My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Kita perlu bicara


__ADS_3

Alva membuka mata ketika mendengar deringan ponselnya yang ke sebelas. Ya, dia tersadar dan tersentak kaget, langsung menendang selimut yang masih membalut tubuhnya. Lelaki itu mencari-cari di mana keberadaan ponselnya yang suaranya terdengar tenggelam. Ternyata ada di bawah gulungan selimut. Alva menggerutu ketika dia bersusah payah mencari ponsel itu di balik selimut tebal yang menemani tidurnya.


Enam panggilan dari nenek dan lima panggilan dari Zea. Saat ini, Zea melakukan panggilan video kepadanya, tanpa ragu, Alva menjawabnya meski saat ini dia sedang bertelanjang dada.


“Pagi Bapak…” wajah manis beserta suara lembut wanita itu terdengar jelas.


“Ada apa Zea? kamu tau kamu itu menganggu mimpi indah saya!” gerutu Alva, lelaki itu berdecak sebal.


“Ups, maaf Pak. Saya hanya mengingatkan supaya Bapak nggak telat, hari ini ada meeting dengan direktur yang lain membahas tentang kinerja selanjutnya, Pak. Apa Bapak bisa lebih cepat?”


argh. Alva menggeram kesal, mimpi tadi itu masih teringat jelas di kepalanya. Meski dia tidak tahu dengan siapa dia melakukannya, karena wajah wanita yang sedang berada di bawah kungkungannya itu tidak terlihat jelas. Tapi hampir saja Alva merasakan surga dunia meski lewat mimpi, sedikit lagi. Tapi karena deringan ponsel sialan itu terus mengganggunya, Alva gagal meraih surga dunia itu bahkan kini, sesuatu di balik boksernya masih menegang hebat.


“Ya.” panjang lebar Zea berucap, lelaki itu hanya menjawab satu kata, singkat padat dan tidak jelas. Alva kesal dan emosi, dia mencampakkan asal ponselnya ke atas ranjang. Lalu beralih ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus menuntaskan hasratnya yang tertunda.


“Bukan… itu bukan Joana.” Alva bergumam lagi. Mengingat-ngingat mimpinya semalam. “Dia nggak sehebat itu untuk mampu mempengaruhi pikiranku sampai ke dalam mimpi. Alva, ingat akan selera dan tipe wanitamu, jauh sekali dan sangat berbanding terbalik dari apa yang Joana miliki. Tinggi langsing proporsional, bukan pendek mungil dan sedikit gendut seperti Joana.” Berulang kali Alva menyadarkan pikiran di dalam otaknya, bukan Joana, tidak mungkin Joana. Tapi nyatanya dia langsung susah tidur dan terngiang-ngiang dengan ciuman itu.


Sialan!

__ADS_1


Umpat Alva seraya meraih jasnya lalu dia sampirkan di lengan. Keluar dari kamar, sepi dan hening. Ya, jelas saja mungkin Joana sudah pergi bekerja, atau wanita itu masih berdiam diri di kamarnya?


Tidak mau ambil pusing, Alva langsung keluar dari rumah dan mengunci pintu dari luar. Tetapi ketika melihat motor Joana masih terparkir menyedihkan di dalam garasi, dia ragu apa Joana ada di dalam?


Abaikan abaikan.


Lelaki itu masuk ke dalam mobil, setelah membuka pintu oagar selebar mungkin. Salah satu hal yang membuatnya enggan tinggal di rumah seperti ini adalah dia harus repot membuka dan menutup pagar tiap kali keluar rumah.


🍑


Alva tahu wanita itu sedang menghindari tatapannya, dia pun langsung berlalu begitu saja menuju lift karena Zea dan rekan yang lain sedang menunggu kedatangannya.


“Jo, kenapa lo nggak nyambut kehadiran Pak Bos?”


“Gue lagi ngomong sama abang kurir tadi.” Jaoan beralasan. “sebentar, gue nerusin paket ini dulu ke lantai sepuluh.”


“Ditujukan ke bagian apa?” tanya Amanda, rekannya.

__ADS_1


“Marketing,” sahut Joana singkat. Lalu kakinya mengayun malas, menuju lift. Joana berdiri di depan pintu lift sambil menunggu pintu lift terbuka.


Ting.


Begitu pintu itu terbuka, sosok yang dihindarinya justru berada di sana.


Harusnya dia udah nyampe ke atas, kenapa masih di sini?!


Joana menggerutu dalam hati. Lalu mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam lift, dan memilih balik badan. Tapi tangan Alva menariknya cukup kuat, sampai dia akhirnya masuk ke dalam sana dan pintu langsung tertutup.


“Jangan hindari saya Joana.” di hadapan Joana, Alva seperti memiliki kepribadian ganda, padahal dia sudah mati-matian berusaha ingin melupakan kejadian semalam, melupakan rasa bibir Joana lebih tepatnya. Tapi saat berpapasan dengan wanita ini, mengapa sulit sekali.


Joana tidak menjawab. Karena sudah terlanjur masuk di dalam lift. mau tidak mau dia menekan tombol sepuluh, konsisten pada tujuannya untuk mengantar paket itu. Hening selama beberapa detik.


Mata Joana membulat, saat Alva mengubah lantai tujuan mereka. Lantai lima belas yang artinya itu adalah lantai teratas di gedung ini. ”Kita perlu bicara,” ulang Alva dengan nada lembut. Satu langkah dia ingin mendekat pada Joana yang sedang berdiri di sudut. Tapi lift ternyata berhenti di lantai sepuluh, tempat tujuan Joana.


“Permisi.” Joana menghempaskan tangan Alva yang saat itu mencekal lengannya, lalu sedikit menundukkan kepalanya, dan meninggalkan Alva begitu saja. Sungguh dia tidak ingin mengenali lelaki itu lagi meski pada kenyataannya mereka tinggal seatap.

__ADS_1


__ADS_2