My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Ganti pakaian yang lebih layak!


__ADS_3

Sekitar jam delapan malam, Alva bersiap meninggalkan ruangannya. Otaknya mulai penat menatap lembaran-lembaran kertas di hadapannya itu. Sebenarnya, sejak sore tadi dia sudah ingin mengakhiri pekerjaan. Tetapi Zea terus mendesak dan mengatakan bahwa ada banyak hal yang harus diselesaikan lebih cepat. Sebagai pimpinan yang baru menjabat, Alva tentu tidak mau mengambil resiko, karena tanggung jawab dan nasib ratusan karyawan di gedung ini, ada di tangannya.


“Pak, saya boleh numpang sama Bapak?” seperti biasa, salah satu trik Zea supaya bisa lebih dekat dengan lelaki impiannya ini adalah, tidak membawa kendaraan. Jadi dia bisa memiliki alasan untuk bisa satu mobil dengan Alva.


“Rumah kita nggak searah,” tolak Alva secara nggak langsung. “Kamu nggak bawa mobil?”


Zea menggeleng. “Kayaknya selama beberapa hari ke depan, saya nggak bawa mobil Pak. Mobil saya lagi di bengkel,” jelasnya dengan nada sedih.


“Kalau begitu, hubungi sopir perusahaan aja, kamu berhak minta antar ke manapun selama masih di wilayah kota ini, karena kamu bagian penting dari perusahaan.” Alva masih menolak. “Saya buru-buru Zea, maaf.” bicara soal buru-buru, Alva tentu berbohong. Yang ada dia ingin lebih lama lagi tiba di rumah. Tapi Alva tidak punya pilihan lain, dia harus ke mana? teman-teman lamanya, sudah tak mungkin lagi untuk diajak nongkrong seperti di masa muda dulu. Rata-rata mereka sudah memiliki istri dan anak, ya… hanya dia yang masih mempertahankan statusnya.


“Baiklah kalau begitu Pak.” tak ada lagi wajah memelas dan tampang sok manis dari Zea, yang ada tampang kecewa seperti baru saja ditolak oleh lelaki pujaan hati. “Saya duluan.” wanita itu tak lagi berbasa-basi, dia melangkah meninggalkan Alva lebih dulu.


sejak kapan, ada bos yang ngantar karyawannya pulang ke rumah? dia benar-benar perempuan nekat.


Alva menggerutu sendiri. Mengingat tingkah Zea yang semakin menjadi saja. Ada rasa ingin lebih tegas, tapi dia takut menyakiti hati wanita itu. Bagaimana jika Zea mundur dari perusahaan sementara pekerjaan sedang padat, apalagi Alva terkadang masih butuh pembelajaran untuk hal-hal yang baru dikerjakannya.


Belum sempat makan malam, Alva singgah di sebuah restoran, dari pada nantinya dia harus ke dapur tengah malam.


Sial sekali. Umpatnya dalam hati. Niatnya ingin menikmati makanan sendirian di restoran itu. Tapi sepertinya itu bukan tempat yang cocok untuknya. Tempatnya terlalu romantis, ada banyak pasangan yang sedang menikmati hidangan. Jika dia duduk sendirian di antara meja-meja pasangan yang sedang berinteraksi mesra, orang akan berpikir dia adalah jomlo menyedihkan yang nekat makan di tengah-tengah pasangan lain yang sedang bermesraan.


Alva mengubah tujuan dan niatnya, dia membungkus dua porsi makanan, karena belum punya nyali untuk makan di sana sendirian. Ya, dua porsi, ingat ada penghuni lain di rumah yang dia tempati. Jika Joana tidak bersedia menerima makanannya, tenang saja, masih ada kucing tetangga yang menampung.


*


Satu kali…

__ADS_1


Dua kali…


Tiga kali….


Sampai yang keempat kalinya, Alva memasukkan kunci rumah dan mencoba memutarnya, selalu gagal. dia terkekeh geli, gemas bercampur kesal. Pikiranya langsung tertuju pada penghuni di dalam rumah.


Maksudnya, dia mau balas dendam atas malam itu?


Pikiran buruk Alva langsung memenuhi kepalanya. Dia ingat bagaimana kesalnya Joana ketika dia kurung dari dalam. wanita itu tidak bisa masuk karena Alva menguncinya dari dalam dan tidak melepaskan kunci.


Ting tong


Ting tong


dia menunduk, tangannya masih menyentuh bel dan hendak memencetnya sekali lagi, kalau perlu berkali-kali. Tapi terdengar suara pintu yang sedang dibuka dari dalam, Alva langsung mengurungkan niat.


“Maaf saya lupa, cabut kuncinya…” tutur Joana pelan. begitu melihat sosok yang ada di sana setelah dia membuka pintu.


Joana yang muncul di hadapannya tanpa rasa berdosa benar-benar membuat Alva merasa seperti uji nyali setiap malam. Bagaimana tidak, malam ini Joana mengenakan setelan pakaian tidur bertali spaghetti, serta bawahnya celana super pendek mirip hotpants hanya saja bahannya satin.


“Udah makan?” Alva melangkah masuk, sambil memulai dialog dengan pikiran yang sedikit waras. Terkadang dia berpikir, bisa tidak mereka berinteraksi tanpa menegangkan urat-urat leher, alias emosi. Bisa tidak? semoga saja bisa.


“Belum Pak,” sahut Joana apa adanya. Joana enggan memesan makanan malam itu, untuk memasakpun dia tidak memiliki niat sama sekali karena lebih baik dia menyimpan tenaganya untuk besok karena harus kembali bekerja.


“Ini ada nasi goreng.” Alva meletakkan sebuah paper bag dengan tulisan restoran bintang lima ternama di Jakarta. “Saya beli dua,” ucapnya lagi.

__ADS_1


Jantung Joana hampir copot, bukan berdebar karena tersentuh. Hanya saja dia heran, apa tidak salah dengar? apa setan baik sedang merasukinya. Bukan, maksudnya apa Alva sedang dipengaruhi oleh aura-aura baik yang ingat pada sesama manusia. Biasanya hanya ada kata-kata pedas dari mulutnya.


“Terima kasih, Pak.” Joana membuka paper bag itu. Ada dua box berbahan mika di dalamnya.


“Jangan kaget kalau rasanya enak, soalnya itu nasi goreng di restoran bintang lima, bukan kaki lima.” Alva mulai berkicau dengan kalimat-kalimat sombongnya. Padahal, baru saja Joana memuji dirinya.


Baik sih baik, tapi sombong dan songongnya masih melekat.


Batin Joana. “Iya Pak, pasti enak, sekali lagi makasih.” Joana yang tidak mau ribut terus dengan teman serumah sekaligus bosnya itu, memilih menjawab dengn nada sopan, pelan dan lembut.


“Mau makan di mana? kamar? besok kita jual aja ini perabotan ruang makan, kalau semua aktifitas mau dilakukan di kamar,” protes lelaki itu dengan nada angkuhnya ketika melihat Joana hendak balik badan sambil membawa satu box nasi goreng itu.


Joana kembali menghadap mkan tubuhnya pada Alva. “Iya… di kamar Pak-“


“Duduk di sini, kita makan bersama. Saya mau bicara. Saya mau buat aturan-aturan yang harus dipatuhi di rumah ini.” tegas Alva, seraya menunjuk pada salah satu kursi makan, meminta Joana duduk di sana.


What? aturan? ngalah-ngalahin nenek nih, pakai ada aturan segala di rumah ini.


Joana mengangguk. “Oke Pak.”


“Tapi… sebelum kita bicara, bisa nggak kamu ganti pakaian kamu dengan yang lebih layak?” pinta lelaki itu, menaikkan kedua alisnya.


🍑


Jangan lupa like, dan komentnya

__ADS_1


__ADS_2