My Sugar Brother

My Sugar Brother
32. Ketika Satria Angkat bicara


__ADS_3

Lea menatap was-was Saat Leksa masih sibuk membeli kopi di bandara ternama ini. Ia mengantar pria itu untuk berangkat ke LA, menuntaskan semua urusan disana sebelum ia kembali ke negri merah-putih ini.


Yang Lea khawatirkan adalah, Pria itu menghilang, sama seperti Asa.


mengenal Leksa membuatnya sesekali bisa bernafas tanpa terjerat kesedihannya tentang Asa. Tapi saat ini, Seolah kebebasannya akan pergi bersama Leksa, Kesedihan itu kembali terasa dan bahkan diserta perasaan cemas luar biasa.


Apa ia tak bisa bahagia sebentar? tenang sejenak? Ia takut, bahwa fakta Asa yang belum kembali, akan ditambah dengan Leksa yang akan hilang juga.


Beberapa malam sebelumnya, di Tukang Sate Padang, Leksa meyakinkan Lea bahwa Pria itu tidak akan kenapa-kenapa. Bahkan Ia membuat Janji diatas kertas untuk meyakinkan gadis itu.


Leksa sendiri tak begitu paham kenapa Lea sepanik itu, tapi pria itu yakin ini semua masih berhubungan dengan masa lalu Lea. Leksa tau ia tak bisa memaksakan Lea untuk berdamai dengan masa lalu, sehingga ia akan mencoba mengikuti alur gadis itu, tanpa berusaha merubahnya.


Bagi Leksa, Gadis itu menyenangkan dan Unik. Lea membawa suasana segar dan baru. Membuat Leksa tak pernah bosan bersamanya. Itulah Kenapa Leksa tak tahan untuk menggoda Lea yang sejak tadi terlihat murung.


" Kenapa sih? emang gue tuh ketampanannya membahana paripurna, tapi Lo Gausah sesedih itu kali Le.." Gemas Leksa. Lea menatap Kesal pria tampan dan ceria didepannya itu.



" yaudah nih, gue tulis surat perpisahan... Lo mau dibilang apa? Lea cantik? Lea schön?"


" Hah?"


Tawa pria itu pecah dan menuliskan apa yang ia mau walau Lea mengatakan hal itu tidak perlu dilakukan. " Beneran Kak... Gausah.."


" Yaudah, maunya apa biar gak sedih? atau Mau gue bawain Apa dari sana? pesen aja!"


" Jangan lupa kabarin kalo udah sampe. Pokoknya kalo udah mendarat dan take off, kabarin. Kalo mau naik taksi kabarin, Kalo turun taksi kabarin, Kalau mau masuk ke apartemen kabarin juga.. Kalo mau naik lift kabarin, kala-- hiks-- Kalau mau masuk apartemen kabarin.. pokoknya kabarin.." Tangisan Lea yang diiringi dengan permintaan konyol dan panjang itu membuat Leksa tersenyum manis dengan tatapan mata yang begitu lembut.


" Tau gak gue merasa apa sekaranh?"


" apa?"


" kayak anak yang lagi dilepas buat kuliah di luar Negri. Hahahahaahaha."


Lea yang tengah menangis kini mendengus dan berakhir dengan tawa kesal karena Leksa tak bisa diajak berbicara serius. " Beneran deh, Kak Leksa bangsat banget..," umpatan dengan suara kecil itu berhasil membuat Semua orang di cafe itu menoleh ke meja mereka karena Leksa tertawa terlalu keras.


( Astaghfirullah 😭 kamu berdosa banget Lea..)


mengatar pria itu untuk Check in, Lea menatap punggung lebar itu dengan sendu. Ia akan merindukan ucapan konyol pria ini. " Ditabung rindunya. Nanti gue tagih.. Asik... keren gak sih?" Ucapan Leksa dengan senyumnya membuat Lea tak bisa tak menggeleng kepalanya barang sehari saja.


" Peluk dulu sini. Lu ya, Abangnya mau pergi jauh bukannya dipeluk dulu."

__ADS_1


" Gak mauu.."


" yaudah, nih, Sweater gue." Ucap Leksa yang tiba-tiba membuka sweater Hoodienya dan memberikannya kepada Lea. Gadis itu sedikit kaget dan kebingungan. " Biar Ada alasan buat gue ketemu sama Lo lagi. Hehehe.. Dah, Lea... jangan kurusan ya pas gue pulang. Jadi babi aja! Hahahaha!!"


Ucapan terakhir pria itu seolah tak terdengar. Leksa benar-benar mirip Albara.


3 tahun lalu ...


Lea menatap bingung pulpen yang ditinggal dimejanya. " Kak Bara, pulpennya gak dimasukin?"


Albara tersenyum sambil menggeleng kepalanya. " pegang aja dulu. biar ada alasan buat nyari kamu besok siang."


****


Hari-hari kantornya berjalan Normal, dan bahkan terasa sedikit membosankan karena Ia tidak pernah bermain keluar lagi. Itulah penyebab Lea lebih memilih bekerja terus menerus, Agar ia tak merasa bosan. Namun hal itu juga yang membuatnya jadi sering begadang dan lembur di kantor. Terkadang Farhan dan Dion harus menunggunya karena mereka khawatir jika meninggalkan Lea sendiri.


Tapi Kecelakaan yang Farhan alami dua hari yang lalu membuat Lea harus bersedia ditempeli Dion sepanjang hari dan bahkan diseret pulang secara paksa setiap sudah jam pulang kantor.


Lea mengakui bahwa Farhan lebih baik dari Dion untuk urusan mengurusnya. Farhan itu lebih memanjakan dan menurutinya, mudah kompromi. Berbeda dengan Dion yang terlalu kritis dan kepala batu. Pria itu tidak bisa berkompromi soal jam pulang, dan bahkan tak mengizinkan Lea membawa semua dokumen yang perlu gadis itu kerjakan. Lea juga sulit berbohong soal makannya.


Bukan, Lea tidak nafsu makan bukan karena Leksa tak ada disampingnya... Saat ada Leksa pun Lea kerap berbohong tentang makannya. Tapi karena saat makan Lea cenderung termenung dan pikirannya melayang buana, Gadis itu menghindari kegiatan tersebut selain ia bisa makan makanan cepat saji yang praktis untuk ia makan Sambil kerja.


" By the way, itu sweater siapa? gede banget..." Lea menunduk, memperhatikan Sweater besar berwarna hitam milik Leksa. " Temen aku, hehehehe..."


hanya sebuah tawa kecil, Tapi ternyata bisa membuat Dion tak mengantuk semalaman, sibuk memikirkan alasan kenapa Lea yang seharian murung menjadi begitu manis hanya karena ditanyakan tentang sweater itu.


" Pacar?" Gumam Dion. Ia menggeleng kepalanya beberapa kali, menyangkal hal tersebut dan mencoba untuk mengabaikan hal tersebut. Dering pada ponselnya membuat Dion menoleh ke nakas. Siapa yang menghubunginya di waktu tengah malam seperti ini?


" Chandra?" gumam Dion heran. Ia mengangkatnya,


" Kenapa?"


" Yon, lu udah tidur?"


" udah."


" Ah, Lama!" seruan itu membuat Dion bingung hingga ada suara gaduh didepan apartemennya. Pria itu melangkah cepat, dan dapat mendengar seruan dengan suara yang ia kenali. Dion menghela nafasnya kesal.


" gak ada sumbangan." sambutnya saat ia membuka pintu.


Chandra, Havit si pria yang membuat gaduh barusan, Bayu si pria hitam manis dan Satria si pria putih berhidung mancung bagai perosotan. Keempat pria itu menatap polos Dion sebelum Havit menerobos masuk hingga membuat Dion terdorong.

__ADS_1


" Cara baru bertamu kalo kata bang Havit hahahah..", Ujar Satria sebelum masuk kepada Dion, Sang pemilik unit hanya mengangguk seolah hal itu sudah tak penting mengingat Havit sudah masuk dan yang lainnya juga ikut mengekor. Tersisa Bayu yang menatap sungkan Dion.


" Gue baru putus bang, hehehe.." ucap pria itu lesu. Dion mengangkat kedua alisnya. " lagi?"


ucapan Dion membuat Bayu tertawa kecil. " ini pacar kedua gue bang. Emang muka gue seplayboy itu Ampe lu bilang lagi?" Bayu masuk setelah berkata tersebut, sedangkan Dion diam sejenak mencernanya,


" ah iya... Satria ya yang brengsek. gue suka kebalik." gumam pria itu bermonolog.


Rasanya Dion tidak menutup pintu begitu lama hingga saat ia kembali, ruang tengah apartemennya sudah berantakan karena Havit telah menebarkan segala macam camilan di meja dan lantai.


" Ayo, Yon, anggap aja rumah sendiri... kita rayakan kebegoan Si item satu ini." Dion langsung melempar Havit yang berbicara lancang seperti itu dengan sendal rumahnya. " Jangan rasis, bego." Ucap Dion datar.


dibanding Bayu yang sebenarnya bersangkutan langsung dengan kisah kandasnya kisah cinta kedua si hitam manis nan seksi ulala tralili itu, Havit seolah penulis kisahnya sendiri, dia bercerita lebih lengkap dari Bayu karena Bayu bahkan sempat tak percaya dengan beberapa fakta yang Havit ucapkan selama berkisah.


Dion sejujurnya tak perduli, walau kondisi hati Bayu memang cukup membuat Dion khawatir sedikit kepada temannya, yah... sekedar keperdulian terhadap teman dekat, Dion merasa tak cukup berhak menyimpulkan kisah tersebut karena akan terdengar seolah tengah menghakimi antara Bayu ataupun mantan sahabatnya itu.


" tapi Lo tau gak sih yang paling bikin gue greget ama Bayu tuh? Lu tuh ya bay, kebiasaan banget berpikir kalo Lo diem, cewek lu bakal tenang, atau berpikir dia butuh waktu atau cewek lu tuh bisa baca pikiran, selalu kompromi Ama kesibukan lu, diemmmm Bae.. apa apa terserah, ngasih seluruh keputusan ke cewek lu.. orang pacaran berdua yg milih selaluuu cewek lu...yang... anjim dah, gue jadi si Jennie mah sebulan juga udah langsung gue putusin lu! sebucin itu dia Ama lu Ampe bertahan aampe 6 bulan."


Dion mengunyah keripik kentang penuh micin tersebut, mengabaikan pandangan dua orang yang sedang memperhatikan sikap cuek pria pemilik unit apartemen ini.


" Yon, lu gimana Ama Lea?"


pertanyaan Chandra membuat Havit dan Bayu langsung menoleh kearah Dion. Sedangkan Satria tersenyum jahil memperhatikan kekakuan Dion mendapat pertanyaan itu sambil menyeruput Latte cupnya.


" Lea? yang di wisuda S2 nya Dion itu? yang bening? Dede gemesnya Dion itu?" Tanya Havit mengklarifikasi.


" Ohh.. namanya Lea? Lo ada nomornya bang?"


" jangan macem-macem. dia udah punya orang."


" heee?? punya cowok? tapi setau gue lu kerja sama dia, Yon.. Ampe lu ngelepas tawaran kerja dari Korea Ama amerika itu buat Nerima yang disini terus akhirny kerja Ama Lea." ucap Chandra lagi tak percaya. Satria kembali semakin tersenyum jahil, ini benar-benar pertunjukan menggemaskan.


seseorang sebegitu terbudak oleh cintanya kepada seorang gadis yang sudah menautkan hati pada pelabuhan yang lain. tapi pertanyaannya apakah perahu hati Lea sempat melirik pelabuhan Dion?


Dion mengangguk kepalanya, Mengiyakan ucapan Chandra. Tanpa diduga, Satria mulai angkat bicara, " Bang, Effort emang gak pernah dikhianati hasil," pria itu memberi jeda karena ia merasa kisah cinta Dion yang kedua ini benar-benar menakjubkan rumit dan konyol.


" tapi itu kalo dari awal effortnya dimulai, memang ada kemungkinan mencapai tujuan. kalo dari awal gak ada, mending gausah memulai, daripada buang waktu, tenaga, sama bikin sakit hati. iya gak, Bay?" ujar Satria sambil menendang kecil punggung Bayu yang berada tepat didepan kakinya.


Dion diam sebentar sambil mengernyitkan dahinya. Memangnya dia berniat apa? memangnya dia sedang mengusahakan apa?


ah... ia ingat. Ia sedang mengusahakan kebahagiaan Lea ya,

__ADS_1


__ADS_2