
Alva memejamkan mata setalah membaca balasan chat dari Joana yang jelas-jelas menolak ajakannya dengan alasan kurang sehat. Joana benar-benar beda, bukan sembarang wanita. Dia langka dan unik, meski Alva sempat menuduhnya perempuan murahann hanya karena sering berpakaian asal di hadapannya. Tapi ternyata Joana tidak serendah itu, dan tidak mudah tergoda dengan barang-barang mewah.
“Kurang sehat apanya?” gerutu Alva. “Jelas-jelas tadi dia baik-baik aja, cukup sehat. Alasan aja.”
Lelaki itu meletakkan asal ponselnya di atas meja, lalu mengusap kasar wajahnya. Beberapa detik setelahnya, Alva mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Zea kembali masuk ke dalam ruangan dengan membawa lagi secangkir kopi untuk menggantikan yang tadi sempat tumpah mengenai kemejanya.
“Untuk acara ulang tahun perusahaan malam ini, apa udah dipastikan undangannya tersebar ke semua karyawan tanpa terkecuali?” Alva langsung menyodorkan pertanyaan itu pada Zea.
“Udah Pak.”
“Kamu pergi sama Joana?” pertanyaan kali ini berhasil membuat Zea memejamkan mata.
“Enggak Pak, kami nggak membahas hal itu sedikitpun,” jelasnya.
“Kamu mau pergi bareng saya?” tawaran yang tak disangka-sangka datang dari Alva, berhasil membuat Zea terperangah.
Zea mengangguk mantap. “Mau Pak.” mana mungkin dia menyia-nyiakan ajakan itu.
“Tapi pastikan kamu ajak Joana juga!” titahnya. “Bujuk dia sampai dia mau-“
__ADS_1
“Kalau itu saya nggak bisa janji, Pak!” tegas Zea meninggikan suaranya. Dia benar-benar sudah muak mendengar lelaki itu terus menyebut-nyebut nama Joana di hadapannya. “Pak, ada apa dengan Joana?” lirih Zea.
“Ada apa? saya suka dia, memangnya kenapa?” kali ini Alva tak peduli lagi, dia akan terang-terangan di depan Zea tanpa mau menutup-nutupi lagi. Karena menurutnya menutupi hanya akan menghambat urusannya dengan Joana.
“Nggak apa-apa Pak.” Zea menghela napas berat, akhirnya kalimat pengakuan yang memuakkan dari Alva itu keluar juga dari mulutnya. Lalu senyum licik terbit dari bibir mungil Zea.
🍑
Pesta ulang tahun perusahaan diselenggarakan di salah satu hotel mewah berbintang, pesta yang akan dihadiri oleh banyak perwakilan dari perusahaan lain, terutama para petinggi. Untuk itu, Zea tak ingin penampilannya asal-asalan. Dia harus tampil maksimal. Di apartemennya, Zea sudah bersiap-siap merias dirinya semaksimal mungkin, wanita itu memakai dress berwarna hitam, dipadu dengan warna gold di bagian dada dengan potongan rendah, memperlihatkan belahan dadanya yang padat. Zea tersenyum, menatap pantulan dirinya di cermin, tak hentinya dia memuji dirinya sendiri betapa sempurna dirinya. Wajah cantik, body sempurna.
Joana, lo nggak ada apa-apanya di banding gue.
Tiba di tempat tujuan, Zea langsung mencari sosok yang dibutuhkannya. Alva, ya lelaki itu sudah duduk di antara para petinggi lainnya di meja khusus VVIP, spesial disediakan untuk tamu-tamu penting. Zea tak sungkan, bergabung dan menempati kursi kosong di sana. Seketika dia menjadi pusat perhatian karena dia satu-satunya wanita yang berani bergabung di sana, dan dia disambut dengan baik. Apalagi dengan penampilannya yang mengaggumkan.
Alva teresenyum menanggapi kehadiran Zea. Lalu lelaki itu mendekatkan wajahnya pada sekretarisnya itu. “Di mana Joana?” bisik Alva.
“Saya nggak tau Pak,” jawabnya singkat. “Ada saya di sini, kenapa masih nyariin Joana? saya kurang menggoda?” lalu Zea tertawa. “Bercanda Pak, jangan anggap serius,” ucapnya lagi sambil menepuk pundak Alva.
Lelaki itu langsung menjauhkan diri dari Zea, karena kedekatan mereka mulai menjadi pusat perhatian dan tak menanggapi sedikitpun ucapan rayuan sekretarisnya itu.
__ADS_1
“Serasi sekali Pak, sama-sama muda. Baru kali ini saya melihat atasan dan sekretaris seperti ada chemistrynya.” puji salah satu tamu di sana.
Alva hanya tersenyum kaku. “Ya begitulah kami, terlihat cocok, padahal sering berdebat.”
Zea sendiri tersenyum malu-malu dianggap seperti itu.
lihatlah dunia juga pada tau, kalau kita itu cocok. Lo aja yang nggak nyadar-nyadar! masih aja ngarap Joana yang nggak ada apa-apanya!
“Eum, Pak… mau saya mintakan ke pelayan, red winenya lagi?” Zea menyentuh pundak Alva, menawarkan sesuatu yang mungkin lelaki itu butuhkan karena tampak gelas Alva sudah kosong begitu juga dengan beberapa botol anggur yang ada di sana.
“Boleh, Zea. Thanks before,” jawabnya singkat bahkan tanpa menoleh pada Zea karena dia sedang asyik mengobrol dengan tamu-tamu pentingnya. Lalu wanita itu berlalu pergi, meninggalkan mejanya untuk mencari dan memanggil pelayan yang siap menyajikan minuman lagi di meja itu.
Pikiran Alva benar-benar tak bisa fokus di sini saja. Pikirannya terbelah pada seseorang yang saat ini mungkin sedang berada di rumah, menyendiri dan katanya sedang kurang sehat. Benarkah Joana sedang sakit? Raganya memang ada di sini, tapi tidak dengan pikiran dan hatinya. Sebenarnya, Alva berencana untuk menjemput Joana secara paksa, tetapi niat itu dia urungkan karena paham bagaimana keras kepalanya gadis itu. Sekali tidak, tetaplah tidak dan hal itu hanya akan membuang-buang waktu saja, sementara Alva tak ingin kehadirannya terlambat karena dia harus menyambut dan melayani tamu-tamu penting dari perusahaan rekanan.
Beberapa menit setelahnya, Zea kembali lagi dan wanita itu sedang membawa sebuah botol anggur yang sudah terbuka, juga segelas air putih khusus untuk Alva. “Mereka lupa air putihnya ya Pak? ini saya bawakan sekalian.” Masih dengan memasang tampang sok manisnya. Dan dia percaya diri sekali bahwa Alva akan luluh padanya karena sikap manis dan perhatiannya ini.
“Oh ya. Makasih,” sahut Alva masih terlihat acuh tak acuh.
🍑
__ADS_1
Kesal kan sama Zea? sama dong wkwk