My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Ulang tahun Joana


__ADS_3

Sudah dua minggu Joana dan teman serumahnya saling diam dan sebisa mungkin mereka saling menghindari. Hal itu dipelopori oleh Joana yang menganggap Alva seperti tak pernah ada. Dia tidak mau berurusan dengan lelaki itu lagi. Joana ilfeel dengan lelaki yang yang suka mempermainkan wanita, suka menganggap bercanda untuk hal-hal sensitif seperti ajakan menikah dan sebagainya.


“Kenapa Pak Bos begitu kepo sama lo?!” siang itu, Zea mengajak Joana makan siang, dan dengan senang hari wanita itu menerima ajakannya karena memang mereka sudah lama tidak makan berdua sejak Zea dinyatakan sibuk dengan CEO baru.


“Kepo gimana?” Joana menatap Zea sekilas, sambil mengaduk minumannya dengan sedotan. Feelingnya mulai tak enak, apa selama ini diam-diam Alva mencari tahu tentangnya melalui Zea?


“Udah deh nggak usah dibahas.” cetus Zea. Dia yang memulai lebih dulu, tetapi dia pula yang mengakhiri bahasan itu, dan Joana juga dengan senang hati jika tak membahas lelaki bernama Alva itu.


“Gimana hubungan lo dengan Mas Raja, cowok via aplikasi?” Joana terkekeh, menertawakan. Sebab dia yakin pasti dengan Raja juga tidak akan ada kelanjutannya. Karena ini bukan pertama kalinya, hubungan Zea dengan cowok-cowok yang baru dikenalnya entah ke mana arahnya. Tak ada satupun yang jelas.


“Lo ngetawain gue?! maksudnya apa?” mata Zea membulat kesal. Joana tampak seperti sedang mengolok-olok dirinya.


“Santai Ze, gue kan cuma nanya? kok lo marah sih?” Joana mengerjapkan matanya berkali-kali, tampak Zea yang sedang sangat kesal, sedang berdiri di hadapannya.


“Bad mood gue.” Lantas wanita itu meninggalkan Joana begitu saja di kantin perusahaan. Tinggalh dia sendiri di meja itu.


Joana bergidik ngeri, sudah lama Zea tidak semarah itu padanya. Tingkahnya pun cukup aneh akhir-akhir ini, tentu membuatnya bingung. Semoga saja segala perubahan sikap Zea tidak ada huhungannya dengan Alva.

__ADS_1


🍑


Dua minggu sejak diabaikan oleh Joana, Alva memutuskan pergi dari rumah itu. Menghindar sepertinya memang jalan terbaik. Jika Joana merasa kehadirannya hanya membawa beban hidup wanita itu, ada baiknya dia menjauh saja. Soal nenek yang bertanya tentang rumah dan seisinya, Alva terpaksa akan menjawab dengan segala kebohongan nantinya.


Alva memindahkan dua koper dari dalam kamar yang selama ini dia tempati. Kebetulan hari ini adalah hari sabtu, di mana para karyawan termasuk bos seperti Alva, sudah pasti libur jika tidak ada keadaan yang mendesak. Saat mengangkat dua kopernya, tanpa sengaja Joana keluar dari kamarnya, tujuannya ingin pergi ke dapur untuk membuat roti isi.


Sekilas, mereka sempat saling bertatapan. Tak ada tatapan ramah dari keduanya. Meski Alva sangat ingin memulai percakapan, tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana hingga pada akhirnya tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya sampai dia sudah memindahkan semua barangnya ke dalam mobil.


Mau ke mana dia?


Happy birthday Joana, semoga kamu selalu bahagia. Andai hubungan kita nggak seperti air dan api, aku pasti akan memelukmu sekarang.


Alva tersenyum tipis, mengucapkan selamat ulang tahun pada wanita itu di dalam hati saja, dia menatap Joana yang sedang membelakanginya. Ya, berdasarkan apa yang dia dapatkan dari Zea, wanita itu hari ini sedang berulang tahun.


“Bodoh.” gumam Alva. “Terjebak dengan cewek kayak dia, lo baru kenal dia sebentar. Dia pasti pakai pelet, untuk menjerat cowok manapun supaya bisa masuk ke dalam perangkapnya, jerat pesonanya, termasuk lo sendiri.” Alva membanting pintu bagasi mobilnya belakang setelah memasukkan dua koper itu, sambil mengumpat memaki dirinya sendiri yang terlalu bodoh karena begitu cepat menaruh hati pada Joana saat ini. Entah hanya nafsuu atau ingin memiliki, Alva pun tidak mengerti kemana arahnya.


🍑

__ADS_1


Joana menggigit sandwich yang baru saja disajikannya di atas meja makan, sejak beberapa menit lalu, Alva sudah meninggalkan rumah itu tanpa pamit sepatah kata pun. Pergi liburan? pindah rumah? atau ke mana? banyak hal yang ada di benak Joana. Bertanya tentang Alva. Dia melirik ke arah pintu kamar, di mana biasanya lelaki itu berada di sana. Kini rumah sepi. Ya, sangat sepi hanya tinggal dirinya sendiri.


Joana mengangkat bahunya. “Baguslah, bisa bebas.” setelah dipikir-pikir, untuk apa memikirkan rumah sepi, sendiri, bukankah memang ini yang dia inginkan selama ini?


Menghabiskan sepotong sanwich dan susu hangat, Joana kembali ke dalam kamarnya untuk bersiap. Ada satu hal yang biasa dia lakukan setiap kali hari ulang tahunnya tiba.


Joana tiba di tempat tujuannya siang itu. Dua puluh lima tahun, bukan usia yang muda lagi untuknya bisa bermain-main. Masa depan sudah menantinya, Joana harus bangkit dari keterpurukan ini. Bukan hal mudah setelah belasan tahun sudah Joana lewati hari-hari tanpa kedua orang tuanya. Dengan memakai dress serba tertutup, dengan sebuah selendang yang hanya sekadar menutupi kepalanya saja, Joana melangkah pelan menuju pusara kedua orang tuanya. Panas terik menemani perjalanannya ke makam itu.


Dia berjongkok, seraya menyentuh satu pusara beratas namakan ibunya. Sudah biasa, setiap hari ulang tahunnya, dia melakukan hal ini. Mendatangi kedua orang tuanya, lalu bercerita di sana, setelahnya mendoakan mereka. Hal seperti itu saja sudah cukup membuatnya bahagia di hari ulang tahun.


“Mama, Papa…” lirihnya dengan mata berkaca.


“Aku udah dua puluh lima tahun, ternyata aku mampu melewati semuanya sampai ke titik ini,” ucapnya lagi dengan air yang sudah membasahi pipi.


“pasti karena Doa dari mama dan papa di sana, makanya aku sekuat ini.” Di bawah teriknya matahari, di siang bolong, Joana menangis teredu-sedu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Beberapa menit setelah puas menangis, Joana kembali membuka mata. Dia terkejut saat melihat dan merasakan tiba-tiba tempat di mana dia berjongkok menjadi teduh, dan terlihat bayangan seseorang sedang melindunginya dengan sebuah payung.

__ADS_1


__ADS_2