My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Malam Kedua yang Gagal


__ADS_3

Tinggalkan perempuan itu, atau tinggalkan perusahaan?


Alva baru saja menghentikan mobilnya di halaman rumah sang nenek. Beberepa detik yang lalu, nenek sudah turun dari mobil karena rasa kantuk yang sudah menerpa. Sedangkan Alva, masih menatap layar ponselnya, di mana dia baru saja mendapatkan ancaman dan peringatan keras dari papanya. Kini lelaki itu sedang dihadapkan oleh sebuah pilihan yang rumit. Tapi dia tidak boleh goyah. Alva harus berpegang teguh pada pendirian awalnya. Bahwa apapaun yang terjadi, dia harus tetap bersma Joana yang sebentar lagi akan memberinya keturunan. Sesuai janjinya pada Joana, Alva sama sekali tidak takut miskin jika sang papa menyingkirkan kedudukan atau bahkan mencoretnya dari daftar pewaris. Rasanya, Alva masih tak percaya jika papanya akan melakukan itu, karena dia adalah anak tunggal. Lantas, kepada siapa lagi skan diteruskan, jika bukan dirinya.


Lelaki itu melangkah gontai, masuk ke dalam rumah, dia mengabaikan ancaman sang papa. Bukan karena sedang memikirkan jawaban, tapi karena terlalu enggan menanggapi.


Alva membuka pintu kamarnya, kosong. Tak ada Joana di sana. Dia melirik ke arah pintu kamar Joana. Istrinya itu pasti ada di sana. Alva menarik handle pintu yang tidak terkunci, suasana gelap dan hening, bahkan lampu tidur juga tidak menyala.


“Kamu udah tidur?” Alva tahu, mungkin Joana memang sudah tidur. Dia hanya memastikan saja.


Di balik selimut, sambil berbaring miring, Joana menyembunyikan tangis dan kesedihannya. Dia sengaja tidak memberi cahaya di ruangan kamarnya agar tak ada yang bisa mengetahui dia sedang menangis, karena sudah menerka bahwa Alva akan mendatanginya.


Setelah memastikan Joana tertidur, Alva pergi keluar kamar, ke kamar mandi. Ingin memindahkan Joana ke kamar baru mereka, tapi dia takut akan mengganggu.


Pada akhirnya setelah kembali dari kamar mandi, lelaki itu berbaring dan bergabung di ranjang milik Joana yang tidak terlalu lebar itu, tapi cukup untuk mereka berdua meski harus sedikit berdesak-desakan.


Kecupan singkat mendarat di pipi kanan Joana, Alva berbaring miring memeluk istrinya. Meletakkan telapak tangan kanannya tepat di perut Joana.


“Apapun yang terjadi, aku nggak akan ninggalin kamu,” gumam Alva berbisik. Lelaki itu sendiri tidak mengerti sejak kapan hatinya berlabuh pada seorang wanita yang baru dikenalnya dalam kurun waktu bulanan saja. Apalagi, awal pertemuan mereka sangatlah tidak menyenangkan. Alva yakin, rasa itu muncul ketika mereka menyatu untuk pertama kalinya. Saat gairah Alva memancar karena obat pemberian Zea, hati dan pikirannya malah tertuju pada Joana, ingin mencurahkan pada wanita sederhana penghuni rumah nenek. Bukan Zea si seksi yang saat itu ada di depan matanya. Mengingat malam itu, Alva jadi gelisah. Ingin mengulangnya lagi, apalagi saat ini mereka sudah sah dan bukan sebuah kesalahan jika Alva menyatukan diri lagi di dalam Joana.

__ADS_1


Joana membuka matanya, kalimat itu terdengar jelas di telinganya. “Memangnya, apa yang akan terjadi, Mas?”


“Ka-mu belum tidur?” Alva mengubah posisinya, menegakkan sedikit tubuhnya untuk melihat Joana yang kini sedang berbaring memghadapnya.


“Belum,” sahut Joana singkat.


“Kalau belum kenapa gelap-gelapan, sih?” protes Alva. Tangan kanannya terulur untuk mencari saklar lampu tidur di kamar itu, dan beberapa detik setelahnya, wajah sendu Joana terlihat jelas di matanya, sedang menatap sedih ke arahnya.


“Aku mencoba tidur, tapi nggak bisa.”


“Nungguin aku?”


“Bukan Mas, ya… nggak tau sih, gelisah aja.”


“Apa sih Mas.” Wajah Joana tersipu. “Jangan ngasal kalau ngomong, aku memang lagi nggak bisa tidur, mikirin nasib aku ke depannya.”


“Apa yang kamu pikirkan, sih?”


“Nggak tau, pokonya banyak.”

__ADS_1


“Mau bersenang-senang, malam ini?” lagi-lagi, lelaki itu tersenyum dan tangannya sudah mengarah pada kancing daster yang Joana kenakan.


Seketika Joana menahan tangan lelaki itu. “Eh, mau apa?”


“Kita udah sah, bukan kayak malam-malam kemarin. Mau pelukan aja aku mikir-mikir, takut ada yang bangun, ntar susah jinakinnya.” Alva tertawa melihat ekspresi wajah Joana yang ketakutan.


Joana juga sadar, bahwa Alva kini adalah suaminya, tapi… rasa sakit saat pertama kali mereka lakukan di atas sofa, masih terbayang jelas, walau rasa nikmatnya juga membekas.


“Sekarang, boleh nggak?” tanya Alva sekali lagi, karena Joana masih belum memberikan jawaban.


Wajah Joana semakin kaku. Sekujur tubuhnya terasa merinding membayangkan hal-hal yang akan mereka lakukan andai Joana mengatakan boleh.


“aku kan lagi hamil Mas, emangnya boleh?” Joana akhirnya menemukan alasan yang masuk akal agar Alva menunda niatnya.


Alva memasang tampang kecewa, dia juga khawatir boleh atau tidaknya berhubungan saat istri sedang hamil. “Besok kita konsul ke dokter ya? hal ini harus kita pastikan sejelas-jelasnya.” Alva kembali berbaring, malam ini gagal, mungkin masih ada malam-malam yang lainnya.


“Kalau menurut aku sih, dokter bakalan ngelarang Mas. Kamu bayangin aja deh Mas, dia di dalam sana masih kecil banget. Terus kamu dengan gampangnya mau nusuk-nusuk pakai benda yang keras dan besar itu, wah kamu tega dan nggak sayang ya, Mas? sama anak kamu sendiri.” Joana berkata-kata tanpa dasar yang jelas semua itu dia katakan berdasarkan asumsi yanga da di pikirannya saja.


“Ya kamu benar, kata siapa aku nggak sayang? oh aku punya ide, gimana kalau aku tanya nenek—“

__ADS_1


Seketika Joana menarik kaos yang Alva kenakan saat lelaki itu akan bangun. “Jangan aneh-aneh, jangan bikin malu Mas!”


pada akhirnya mereka tertidur, tapi hanya Joana yang bisa terlelap dalam pelukan Alva, sedangkan Alva masih belum bisa memejamkan mata karena malam kedua yang diinginkannya telah gagal.


__ADS_2