
Ajakan menikah dari Alva masih saja tak ditanggapi oleh Joana. Bingung, tentu saja Joana bingung. Menikah dengan orang yang tak dicintai hanya karena sebuah kesalahan, tentu akan sulit. Terlebih lagi, dia belum mengenal bagaimana Alva yang sebenarnya. Sifat lelaki itu, masa lalunya dan semuanya. Joana butuh tahu.
“Aku mau mandi.” hanya itu yang keluar dari mulut Joana. Dengan tangannya sendiri, dia memindahkan tangan Alva yang masih betah menggenggamnya.
Alva menghela napas berat, membiarkan Joana pergi. Sudah diambil keperawanannya pun, Joana masih sulit dia taklukkan. Keras kepala sekali wanita itu.
Joana sebenarnya hanya butuh waktu. Tubuhnya, hatinya juga mentalnya tentu masih sangat terkejut menerima semuanya. Di dalam kamar mandi, dia meringis perih. Ketika satu titik tubuhnya terkena air. Sambil menatap pantulan tubuhnya di cermin, jejak yang Alva tinggalkan cukuplah banyak, di leher, pundak, sampai ke dadanya.
Hanya satu yang Joana harapkan saat ini, yaitu apa yang mereka lakukan tidak menghasilkan. Ya, pasti tidak mungkin, karena mereka baru melakukannya satu kali. Berdasarkan logikanya, di luar sana banyak pasangan yang kama menikah, tapi belum memiliki keturunan. Jadi, sekali melakukan tidak akan menghasilkan. Joana hanya berharap itu saja.
Usai membersihkan dirinya, Joana memilih istirahat. Beruntung besok adalah hari libur, jadi dia bisa istirahat dan tidur sepuasnya setelah kelelahan dan betinnya terkejut karena ulah lelaki itu.
Alva hanya tidur selama dua jam saja, tak bisa tidur nyenyak sama sekali karena masih dilingkupi rasa bersalahnya. Dan dia juga masih harus melakukan usaha yang keras agar Joana mau memaafkannya, agar Joana mau berbaikan dan menikah dengannya. Lelaki itu bangun dengan kepala yang sangat berat, pusing. Pagi-pagi sekali, dia sudah memesan sarapan, kini dia sedang berada di dapur, menyiapkan minuman hangat untuk Joana. Untuk pertama kalinya dia menyiapkan sesuatu untuk orang lain selain dirinya.
Di atas meja sudah terhidang satu piring nasi uduk dengan lauk telur dadar, teri dan tempe. Salah satu makanan yang Alva ingat, bahwa nenek pernah menyebutkannya ketika Joana sakit. Selain bubur, biasanya nenek juga sering menyiapkan nasi uduk.
Tok tok tok
“Joana.” panggil Alva dari luar, dan tak ada jawaban dari dalam sana setelah Alva menanti selama beberapa detik. Dia yakin Joana pasti masih tertidur.
Hingga akhirnya lelaki itu memberanikan diri menarik handle pintu, nasib baik berpihak padanya karena Joana ternyata tidak mengunci pintu. Entah sengaja atau lupa, dia juga tidak mengerti.
Kamar yang masih gelap itu terasa hening dan sepi, karena pemiliknya masih terlelap. Hanya ada kilau cahaya yang masuk dari balik gorden kamar itu yang meneranginya.
Alva meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja, lalu beralih pada Joana, wanita itu tampak sedang terlelap di balik selimut sambil memeluk erat gulingnya. Seperti ketakutan akan sesuatu. Alva tersenyum menatap pemandangan itu. Tangannya terulur, menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajah Joana. Entah datang dorongan dari mana, Alva mendekatkan wajahnya mengecup kening Joana bagian kanan hingga si pemilik tubuh terusik.
__ADS_1
Joana bergerak, menjauhkan gulinya. Lalu mengangkat tangannya ke atas, merenggangkan otot-otot yang kaku. Dia belum menyadari kehadiran seseorang di sekitarnya.
“Selamat pagi, waktunya sarapan.”
Joana langsung membukatkan matanya, menyempurnakan penglihatannya ketika mendengar suara berat yang cukup dikenalnya itu.
“Bapak?”
“Bapak lagi.” gerutu Alva.
Joana tak percaya jika bangun tidurnya disambut oleh pemandangan langka seperti ini. Seorang lelaki tampan duduk di tepi ranjangnya, sambil menatapnya. Lelaki berpakaian rumahan, kaos tipia dan celana pendek, juga wajah Alva masih seperti khas orang bangun tidur dengan rambutnya yang sedikit berantakan. Situasi macam apa ini? persis seperti seorang suami yang sedang menanti istrinya bangun tidur. Ah… pikiran Joana mulai terkontaminasi oleh ajakan menikah dari Alva. Dia mulai membayangkan sebagian kecil kehidupan berumah tangga.
“Eh iya, eum apa ya?” Joana bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa. Wanita itu mengubah posisinya menjadi duduk.
“Mas? Abang? atau sayang? honey?” Alva menawarkan beberapa sebutan yang mungkin bisa Joana gunakan untuk memanggilnya.
“Bangunlah, sarapan!” titah Alva. Dia mengambil segelas air putih yang sudah disiapkannya di atas nampan, lalu menyodorkannya pada Joana.
Joana menerima gelas, lalu meneguk air putih itu. Malu-malu dia menatap lelaki di hadapannya, apalagi mata Alva kini tertuju pada lehernya. Lelaki itu tersenyum, masih ingat beberapa hal yang mereka lakukan semalam. Bagaimana ganasnya dia mencumbui Joana.
“Ehm.” Joana berdeham, sambil memindahkan sebagian rambutnya ke depan untuk menutupi itu. Meski seharusnya dia tak perlu malu karena semua itu adalah ulah lelaki ini.
“Cuma satu?” tanya Joana. “Punya kamu, mana?” Joana mencoba berbicara sesantai mungkin. Harusnya dia masih marah pada Alva, tapi dia hanya ingin mencoba berdamai dengan keadaan, dengan kenyataan. Apalagi Alva terlihat sangat bertanggung jawab, dengan cara tetap berada di sisinya semalaman ini, tanpa meninggalkannya.
“Aku, udah.” Alva berbohong. Betapa bodohnya dia, hanya membeli satu. Hanya Joana yang dipikirkannya, tanpa mengingat diri sendiri.
__ADS_1
“Makasih.” satu kata itu lolos dari bibir Joana.
“Ya, makanlah. Habiskan.”
Menanti selama beberapa detik, Joana pikir Alva akan pergi dari sekitarnya setelah dia ucapkan terima kasih, tapi ternyata lelaki itu masih betah di dekatnya.
“Iya,” sahut Joana.
“Hari ini, mau jalan-jalan?” Alva ingin membangun kedekatan bersama Joana, usahanya harus lebih keras lagi. Dia tak ingin Joana lari dan menghindar darinya, sejak kejadian tadi malam.
Joana menggeleng. “Pingin di rumah aja, mau istirahat.”
“Oke, makanlah. Kenapa masih dilihatin aja makanannya?” tanya Alva.
“Kenapa masih di sini?” Joana balas bertanya.
“Nggak boleh?” protes Alva tak terima.
“Aku nggak bisa makan kalau dilihatin,” sahut Joana.
“Kita bahkan pernah sarapan bareng di meja yang sama.” tegas Alva.
“Tapi kali ini, nggak bisa.” Joana merasa semuanya berubah sejak malam tadi, berada di dekat Alva membuatnya semakin gugup tak keruan. Apalagi makan harus diawasi olehnya, bisa-bisa makanan itu tidak akan lewat di tenggorokannya.
“Oke aku keluar, pastikan kamu habiskan ya.” Alva pun mengerti, dia memilih meninggalkan Joana sendirian.
__ADS_1
🍑
Senang kalau mereka bertengkar terus, atau damai kayak gini? 😆