My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Positif Hamil


__ADS_3

Ya, hasilnya positif. Nek Merry justru tidak mendapat jawaban apapun dari Joana di dalam sana, hanya terdengar isak tangis wanita itu yang pilu dan menyedihkan.


“Joana, bukalah pintunya.” Alva menyusulnya dengan perasaan resah, khawatir Joana melakukan hal yang berbahaya dan tak masuk akal di dalam sana.


Wanita itu mengusap air matanya, mencuci wajahnya lalu menggenggam tespek berhasil positif itu. Dia keluar dengan menundukkan pandangan tanpa berani melihat ke arah nenek maupun kekasihnya. “Maafkan aku Nek.” Joana merasa berdosa dan tidak tahu diuntung, nenek sudah sangat baik pdanya tapi dia sepertinya sangat mengecewakan, dan Joana siap jika nenek harus mengamuk dan memaki dirinya.


Tapi, siapa sangka yang dia dapatkan adalah pelukan hangat dari nenek. “Nggak apa-apa, nenek pastikan Alva akan bertanggung jawab, dia harus bertanggung jawab.” sambil mengusap-ngusap punggung Joana. Padahal dia belum membagikan hasilnya.


“Kamu hamil kan?” tanya Alva, berbeda dengan Jona yang sedih dan ketakutan, lelaki itu justru semangat dan kegirangan.


“Mana, aku mau lihat hasilnya!” pinta Alva lagi.


Joana belum mampu berkata-kata. Dia hanya diam, bahkan setelah nenek melepas pelukannya. Dia hanya memberikan tangan kanannya pada Alva, bersamaan dengan sebuah tespeck yang ada di telapak tangannya itu.


“Yes!” lelaki itu justru berseru, membaca hasilnya menunjukkan tulisan yes.


“Kenapa kamu begitu senang, Mas? kamu senang lihat aku menderita?!” sentak Joana.


“Kata siapa kamu akan menderita, akan kupastikan kamu bahagia, dan nggak akan kekurangan apapun, termasuk kasih sayang dariku. Thankyou Joana.” Kini gantian lelaki itu yang memeluk erat tubuh lemah Joana.


“Tetapkan tanggal pernikahan kalian, segera!” titah nenek.


“Apa kita akan mengadakan pesta pernikahan, Nek?” tanya Alva polos.

__ADS_1


“Pesta? jangan mimpi, yang penting sah aja dulu kalian berdua. Kamu nggak lihat gimana reaksi mamamu tadi?”


Joana memasang tampang panik. “Kita nggak direstui orang tuamu, Mas. Jadi jangan berharap-“


“Biar itu menjadi urusanku, Joana.” tegas Alva.


“Hasilnya positif?” tanya Dokter Rika.


Joana mengangguk malu-malu, masih tak menyangka di dalam rahimnya kini sedang tumbuh hasil perbuatan dosa mereka.


“Saya nggak bisa berbuat banyak, tapi saya sarankan besok segera ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, ya!” ujar Dokter Rika.


“Makasih banyak Dokter,” sahut Nenek.


“Sama-sama, kalau begitu saya permisi.”


Joana tampak kebingungan, dia menyentuh perutnya. Masih tak percaya dengan keadaan ini.


“Ayo kita ke kamar lagi, istirahat. Kamu mau makan? aku suapin?”


Joana masih menunduk, tak ada gairaah untuk mengangkat kepalanya. “Apa aku menggagalkan acara makan malam keluarga?” rasa bersalah yang menerpa di benaknya kini bertubi-tubi.


“Jangan pikirkan itu, Joana. Ya memang semuanya kacau. Tapi keadaanmu sekarang juga butuh perhatian.” tegas nenek. “Besok periksakan keadaan janinnya di rumah sakit!”

__ADS_1


“Nenek marah ya?” Joana bahkan tak berani bertatapan dengan nek Merry.


“Nenek senang kalian bisa berinteraksi dan berkenalan, kalian bisa dekat. Tapi nenek nggak nyangka kalian akan sejauh ini.” Itulah yang sebenarnya dirasakan nenek. Sayang sekali mereka berdua tidak bisa menahan gejolak yang harusnya mereka lakukan setelah sah.


“Semua salahku Nek. Joana nggak salah.” Alva mengakui itu.


“Udah, berhenti membahas ini salah siapa. Persiapkan pernikahan kalian sejak hari ini. Alva, nenek tau mamamu nggak akan beri restu, jadi jangan bermimpi untuk mengadakan pesta pernikahan. Cukup sebatas sah aja dulu sebelum perut Joana membesar.”


“Iya, Nek.” Alva pun tak mampu menjawab banyak kata. Setidaknya dia bersyukur masih ada satu orang yang mendukungnya yaitu nenek.


“Apa kalian sering melakukannya? selama nenek nggak ada?” tatapan tajam nenek berikan pada mereka berdua.


Joana menggeleng cepat. “Hanya satu kali Nek, malam itu Mas Alva mabuk, dan menyerangku begitu aja.” Aku Joana.


Plak.


Tamparan keras mendarat di pipi Alva. “Duh Nek. Iya aku akui aku salah.”


“Itu artinya kamu diperkosa dia, Joana?” tanya nenek lagi.


Joana menggeleng lagi, bagaimana cara menjelaskannya. Tidak serta merta salah Alva karena saat itu dia juga seperti tak bisa menolak lelaki itu.


“Berhenti membahas itu Nek. Yang penting kami saling cinta, sekarang. Iya kan sayang?”

__ADS_1


Membahas soal cinta, Joana sendiri tak yakin. Apa perasaannya untuk Alva sudah sejauh itu?


“Iya Mas.” demi menghargai Alva, akhirnya Joana menjawab seadanya.


__ADS_2