
Entahlah… akupun nggak ngerti kenapa aku terus ingin mengganggumu.
Alvandro Ricolas yang masih membungkam bibirnya hanya mampu menjawab dalam hati. Ada sendu yang pilu saat dia menatap mata Joana yang sepertinya sedang menyimpan kesedihan mendalam.
Selama beberapa detik menanti jawaban dan Alva masih terdiam, Joana memilih melanjutkan langkah. Mau tidak mau Alva mengikutinya lagi dan lelaki itu benar-benar sudah meninggalkan mobilnya. dia rela Berjalan kaki demi Joana. Sedikit lagi mereka tiba di rumah ketika pagar rumah kesayangan Nek Merry mulai terlihat.
Tak ada kata-kata apapun lagi yang keluar dari mulut mereka berdua. Alva hanya mengikuti Joana sampai wanita itu tiba di rumah, dan dengan berar hati dia harus kembali lagi ke tempat di mana dia memarkirkan mobil tadi.
“Arrrgh.” Alva menggeram kesal dengan kelakuannya sendiri.
Joana menoleh ke belakang saat Alva meninggalkannya dan berjalan berlawanan arah dengannya. “Kenapa sih dia?!”
Sial sekali, saat Joana masih menatap punggung lelaki yang sedang berjalan semakin jauh itu, Alva juga menoleh ke arahnya, hingga tatapan mereka kini bertemu selama beberapa detik, setelahnya Joana langsung kabur dan membuka pagar rumah.
Ting.
__ADS_1
Ting.
Ponsel Jona berbunyi, dua kali, dia tanda bunyi itu adalah notifikasi Whatsapp. Siapa yang iseng mengirimnya pesan di jam seperti ini?
Beb, jalan yuk. Makan atau nongkrong.
Joana tersenyum, membaca pesan itu. Ya… akhirnya dia ada alasan untuk bisa keluar rumah, dari pada terus terperangkap bersama Alva. Zea mengajaknya keluar malam ini. Walaupun sebenarnya dompet dan saldo rekeningnya mulai menipis. Tapi tidak apa, asalkan ada alasan bisa keluar rumah.
*Boleh, sekarang?* gue mandi dulu. Baru aja nyampe rumah.
Gadis itu tak ingin lagi mengulang kebodohannya. Sebelum masuk ke kamar mandi, Joana tak lupa membawa pakaian ganti. Suara pagar rumah yang dibuka lebar terdengar di luar sana dan Joana cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi sebelum nanti harus berpapasan lagi dengan lelaki itu.
Alva masuk ke dalam rumah, disambut oleh suara percikan air di dalam kamar mandi. Dia mengulas senyum, senyum yang dia sendiri tidak tahu apa maksudnya.
Di dalam kamarnya, Alva memikirkan seribu satu alasan agar dia bisa berbincang dan mengobrol dengan Joana. Ingin memperbaiki hubungan, bukan… maksudnya, dia ingin memperbaiki situasi yang tidak bersahabat ini. Alva juga ingin berdamai dan memiliki teman serumah yang bisa di ajak ngobrol, diajak berbincang. Tapi sepertinya saat ini hal seperti itu tidak mungkin dia lakukan bersama Joana.
__ADS_1
Lelaki itu mengambil ponselnya dari dalam saku jas, dia baru ingat pagi tadi nenek menghubunginya dan menyampaikan sebuah pesan pada Joana, saking kalutnya pikiran Alva, dia sampai tidak ingat akan hal itu.
🍑
motor lo masih rusak, kan? gue jemput aja ya. Sekarang gue otw.
Joana baru saja sesai mandi, belum berganti pakaian, belum dandan, tapi Zea sudah mau menjemputnya. Dan Joana baru ingat, bisa gawat kalau Zea datang ke rumah ini, mobil Alva terpampang nyata di luar sana, pasti akan membuat sahabatnya itu bertanya-tanya.
Beb, gue naik taksi aja. Lo langsung jalan ke tempat biasa. Nggak apa-apa, gue naik taksi.
Joana langsung bersiap, dandan secantik mungkin. Barang kali nanti di luar sana ada lelaki tajir, tampan dan baik hati yang meliriknya. Joana memilih sebuah dress berwarna cream, panjang di bawah selutut dan bagian tangannya sesiku. Cukup sopan untuk keluar di malam hari. Dia juga menggerai rambut panjangnya, membiarkan terlepas begitu saja.
Gue udah otw ke arah rumah lo. Udah deh aman, sekalian jalan gue jemput. Jangan bales lagi karena gue nyetir! dua puluh menit lagi gue nyampe.
“Duh Zeaaaa.” keluh Joana. “Gimana ini?” jalan satu-satunya adalah Joana menunggu beberapa meter jauh dari rumah, dari pada Zea heran mengapa ada mobil Alva di rumahnya. “Kacau nih kalau sampe Zea tau, apalagi Zea terlalu memuja muji si bos songong.” Joana masih mondar mandir di dalam kamarnya.
__ADS_1