My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Dijebak Zea


__ADS_3

Joana mengusap bibirnya sendiri dengan punggung tangan. “Sial! argh!” wanita itu mengentakkan kakinya kesal sekali dia selalu kecolongan karena Alva selalu berbuat sesuka hati padanya.


beneran gue kayak wanita murahan jadinya. sialan tuh bos


Gadis itu menggerutu dan mengumpat dirinya sendiri dalam hati.


“Lama banget?” protes Zea, jika Joana telat beberapa detik saja keluar dari pagar, wanita itu memang berniat menyusul.


Zea tampak celingak celinguk melihat ke arah halaman rumah, ada sebuah mobil yang cukup dikenalinya tetapi Zea tidak bisa melihat nomor polisi di mobil itu karena suasananya cukup gelap hingga dia ragu ingin menerka.


“Iya, kan udah gue bilang tadi gue baru pulang jadi ya… siap-siap dulu,” jawab Joana gugup, dia duduk di sebelah Zea, sedang memasang seat belt.


“Ayo, gue lapar!” ajak Joana, dia melihat gelagat Zea melihat ke arah mobil Alva. Sebelum wanita itu banyak bertanya, ada baiknya segera mengajak Zea pergi dari sini.


“Na, itu mobil siapa ya kok kayaknya gue nggak asing.” benar dugaan Joana, Zea pasti akan bertanya.


“Itu ada sodaranya nek Merry lagi ke luar negeri, jadi mobilnya dititip di sini.” sungguh Joana hanya mencari jawaban asal, yang penting masuk akal.


“Oh, ya… mirip mobil bos kita.”


Deg.


“lo bisa aja Ze, kan yang pakai mobil kayak gitu nggak cuma dia seorang.” Joana terkekeh. Dia mencoba meredakan kegugupannya agar tak terlihat.


“Tapi yang gue tau, mobil dia itu limited editons.”


“Seberapa terbatas sih? bisa aja kan di Jakarta ada yang pakai lebih dari satu. Eum, lo bilang mobil lo lagi di bengkel?” oke, saat ini Joana sedang mengalihkan pembicaraan agar Zea lupakan saja mobil yang terparkir di depan rumahnya saat itu.


“Iya sebenarnya… mobil gue nggak kenapa-kenapa. Gue cuma lagi nyari trik supaya ada alasan pulang bareng sama Pak Alva.” Zea tertawa genit sambil memukul stir mobilnya. “Tapi, kayaknya dia nggak mudah ditaklukkan, dan usaha gue harus lebih keras lagi.”

__ADS_1


Joana diam, belum menanggapi pengakuan sahabatnya itu. Segitunya Zea ingin mendekati Alva? Rasanya Joana saja muak setiap hari bertemu dengan lelaki itu.


“Udahlah Ze, sekadar suka ya boleh, mengagumi juga boleh, tapi jangan sampai kita terlihat murah dan cowok jadi ilfeel, lo harus kelihatan jual mahal.” Joana berucap layaknya suhu yang sudah pro sekali tentang urusan percintaan dan menaklukkan pria. Padahal, pengalamannya sendiri tak lebih dari seujung kuku.


“Boleh juga saran lo. Tapi gue mau nanya nih sama lo.” bukan tanpa tujuan Zea mengajak Joana bertemu dan makan malam. Dia tentu ingin mencari tahu sesuatu, mengingat jika di kantor, mereka tidak punya waktu berdua.


“Nanya apa? lo kelihatan serius banget. Gue jadi takut. Btw kita mau makan malam di mana sih? kok bukan ke arah tempat nongkrong kita biasanya?” protes Joana.


“Eum gini, jadi tadi pagi tiba-tiba Pak Alva nanyain tentang lo ke gue. Ya gue pura-pura kita nggak saling kenal aja-“


“Tunggu! buat apa dia nanyain gue?”


“Ya mana gue tau, pakai suruh gue nyari semua info tentang lo melalui data di HRD. Tapi sampai sekarang belum gue lakuin karena kami memang lagi sibuk dan banyak banget kerjaan.” Sebenarnya itu bukan alasan utama. Ada alasan lain yang Zea miliki, sebelum melakukan apa yang dipinta bosnya. “Lo yakin? nggak pernah bikin salah ke Pak Alva?”


“Lo tau kan, gue bukan orang yang suka cari masalah apalagi sama bos.” Joana menyangkal.


“Gue cuma khawatir aja, soalnya cara dia nanya pagi tadi kayaknya mukanya tu kesal banget, emosi gitu. Makanya gue khawatir, jangan sampai deh lo malah dipecat karena bikin salah.” Zea buka menakut-nakuti. Dia hanya ingin melindungi Joana.


Zea mengangguk setuju atas pernyataan Joana. “Oh ya, sebenarnya gue ngajak lo keluar karena gue mau ketemuan sama cowok kenalan gue dari aplikasi-“


“Zea…” lirih Joana. “Udah gue bilang, jangan pernah-“


“Tunggu! gue paham maksud lo. Ini cowok bukan sembarang cowok, gue udah lihat CV nya dan kita komitemen untuk saling tukaran daftar riwayat hidup supaya nggak ada kebohongan di antara kita.” tegas Zea.


Joana tertawa renyah. “Cuma daftar riwayat hidup Ze? itu bisa direkayasa!” sangkal Joana. “Udah deh yang nyata-nyata aja.”


“Ini nyata Na, ya gue cuma mau temenan doang sih. Target gue ya tetap bos kita lah!” Zea tertawa licik. “Tapi paling nggak kalau misi gue dekatin Alva gagal, gue udah punya cadangan.”


“Terserah lo deh. Terus kenapa lo ngajah gue?!” protes Joana, dia merasa terjebak. “Jadi obat nyamuk?”

__ADS_1


“Eits sabar dulu. Jangan ngamuk. Cowok ini bilang kalau dia nggak pergi sendirian, dia ngajak temannya yang jomlo juga. Jadi ya, biar nggak terlalu garing, dia minta gue bawa satu teman cewek yang juga jomlo,” jelas Zea dengan gampangnya.


“Gila lo ya! maksudnya ini double date gitu?!”


“Boleh juga kalau lo mau nganggap begitu. Udah deh, jomlo gila kerja kayak kita nggak bakal sempat nyari jodoh kalau nggak begini caranya.”


Joana geleng-geleng kepala. “Awas aja ya kalau kenalan lo dan temannya itu aneh-aneh ke kita. Ngajakin check in, minum-minum atau sejenisnya!”


“Ya enggaklah, tenang aja kayaknya mereka cowok baik-baik.”


“Ketemuannya di mana?”


“Di skye bar and resto,” sahut Zea singkat.


“Apa?! itu kan mahal banget buat kaum kayak gue.”


“Tenang besti, kita tinggal duduk manis, nikmati makanan sambil ngobrol, karena mereka itu cowok-cowok tajir. Tenang, lo nggak bakal disuruh bayar kok.”


“Tau gitu, gue pakai baju yang cakepan dikit, lah ini malah kayak gembel.” Joana menyadari bagaimana penampilannya.


“Ketolong kok sama muka cantik lo, tenang, santai… siapa tau berawal dari kenalan ini, lanjut ke pelaminan.” Zea bersemangat sekali. Sudah lama jomlo membuat jiwa genitnya meronta-ronta.


“Nggak. Cowok tajir pasti milihnya yang tajir juga. Kayak gue, dapat yang sekelas menejer aja udah lebih dari cukup.” sadar diri, Joana akan siapa dirinya dan latar belakang keluarganya. Tidak akan mudah menerima wanita sepertinya, apalagi tidak lagi memiliki orang tua.


“Pesimis aja lo. Kita anggap aja ini usaha, yang namanya usaha itu, ada yang berhasil ada yang gagal. Nah kalau gagal, itu artinya kita harus?”


“Berhenti,” sahut Joana tegas. “Lo ya! paling bisa menjebak gue kayak gini!”


Gerutuan kesal Joana hanya di balas tawa oleh Zea.

__ADS_1


🍑


Mau hadiahnya dong hihi


__ADS_2