My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Hasil yang tak diharapkan


__ADS_3

Dokter Rika tiba selepas kepergian kedua orang tua Alva, dan Joana kini juga sudah membuka mata. Dia tersadar dan langsung kaget di kamarnya ada orang lain selain dirinya sendiri.


“Aku kenapa?” Cepat-cepat Joana mengubah posisinya, menjadi duduk dan Alva membantunya.


“Kamu rebahan aja. Kamu pingsan tadi.” Alva menuntun Joana untuk kembali berbaring.


Sungguh Joana sangat canggung sekarang, ada nenek dan Dokter Rika di sana di tambah Alva duduk berdekatan dengannya. Joana bergeser untuk memberi jarak di antara mereka. Sebab dirinya kini menjadi pusat perhtian.


“Keluhannya apa? kelelahan ya Jo?” Dokter Rika bukan tidak mengenal Joana. Mereka sudah saling mengenal, karena Dokter Rika sering datang untuk memeriksa kesehatan nenek.


“Aku nggak apa-apa Dokter-“


“Joana. Sebaiknya kamu diam dan menurut!” tegas Nenek. “Kapan terakhir kali kamu mestruasi?”


Deg deg deg

__ADS_1


Jantung Joana seperti akan lepas dari tempatnya saat mendengar pertanyaan nenek. Bagaimana dia harus menjawabnya dan kenapa nenek langsung menanyakan hal pribadi seperti itu.


“Ini, baru selesai kok Nek, haidnya. Beneran.” Terpaksa dia berbohong.


“Jangan bohong kamu, Alva udah cerita semuanya sama nenek.”


Seketika Joana melirik pada lelaki yang sedang berada di sebelahnya itu. Joana menggeleng. “Apa yang kamu ceritakan, Mas?”


“Tentang kita, semuanya. Tanpa ada yang tersisa.”


“Biar saya periksa ya Jo.” Dokter Rika tak mau ikut campur apapun yang mereka alami, dia hanya menjalankan tugasnya sebagai dokter.


“Saya nggak apa-apa kok. Cuma tadi mual banget waktu kehirup aroma jahe,” jelas Joana.


“Maaf, maukah kamu mencoba alat ini?” Dokter Rika mengeluarkan sebuah alat tes kehamilan yang selalu dibawanya ke manapun, karena akan sering sekali terjadi pasien yang tidak menyadari kehamilannya. Dan dia semakin yakin dengan ap yang dialami Joana. Sepertinya apa yang wanita itu alami adalah gejala kehamilan awal.

__ADS_1


Masih gugup dan takut, Joana memandang ke arah Alva dengan perasaan takut. Sebelum dia menerima alat itu dari tangan dokter Rika.


“Cobalah, mungkin kekhawatiranmu selama ini bakalan terjawab.” saran Alva. “Aku juga nggak mau terjadi apa-apa dengan kamu, dan menyesal karena terlambat tau.”


“Cepat Jo!” titah nenek. “Coba sana!” nenek bukan tak panik, dia juga masih tak habis pikir mereka berdua bisa-bisanya melakukan perbuatan yang mengakibatkan tumbuhnya janin di rahim Joana.


“Eum ya Nek, maafkan aku…” lirih Joana. Dia merasa berasalah dengan air yang menggenang di pelupuk matanya.


Saat sudah tiba di kamar mandi, Joana menumpahkan tangisnya. Mengapa dia selemah ini. Padahal kemarin-kemarin, dia begitu tenang. Dan, Alva juga tak pernah meninggalkannya walau sebentar saja. Dia mendadak kehilangan kepercayaan diri setelah bertemu bagaimana kedua orang tua lelaki yang sudah mengambil kehormatannya itu.


Dengan jemari yang gemetaran, Joana mencoba alat itu. Mengikuti petunjuk di sana, sebuah benda pipih yang pasti memiliki berbagai persepsi. Bagi gadis yang belum menikah seperti dirinya, benda ini akan terlihat sangat menakutkan jika memberi hasil positif. Begitu juga sebaliknya, untuk wanita yang sudah bersuami, hasil baik sangat diharapkan, tentunya dari benda ini.


Tak sampai satu menit, Joana sudah mendapatkan hasilnya. Seketika rasanya dia ingin kembali pingsan.


“Gimana Jo?!” teriak nenek dari luar sana.

__ADS_1


__ADS_2