
Tak sampai satu menit, Joana kembali keluar dari rumah dengan tergesa-gesa. Wanita itu membawa dompet miliknya. Saat mengobrol dengan Alva tadi, sayup-sayup Joana mendengar suara tukang sayur yang biasa melintas di lingkungan ini.
“Mau ke mana?” Alva mematikan kran, mengakhiri kegiatannya, melihat Joana berjalan menuju pagar.
“Ketemu Abang kang sayur,” sahutnya singkat.
“Bang!” panggil Joana saat sudah berdiri di depan pagar.
“Neng Jojo udah lama nggak manggil Abang, kan kangen.” genit si pedagang sayur menggoda Joana.
Joana hanya merespon seadanya. “Lagi sibuk Bang. Nggak sempat masak. Jadi nggak belanja.”
“Oh giu Neng.”
Tanpa Jona sadari, Alva mengekorinya dan kini lelaki itu berdiri tepat di belakangnya.
“Nenek nggak pernah kelihatan Neng, ke mana ya?”
__ADS_1
“Oh, lagi ke Singapur Bang.”
“Aku request masakan, boleh nggak?” Alva tiba-tiba menimbrung obrolan.
“Boleh, asalkan nggak susah.” Jawab Joana jutek.
“Sayur lodeh aja. Udah lama nggak makan masakan nenek.”
“Oke.”
“Ini cucunya Nenek, kebetulan lagi ada di sini.” Joana menjelaskan lantaran abang kang sayur menatap curiga pada mereka berdua.
“Wah selamat ya Neng. Udah mau nikah aja.”
“Eh- iya, makasih Bang.” Joana menatap malas pada Alva yang berucap seenaknya.
Belanja sayur-sayuran selesai. Joana sudah memilih-milih sayuran yang bisa dia masak hari ini dan besok. Dan Alva masih mengekorinya sampai ke dalam rumah, sampai ke dapur.
__ADS_1
“Kenapa kalau ngomong tuh suka asal? ngaku-ngaku calon suami?” gerutu Joana.
“Kan memang benar. Salahnya di mana?” Alva merasa sejak malam itu, Joana adalah miliknya apapun ceritanya dia tidak peduli, suka atau tidak, terima atau tidak, Joana harus menjadi miliknya. Hanya saja, Alva butuh waktu untuk mengatakan ini pada orang tuanya yang jarang peduli padanya itu.
Joana tidak menjawab, dia memilih fokus pada apa yang ingin dia kerjakan. Memotong sayuran, mencuci, menyiapkan bumbu masakan sesuai request bosnya itu sayur lodeh. Lama tingga di luar negeri, membuat Alva rindu akan masakan-masakan khas negaranya sendiri.
Joana tahu, Alva masih betah mengawasinya. Dan dia tidak peduli itu, meski sebenarnya sedikit gugup. Biasanya, hanya Nek Merry yang mengawasi dia memasak, kali ini ada mahluk lain, berlawan jenis dan membuatnya sedikit tidak nyaman. Joana bisa bernapas lega setelah menoleh ke belakang ternyata Alva tidak lagi ada di sana. Tapi beberapa saat kemudian, lelaki itu kembali lagi sambil menenteng macbooknya, dia duduk berselonjor di sofa. Ya, sofa. Semoga Alva tidak melupakan janjinya untuk mengganti sofa itu dengan yang baru karena ada jejak dosa mereka di sana.
“Mas!”
“Ya?”
“Kapan kamu mau ganti sofa itu dengan yang baru?” Joana hanya mengingatkan. “Aku khawatir nenek tiba-tiba pulang dan melihat jejak dosa kamu di sana!” ucapnya ketus.
Alva tertawa sinis. “Jejak dosaku? mungkin perlu kamu ralat, jejak dosa kita, Joana sayang.”
Kata sayang yang Alva lontarkan padanya membuatnya merinding seketika. Percuma, percuma membahas hal itu sekarang. Yang ada, Joana jadi bahan bullyan lelaki itu, padahal dialah penyebab semua kekacauan ini.
__ADS_1
“Percuma ngomong sama kamu. Nggak pernah ada penyelesaian.” gerutu Joana, lebih baik dia lanjut memasak untuk menu makan siang mereka.
di tengah-tengah kesibukannya, Alva sedang berpikir keras. Matanya memang tertuju pada layar macbook, tapi pikirannya berlalu lalang. Memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa berbicara secara baik-baik pada orang tuanya tentang Joana. Tentang niatnya ingin menikahi Joana, sepertinya dinding restu akan sulit dia dapatkan jika tidak berbuat nekat. Alva berjanji pada dirinya sendiri, hamil atau tidak Joana nantinya, dia akan tetap mempersuntinf wanita itu.