My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Gila ya!


__ADS_3

Joana hanya mengikuti saja kemauan Zea. Sahabatnya yang satu itu kelakuannya memang ada-ada saja. Zea termasuk salah satu wanita yang nekat jika sudah soal cowok. Dalam satu bulan, entah berapa orang yang sudah dia temui. Memang jika baru berkenalan, hanya sebatas bertemu saja, tidak ada yang lain-lain. Tapi jika sudah menjurus ke arah jadian, Zea rela berciuman jika pria itu adalah tipenya. Begituah Zea. Berbeda dengan Joana yang sama sekali tidak peduli dengan pria manapun, dan ciuman pertamanya dicuri oleh…


Huh. Bos gila!


Joana mengumpat lagi jika mengingat itu.


Tidak ada cowok yang dekat dengan Joana selama ini, mungkin karena selama ini hidupnya dipantau oeh Daniel si kakak angkat, juga perasaannya belum bisa berpindah dari Daniel untuk lelaki lain.


“Ingat ya Ze. Kalau mereka mulai aneh-aneh, gue langsung pulang!” Joana kembali mengingatkan.


“Aneh-aneh gimana sih yang lo maksud?!” protes Zea, kini mereka sudah tiba di tempat tujuan.


Joana mengikuti langkah Zea yang sedang mencari meja yang akan mereka tempati sesuai perjanjian.


“Ya mereka kan cowok-cowok yang baru dikenal, apalagi kenalannya via aplikasi. Gue nggak mau kalau sampai mereka merendahkan kita.”


“Tenang sayang, enggak akan kok. Ayo cepetan dong jalannya, dan jangan nunduk melulu. Tegakkan kepala lo beb. Biar cowok-cowok lihat gimana cantiknya kita, oke?!” zea menyentuh dagu Joana.


“Ckckc. Lo udah kayak mucikari yang mau ngasih gue pelanggan tau nggak?!” Joana terkekeh geli.


“Cmon beb!”


“Hai Mas Raja!” Zea melambaikan tangannya kepada seorang lelaki yang sedang duduk dengan jarak sepuluh meter dari tempat mereka berdiri.


“Zearra?” lelaki bertubuh proporsional dan berwajah manis khas lelaki Jawa itu langsung berdiri, menyambut Zea dengan mengulurkan tangannya.


“Yes, benar Mas.” Zea menyambut uluran tangan Raja dan mereka bersalaman, tapi Raja langsung menariknya untuk cipika cipiki, dan itu membuat Joana ternganga.


“Ternyata, kamu lebih cantik aslinya dari pada di foto,” puji lelaki itu.


Benar dugaan gue, mereka bukan cowok baik-baik. Joana mengumpat dalam hati.


“Terima kasih Mas. Oh ya, kenalin ini temanku, Joana.” Zea beralih pada Joana.


Joana masih berdiri dengan jarak dan terhalang meja, hanya mengulurkan tangannya malas “Joana.”


“Raja, ayo silakan duduk.” pinta lelaki itu setelah bersalaman dengan Joana.


“Sendirian, Mas?” tanya Zea. Karena lelaki itu mengatakan akan membawa teman dekatnya, tapi nyatanya dia hanya sendiri.

__ADS_1


“Sebentar lagi temanku nyusul, katanya lagi otw. Ayo silakan menunya.” lelaki itu tersenyum ramah. Dari gelagatnya menang terlihat pria baik-baik dan terpelajar.


“Makasih Mas.” Zea beralih pada Joana dan mereka memilih menu bersama-sama.


“Gue ngikut lo aja ya Ze.” bisik Joana. Dia tidak terlalu mengerti tentang menu-menu makanan semewah ini.


“Okey.”


Setelah memesan, mereka kembali berbincang. Tapi hanya Zea dan Raja saja. Sedangkan Joana hanya diam seakan tidak tahu harus mengobrol apa karena memang Raja dan Zea terlihat asyik.


Beneran kan gue cuma jadi obat nyamuk. gerutunya.


Alhasil Joana mengambil ponselnya, untuk mengusir kebosanan.


“Jadi, kamu seorang sekretaris?” tanya Raja pada Zea.


“Benar Mas.”


“Kamu nggak ada rencana pindah ke perusahaan lain?” Raja tertawa.


“Dulunya sih pernah sempat kepikiran, tapi sekarang enggak. Aku udah menetap di sana. Kenapa Mas?” tanya Zea serius.


Joana mendengar dengan jelas percakapan mereka dan dia ingin muntah rasanya. Lelaki tukang bual!


“Haha. Enggak Mas aku udah betah di tempat yang sekarang.”


Raja mengangguk. “Aku mengerti, kalau Joana bekerja di?” mata Raja beralih pada Joana.


“Saya kerja di tempat yang sama dengan Zea Mas. Saya bagian resepsionis.”


Raja mengangguk. “Sabar ya, sebentar lagi kamu bakalan punya teman ngobrol, dan jangan kaget nanti kalau temanku ini lebih keren dari pada aku. Zea, kamu jangan terpesona dengan temanku, ya?” Raja terdengar bercanda, tetapi lelaki itu sebenarnya serius.


“Ah, nggak dong. Di hatiku cukup ada Mas Raja.” gombal Zea.


Joana benar-benar mual melihat tingkah Zea, andai mereka hanya berdua saja, ingin Joana menimpuk kening wanita itu rasanya.


“Al!” Raja tampak sedang memanggil seseorang sambil melambaikan tangan, dan dua wanita itu menoleh ke arah di mana Raja melihat.


Apa yang mereka lihat, sukses membuat dua wanita itu terperangah. Jika Zea senang, tampak bahagia, dan bersiap-siap menyambut lelaki itu, Joana justru ingin kabur dan bersembunyi di bawah meja.

__ADS_1


Memangnya dunia sesempit itu?!! gila ya! nggak di rumah nggak di mana-mana.


Lama-lama Joana bisa darah tinggi jika terus mengumpat dan marah di dalam hati seperti ini.


Aarggh.


Ya, lelaki itu adalah Alva. Sejak melihat di mana keberadaan Raja dan dua orang wanita itu, dia langsung berjalan dengan semangat ke arah mereka. Alva menampilkan senyum yang sulit diartikan, dan tatapan matanya hanya menjurus pada satu orang, yaitu Joana.


Hm, ternyata, kalau jodoh memang nggak akan ke mana.


Jika Joana mengumpat, Alva justru bersyukur mereka bertemu di sini.


“Ya ampun Pak Alva ternyata temannya Mas Raja?” Zea memasang tampang dan senyum semanin mungkin. Pucuk dicinta ulampun tiba.


“Zea, bosan saya ketemu kamu lagi di luar jam kerja.” cetus Alva.


“Kalian saling kenal?” Raja seakan tidak terima kenyataan. Apa lagi melihat bagaimana Zea menyambut Alva.


“Ya Mas, aku sekretarisnya Pak Alva,” sahut Zea.


“Oh I see, pantas aja kamu bilang nggak akan mau pindah ke perusahaan lain,” ucap Raja lalu tertawa sarkas.


Alva duduk di hadapan Joana yang sedari tadi hanya mampu diam, menunduk, terlihat enggan peduli.


“Ini Joana teman saya Pak.” dengan berat hati, Ze mengenalkan mereka.


“Oh ini yang namanya Joana?” Alva berpura-pura tentu saja. “Ternyata dia teman kamu?” akting tentu harus maksimal.


“Iya Pak.” Zea menyenggol lengan Joana dengan sikunya, bermaksud agar sahabatnya itu berlaku sopan dan menatap lawan bicaranya.


“Iya Pak saya Joana, pegawai resepsionis di perusahaan Bapak.” tegas Joana tanpa mengulurkan tangan. Ingat bagaimana sombongnya Alva beberapa waktu lalu yang tak mau menyambut uluran tangannya saat berkenalan.


Kini justru Alva mengulurkan tangannya. “Mari berteman,” ucap lelaki itu.


Joana takut-takut hendak menyambutnya, dia melirik Zea sekilas dan wanita itu tersenyum tipis ke arahnya. Pada akhirnya mereka bersalaman dan sial sekali, Alva dengan beraninya menggelitik telapak tangan Joana dengan satu jarinya, membuat Joana segera menarik tangannya dari genggaman lelaki itu.


Nih orang semakin menjadi aja pastinya. Sumpah nyesal banget gue ngikut kemauan Zea.


🍑

__ADS_1


Makasih untuk yang selalu ngikutin cerita ini 🥰


__ADS_2