
Joana benar-benar membuktikan ucapannya. Sepanjang jalan, wanita itu memeluk erat tubuh Alva. Dia mengatakan ingin memeluk lelaki itu di atas motor, lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya. Joana rasa semuanya seperti mimpi. Dia sudah menikah, karena sebuah kecelakaan. Bahkan pernikahan mereka juga terkesan disembunyikan. Harusnya, menjadi pengantin baru memberi kesan bahagia bagi yang mengalaminya. Tapi tidak dengan Joana. Dia justru semakin resah dan gelisah karena tidak mengantongi restu kedua orang tua Alva. Bahkan, jelas sekali mama mertuanya itu memusuhinya dan menganggapnya sebelah mata.
“Aku nggak kemana-mana, Joana.”
“Apa, Mas?”
Joana tidak terlalu mendengar apa yang baru saja diucapkan suaminya karena dia sedang sibuk dengan lamunannya sendiri. Tidak hanya itu, suasana kendaraan malam di kota yang berlalu lalang membuatnya tidak bisa mendengar jelas ucapan Alva.
“Aku nggak lari ke mana-mana, kenapa kamu peluknya erat banget?” Alva mengencangkan volume suaranya.
“Aku cuma… cuma takut Mas.” lirih Joana.
Alva tidak menanggapi kalimat istrinya. Dia justru memberi usapan lembut pada tangan Joana yang masih memeluknya sangat erat.
\~
Joana yang memilih tempat kali ini. Alva tak bisa menolak dengan alasan apapun. Karena bisa saja permintaan Joana sekarang adalah permintaan jabang bayi mereka.
“Kamu suka sate di sini?” tanya Alva saat mereka sudah duduk saling berhadapan.
“Aku sering makan di sini,” sahut Joana.
“Sama siapa?”
“Sama… Zea, kadang sama Kak Daniel. Pernah juga sendiri,” jawab wanita itu apa adanya.
“Hm. Mulai sekarang, kamu cuma harus pergi makan denganku, jangan yang lain-lain.” Alva mengingatkan.
Joana mengangguk. “Iya Mas. Yakin banget ngomong gitu, memangnya kamu selalu punya waktu?” sindir Joana.
“Akan aku usahakan. Besok kamu ajukan surat resign, ya! aku nggak ngizinin kamu bekerja lagi.” tegas Alva.
“Resign?! kenapa Mas?”
“Tujuan kamu bekerja untuk apa?” tanya Alva.
“Cari duit untuk hidup,” sahut Joana cepat.
__ADS_1
“Sekarang, kamu nggak perlu lagi lakukan itu. Udah ada yang menafkahimu, lahir dan bathin Joana. Aku mau kamu fokus di rumah jaga kesehatan dan jaga kehamilan kamu.” pinta Alva. Kali ini dia melembutkan anda bicaranya agar Joana mau menerima saran dan menuruti kata-katanya.
“Tapi Mas…” Joana ragu. Dia yang selalu disibukkan dengan sebuah rutinitas setiap hari sebagai seorang pegawai resepsionis, tiba-tiba harus di rumah saja tidak melakukan apapun, apa dia sanggup?
“Kalau aku bosan di rumah, gimana?”
“Kita jalan-jalan,” jawab Alva dengan mudahnya.
“Ih kamu Mas, ngomong sih gampang. Kamu kan sibuk.” ketus Joana. “Ya udah aku di rumah aja bareng nenek.” secara tak langsung Joana menerima satan dari suaminya untuk resign. Sejujurnya Joana lelah sudah mencari nafkah untuk diri sendiri selama bertahun-tahun.
“Jadi kamu mau resign, dan di rumah aja, kan?”
Joana mengangguk. “Ehm. Tapi… kamu harus janji dulu Mas.”
“Janji apa? soal uang? dan nafkah, tenang aja-”
“Bukan, bukan itu.” Ada hal yang lebih Joana khawatirkan lagi selain tentang uang.
“Jangan tinggalin aku. Kamu kan tau, orang tua kamu benci aku karena aku nggak selevel dengan kamu, Mas. Jangan menikah dengan perempuan pilihan mereka, ya Mas?” Mata Joana tiba-tiba berkaca saat mengatakan itu. Entah mengapa di hari pertama menikah kali ini, perasaannya sangat mellow.
“Permisi Mbak, Mas. Pesanannya.”
obrolan mereka terhenti sejenak saat pedangan kaki lima mengantarkan pesanan mereka.
“Makasih ya Mas,” ucap Joana.
“Sama-sama, Mbak. Lama nggak kelihatan ya Mbaknya, ini pacar barunya Mbak?” penjual sate itu memang sudah lumayan kenal dengan Joana, karena dia memang pelanggan di situ.
“Suami, Mas. Saya suaminya.” Kali ini Alva yang menjawab.
“Owalah, lama nggak muncul, ternyata sudah menikah to Mbaknya.”
“Iya Mas. Suami saya.” Joana menampilkan senyum sumringah.
“Enak nggak, Mas?” tanya Joana penuh harap. Ya… dia berharap Alva juga suka makanan ini. Jadi, nanti suaminya itu tidak merasa keberatan kalau diajak ke sini sewaktu-waktu.
“Boleh juga,” sahut Alva. “Ayo cepat habiskan. Ini udah terlalu larut, untuk seorang bumil masih berkeliaran.”
__ADS_1
Joana terkekeh. “Masih jam sepulub loh, Mas. Biasanya kalau kelaparan, jam dua belas aku masih berkeliaran.”
“Mulai sekarang, nggak boleh lagi.”
“I know, tapi kalau sesekali aku pingin keluar, boleh ya?” pinta Joana.
“Boleh. Satu bulan sekali-“
“Mas…” rengek Joana.
“Kamu harus bisa menghilangkan kebiasaan buruk kamu, suka berkeliaran malam-malam. Itu nggak baik, dan mulai sekarang, kamu juga nggak boleh berteman dengan Zea.” tegas Alva.
“Mas, kamu ini maunya apa? aku nggak boleh kerja, aku nggak boleh ke mana-mana, dan sekarang kamu juga larang aku berteman?” kali ini Joana sedikit tidak terima dengan permintaan Alva. Ternyata lelaki ini, semakin terlihat sifat aslinya. Suka mengekang Joana, bahkan membatasi pergaulannya.
“Zea itu nggak sebaik yang kamu pikir, sayang. Kamu udah selesai kan? ayo kita pulang.” Alva sadar dia sudah membuat hati Joana bersedih, diapun melembutkan nada bicaranya.
*
“Kalian dari mana aja?” begitu sampai di rumah dan membuka pintu dengan kunci cadangan. Sepasang pasutri baru itu, langsung berhadapan dengan nenek mereka.
“Joana kelaparan Nek, dia minta keluar cari makanan.” Alva tentu tidak mau menjadi bahan amarah sang nenek, menyebut nama Joana agar bisa mendapatkan pembelaaan.
“Iya Nek, maaf ya… nggak kasih tau nenek. Aku pingin makan sate.” Kali ini Joana yang bersuara.
“Ya udah, nggak apa-apa. Sana kamu masuk kenkamar istirahat!” titah sang nenek.
“Iya Nek.” Joana menurut, dia melewati nenek yang masih berdiri di ambang pintu, dan segera menuju ke kamarnya.
“Ada apa Nek? nenek kenapa belum tidur?” tanya Alva.
“Mama kamu, masuk rumah sakit, Alva. Ayo sekarang kita ke sana!”
Joana sadar, dia baru saja diberi titah masuk ke dalam kamar, sedangkan Alva dan nenek akan pergi ke rumah sakit karena mamanya Alva. Tapi dia sama sekali tidak diajak, itu artinya, dia tidak diakui sama sekali, bukan? Tiba-tiba Joana merasa semakin sedih. Dia masuk ke dalam kamarnya sendiri. Bukan kamar yang Alva yang sudah menjadi kamar mereka berdua.
\~
Maaf ya baru update. Tenang aja aku bakal up ini sampai tamat kok walaupun lama 😁🙏
__ADS_1