My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Amarah Joana


__ADS_3

Wajah berdekatan untuk ke sekian kalinya, dalam keadaan yang tertekan seperti ini. Jujur saja Joana ingin merutuki dirinya sendiri, mengapa dia merasa tersihir dengan pesona dan ketampanan Alva, senyum lelaki itu sangatlah manis, jangan ditanya bagaimana aroma tubuhnya membuat siapapun pasti betah untuk selalu berada di dekat lelaki ini. Tidak pernah Joana sangka, saat bertatapan dengan Alva, dia mampu melupakan wajah lelaki yang dicintainya, Daniel.


Apa gue udah move on dari Kak Daniel? tapi nggak banget kalau move on nya ke cowok ini.


“Ingat, pesan nenek, bangkit dari masa lalu, kamu berhak bahagia.”


Kalimat itu yang keluar dari mulut Alva, sambil terus menatap mata Joana.


Joana mengangguk. “Iya Pak.”


“Apa yang kamu pikirkan? sampai memejamkan mata?” Alva menjauhkan dirinya dari Joana, tak lupa juga melepaskan tangannya dari pinggang gadis itu. Lantas dia tertawa mengejek, merasa Joana mulai masuk dalam perangkapnya.


“Nggak ada.” Tanpa basa basi lagi, Joana langsung turun dari mobil itu, menjauh dari lelaki player yang hanya suka menjebak dan mempermainkannya. Jika tidak demi pertemanannya dengan Zea, dia akan langsung menyalakan api permusuhan pada Alva. Karena menurutnya, meladeni lelaki itu hanya membuang energi dan waktu, sangat tidak bermanfaat.


Sepanjang malam, Joana memikirkan bagaimana cara menghindari Alva. Ingin pindah dari tempat ini, tapi dia merasa seperti tidak tahu diri. Joana sudah membayar sampai setahun ke depan. Dan tentu dia tidak punya biaya lagi untuk mencari tempat tinggal baru. Benar ucapannya, kehadiran Alva hanya menambah beban hidupnya saja.


🍑

__ADS_1


Karena Joana belum lupa akan janjinya dengan Alva semalam, dia bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan dengan imbalan, dia boleh mengobrol dengan nenek melalui ponsel lelaki itu. Kini, Joana sudah siap dengan pakaian kerjanya, hanya saja dia belum merias diri dan membiarkan wajahnya polos karena tak mau rugi makeupnya luntur sia-sia.


“Selamat pagi Pak. Ini janji saya semalam.” Joana menyajikan dua piring nasi goreng di atas meja. Tak lupa juga air putih. Ketika lelaki yang sudah dinantinya itu keluar dari kamar dan sudah berpakaian sangat rapi, Joana langsung menyambut.


“Berasa punya istri kalau begini.” Alva tersenyum sumringah, dia meletakkan jasnya di sandaran kursi lalu duduk di sana. Dia tahu usianya sudah dua puluh delapan tahun dan tak lagi muda. Apa perasaan ingin dilayani seseorang setiap pagi itu normal?


“Makanya nikah Pak, cari istri.” cetus Joana, asal.


“Kamu aja gimana?” sambung Alva.


Joana memutar bola matanya jengah sekali dengan tingkah bual lelaki ini. Tanpa Alva ketahui karena Joana sedang membelakanginya, Joana menggerutu sebal.


“Iya, tenang aja. Saya nggak akan ingkar kok. Oh, begini rasanya ternyata diabaikan, sakit ya.” keluh Alva.


“Apa yang sakit Pak?


“Hati saya.”

__ADS_1


“Lah kenapa? kok bisa?”


“Ajakan nikah saya diabaikan-“


Klentang. Joana membanting sendok di atas piring. “Pak, stop bercandain saya. berhenti menganggap saya lelucon, dan hiburan buat Bapak. Semua itu nggak lucu, Pak!” Joana benar-benar marahbdan emosinya memuncak. Persetann dengan Zea, bodoh amat dengan Alva yang akan terus mengancamnya dengan menggunakan Zea. Joana hanya muak dengan semua ini.


“Jangan buang-buang waktu Bapak untuk bermain-main dengan saya!” lanjut Joana lagi, seketika selera makannya hilang, yang dia inginkan saat ini hanyalah menghilang dari hadapan lelaki yang suka mempermainkannya itu.


“Joana, tapi saya-“


“Cukup! apa?! Bapak mau ancam saya pakai Zea? mau bilang kalau ternyata kita tinggal serumah?! silakan!” inilah Joana yang sesungguhnya, sejak beberapa hari ini, khususnya sejak kemarin, dia terus saja berpura-pura baik, ramah, dan tidak ketus pada Alva. Tapi apa yang dia dapatkan? justru dipermainkan. “Saya nggak akan masuj ke dalam jebakan Anda, Bapak Alvandro Ricolas!” sentak Joana.


Joana lupa kepada siapa dia berbicara? tentu saja tidak. Jika Alva protes karena sikapnya, Joana bisa menyangkal kalau dia berkata bukan sebagai karyawan lelaki itu, melainkan sebagai teman, atau partner serumah.


Mengambil piring dan air putih miliknya, Joana masuk ke kamar, terlalu eneg dengan keadaan ini. Mengapa Alva tidak bisa bersikap biasa-biasa saja padanya? layaknya tetangga normal. Kenapa lelaki itu berbuat dan berucap sesuka hati padanya? jikapun Alv la memang bercanda, tapi baginya itu su gguh keterlaluan. Joana sendiri tidak mengerti mengapa dia begitu emosi dengan Alva saat ini.


🍑

__ADS_1


Kapok nggak tuh Alva?


__ADS_2