My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Hari pertama menikah


__ADS_3

Segala sesuatunya yang berkaitan dengan pernikahan, dipersiapkan secara cepat dan singkat oleh Joana dan Alva. Atas permintaan nenek, mereka harus segera menghalalkan hubungan mereka sebelum perut Joana membesar dan dosa mereka semakin bertambah. Hingga tibalah hari ini, satu minggu setelah Joana dinyatakan hamil, mereka akan melangsungkan pernikahan secara sederhana bertempat di rumah nenek.


Alva mengabaikan permintaan dan kekhawatiran Joana soal restu orang tua yang belum mereka dapatkan. Selagi nenek mendukung, Alva tak takut apapun. Karena dia merasa nenek lebih berhak atas dirinya, yang sudah merawatnya sedari kecil.


Sedangkan Joana hanya merasa pernikahan ini takkan sempurna tanpa restu dan kehadiran orang tua. Tidak lengkap, apalagi dia yang statusnya hanyalah seorang yatim piyatu. Ditambah orang tua Alva yang tidak menyukainya sama sekali, membuat Joana merasa insecure.


Tapi Alva mampu meyakinkan dirinya hingga hari ini tiba. Meski hanya menggelar acara sederhana, Joana tetap berpenampilan layaknya pengantin. Dengan balutan kebaya dan riasan simple di wajahnya, membuat pernikahan ini seperti pernikahan sempurna yang dialami orang-orang pada umumnya.


“Saya terima nikah dan kawinnya Joana Avilia Binti Almarhum Johansyah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Suara Alva terdengar sedikit bergetar kala itu. Dia sedang menjabat seorang wali hakim. Meski sangat gugup, dia bisa mengucapkan kalimat sakral itu secara mantap.


“Bagaimana para saksi, sah?”


“Sah!”


“Alhamdulillah.” sambut beberapa orang yang hadir di sana. Pihak keluarga Alva hanyalah nenek, sedangkan Joana tidak ada sama sekali. Bahkan Joana tidak memberitahu Daniel, dan keluarga angkatnya.


Joana membuang napas kasar, kini statusnya resmi menjadi seorang istri dari Alva. Untuk pertama kalinya mereka bersamalan, Joana langsung mencium punggung tangan dari wanita yang sudah sah menjadi suaminya itu.


Padahal, mereka sudah sering bersama. Hanya berdua, tidur berdua. Tapi untuk saat ini, semuanya terasa berbeda. Joana gugup, begitu juga dengan Alva. Joana pernah memimpikan menikah, dengan pesta megah andai dia mendapatkan lelaki kaya. Tapi untuk saat ini, Joana hanya mendapatkan seorang lelaki kaya tanpa bisa merasakan sebuah pesta pernikahan, mengundang teman-temannya, memamerkan suaminya. Joana tak bisa melakukan itu.

__ADS_1


“Youre mine, from now and forever.” sempat-sempatnya Alva membisikkan kalimat itu di sela-sela kedekatan mereka usai akad nikah. Sedangkan Joana sendiri masih bingung dengan keadaan ini.


🍑


“Kamu kenapa? ada yang salah?” Alva merasa bingung sebab Joana tak banyak bicara sejak akad mereka dilangsungkan. Joana juga sudah berpindah kamar, kini mereka tidur di kamar yang sama.


“Nggak apa-apa, Mas.” Joana menoleh sekilas, dia sedang duduk di hadapan meja rias.


“Aku tau kamu sedih karena kita nikah tanpa orang tua dan tanpa pesta pernikahan. Tapi percayalah, perlahan kita pasti membuktikan ke mereka kalau pilihan kita ini tepat. Tunggulah sampai anak kita lahir.”


Joana mengangguk. Dia tidak menyangkal kalimat suaminya. Semua yang Alva katakan benar. Dia bersedih nikah tanpa orang tua.


Joana malah menggeleng. “Aku lapar, Mas.”


“Lapar?” Alva heran tentu saja, sebab mereka baru saja selesai makan malam sejak satu jam yang lalu.


“Iya. Gimana kalau kita… jalan-jalan cari makanan di luar?”


“Boleh kalau itu mau kamu.” Alva tak mungkin menolak permintaan itu. Dia pun segera mengubah posisinya menjadi duduk.

__ADS_1


Joana tampak lebih ceria karena permintaannya dituruti. “Tapi kita nggak usah naik mobil, Mas. Naik motorku aja, ya?” pinta Joana lagi.


“Apa?! nggak, ini udah malam.”


“Mas, memangnya kenapa kalau malam-malam baik motor? aku sering kok.”


“Sejak sekarang, nggak akan ada lagi.”


“Tapi aku pingin Mas. Aku pingin peluk kamu di atas motor.” tegas Joana.


“Boleh, kalau itu alasannya. Tapi pakaianmu harus serba tertutup supaya nggak masuk angin, oke?” Alva membuat persetujan pada istrinya.


“Oke!” Joana tersenyum senang mengacungkan jempolnya tanda setuju. Belum terlalu larut, masih sekitar jam sepuluh malam. Tapi bagi Alva, permintaan Joana ini akan membahayakan dirinya yang sedang hamil.


“Semoga nenek mengizinkan.” Gumam Alva lagi.


“Nenek udah tidur Mas. Nenek nggak akan tau kita keluar kalau kamu nggak berisik.” sindir Joana.


🍑

__ADS_1


Maaf ya baru up, aku banyak kegiatan di real life. Biasalah, menjelang idul fitri😄


__ADS_2