoki Lea di Cafe Leksa, tapi Juga Geardion alias Dion yang seharusnya masih di Amerika dengan kesibukan padat di kantor asingnya itu.
Tentu yang paling terkejut melihat keadaan tubuh Lea yang berubah total seperti sekarang adalah Geraia. pria itu tentu tak menyangka, bahwa tidak sampai 2 caturwulan, Lea kini menampakkan sosoknya dengan keadaan tidak sendirian, melainkan ada yg mendampinginya kemanapun. Terbesit sebuah harap bahwa anak yang dikandung Lea adalah anaknya.
tak kalah kaget, Dion bahkan sampai beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Lea, menatap cemas wanita yang sempat menyinggahi hatinya, dan bahkan namanya masih terukir samar di dasar lerung hatinya.
" kamu ngapain? kenapa gak istirahat kalau lagi hamil gini? dan kenapa gak ngabarin saya lagi? saya nungguin kabar kamu selama berbulan-bulan ini. kamu hilang tanpa jejak, semua kebingungan." ucapan Dion terlihat tentu arah. awalnya ia mencemaskan Lea, tapi kemudian menyerbu Lea dengan sejuta tanda tanya.
tapi semua kalimatnya tak luput dari telinga Lea. wanita itu tersenyum hangat, ingin mengembalikan perhatian hangat yang menggemaskan dari pria dihadapannya ini. " aku musti bikin kue disini. nanti tokonya bangkrut kalo gak ada kue aku."
Dion langsung mengalihkan tatapan kepada Leksa yang kini berjengit karena mendapat tatapan tajam dari pria berpipi chubby ini.
" ibu hamil tua gini kamu suruh kerja? dasar biadab!" umpat Dion kesal. Lea tertawa lepas mendengar ucapan Dion. Leksa sendiri hanya terkekeh sambil menggaruk lehernya. " ya gimana ya bang, nanti toko gue bangkrut."
"bullshit!" umpat Dion lagi. Lea memeluk perutnya erat, " sabar ya nak, om Dion emang mulutnya jahat, jangan ditiru." ucap Lea lembut kepada perutnya. Dion langsung terkesiap, merasa bersalah kepada calon anak Lea ini.
sedangkan Leksa kini sibuk menahan tawa melihat tingkah Dion yang menurutnya sedikit konyol. Orang yang seharusnya memasang wajah seperti itu adalah Asa.
apa pria ini bodoh atau tengah menyangkal keberadaan anak Lea? kenapa pria itu hanya diam, menatap sendu mereka bertiga seperti orang yang baru menerima kekalahan telak.
Lea sendiri pun tak berniat mendekati atau membiarkan Asa mendekatinya.
Dan secara tiba-tiba Lea meringis saat merasakan tendangan yang cukup keras di dinding perutnya. Dion dan Leksa menghampiri dan menatapnya cemas. " kenapa? little boy main bola disana? lu sih minum Boba, disangka bola sama dia kan disana."
Lea mendelik sambil mendesis kesal mendapat celotehan konyol Leksa. " bayinya menendang? gapapa 'kan? bukan hal buruk 'kan?" tanya Dion cemas. Pria yang sangat tidak awam dengan hal seperti kehamilan itu tampak sangat baru dengan hal seperti ini. maklum, Dion lebih sering bertemu berkas saham, kerjasama antar perusahaan, dan data laba perusahaan daripada artikel artikel kesehatan umum yang sering lewat di internet.
" dia nyapa om yang belum pernah dia temui. kamu mau kenalan sama Om Dion ya?" tanya Lea bermonolog pada perutnya.
jujur saja, Lea lebih mengira jika anaknya ini tengah bereaksi heboh karena ada ayahnya di tempat ini. ya, Asa kini melangkah mendekat, dan membuat Lea tanpa sadar mengambil langkah mundur perlahan.
6 bulan kah?? atau 7 bulan? sepertinya itu waktu yang cukup untuk salah satu dari mereka melepas diri dari obsesi masing-masing dan memilih 'rumah' baru yang lebih sehat dan waras.
baik Lea dan Asa, keduanya menyadari bahwa mereka terobsesi satu sama lain. Yan satu terobsesi akan ingatannya yang hilang tentang hubungannya dengan gadis yang kata orang-orang sekitarnya, gadis terpenting dalam hidupnya.
sedangkan yang lain terobsesi akan sosok yang menjadi sandarannya dan orang yang berhasil membuatnya terjatuh dalam lubang bernama cinta.
Baik Lea ataupun Asa, keduanya meyakini diri mereka sudah bukan pemilik hati masing-masing. Mereka berdua merasa dirinya terlalu berbahaya untuk menjadi 'rumah' bagi satu sama lain.
sebuah pemikiran rumit menyebalkan yang merepotkan.
" Kapan kamu kenalin suami kamu ke Saya, Lea?" ucapan lembut itu berhasil menikam Hati Lea dengan sejuta jarum tajam yang menimbulkan sakit luar biasa.
Leksa yang mendengarnya kini terkekeh kecil. " udah gila Lo, Bang!"
BUGH!!
__ADS_1
Bersambung...