
Mau makan siang bareng?
Alva baru saja mengirimkan sebuah pesan pada sang kekasih sebelum memasuki jam makan siang. Hari ini, waktunya cukup luang. Biasanya Alva selalu memiliki jadwal yang padat, entah itu melewatkan makan siang, atau makan siang bersama klien. Tapi hari ini, dia benar-benar bebas.
“Pak, mau makan bareng?” Zea menawarkan sesuatu yang baru saja dia kirimkan pada Joana.
“Saya ada janji.” tegas Alva, menolak ajakan Zea walau Joana belum merespon ajakannya.
Ting.
Ting.
Ponsel Alva berbunyi tanda notifikasi chat, dia menyungging senyum tipis, sambil meraih ponselnya dari atas meja. Dia salah sangka, dia pikir itu adalah balasan dari Joana, ternyata bukan.
Alva baru saja membaca sebuah pesan yang tak dia sangka-sangka.
Mama, papa, dan nenek berangkat siang ini ke Jakarta. Kemungkinan sebelum sore udah tiba di bandara.
“Hah?!”
Alva memekik kaget, membaca kabar mengejutkan itu, orang tuanya dan juga neneknya akan menuju ke sini, dari Singapura. Tanpa mengabari terlebih dahulu, tapi ya setidaknya mereka sudah mengabari sebelum berangkat, dari pda muncul tiba-tiba di rumah.
“Ada apa, Pak? ada sesuatu yang mengejutkan?” Zea tentu kepo saat Alva bereaksi saat lelaki itu terkejut lalu menatap layar ponselnya.
“Nggak apa-apa. Saya harus pergi.” Masih jam sebelas siang, Alva menarik jasnya lalu memakai secara asal. Tak sabar karena Joana tidak membalas pesannya, mungkin wanita itu sedang sibuk melayani tamu, atau sama sekali tidak mempeduikan ponsel hingga tidak tahu jika Alva mengirimnya chat.
Alva keluar dari lift, matanya langsung tertuju pada meja resepsionis. Ada Joana sedang berdiri di sana, berbicara dengan seseorang. Ingin menghampiri, tapi di sekitar mereka sedang banyak orang. Pada akhirnya Alva duduk di sofa yang ada di lobi. Hal yang belum pernah dia lalukan sekalipun, selama berada di kantor ini, hingga mengundang perhatian para pegawai lain yang melintas.
__ADS_1
Setelah memastikan seorang kurir yang sedang berbicara dengan Joana, sudah benar-benar pergi, Alva memberanikan diri menghampiri wanita itu.
“Selamat siang, ada yang bisa-“
Joana hanya merasakan kehadiran seseorang setelah dia duduk kembali di kursinya, tanpa melihat siapa yang datang, dia langsung menyapa. Dan seketika berhenti saat dia mendongakkan kepala. Alva ada di sana.
“Joana, saya mau bicara sama kamu.” Alva berbicara sangat formal karena di samping Joana ada Amanda, rekan wanita itu.
“Ah iya Pak, sebentar.” Joana langsung mengerti, dia melirik Amanda sekilas. “Gue keluar sebentar ya.” Bisiknya.
Tanpa menunggu jawaban Amanda yang sedang kebingungan, Joana mengikuti langkah Alva.
“Kita harus pulang sekarang, bersih-bersih rumah, dan mengganti sofa dengan yang baru.” Ya, meski hampir dua bulan berlalu, Alva masih belum mengganti sofa nenek yang terkena noda mahkota milik Joana itu, dengan yang baru. Entah mengapa rasanya dia tidak rela, baginya sofa itu penuh kenangan.
“Nenek mau pulang ke sini, Mas?” Joana yang panik mendengar pernyataan Alva, tidak lagi peduli kini dirinya menjadi pusat perhatian saat jalan beriringan dengan big boss.
Memang keadaan rumah tidak berantakan, hanya saja mereka perlu memastikan apa yang harus dibereskan sebelum nenek tiba.
Alva mencoba menghubungi neneknya untuk memastikan. Hanya butuh beberapa detik, panggilan langsung tersambung.
“Ya ampun, cucu nenek sayang. Kita memang sehati, ya?” sambut nenek di sana kegirangan. “Baru aja nenek mau hubungi kamu.”
“Iya Nek, apa beneran nenek mau pulang ke sini?”
“Ya… benar, kemungkinan jam tiga sore pesawat landing, Kamu akur-akur kan sama Joana?”
“I-ya, iya Nek.” sedikit gugup Alva menjawab. Nyatanya bukan sekadar akur, mereka sudah berbagi segala-galanya.
__ADS_1
“Nah, kalau begitu. Ajak Joana belanja ya! nanti nenek kirimkan list bahan makanan yang harus kalian beli. Nenek akan siapkan makan malam di rumah, nanti malam kita ada acara makan malam keluarga.” Tegas sang nenek di seberang sana.
“Iya, baiklah Nek. Kebetulan aku lagi bersama Joana. Kirimkan aja catatan belanjanya. Makan malam dalam rangka apa, Nek?” tanya Alva penasaran, dan dalam rangka apa juga orang tuanya pulang ke sini? secara mendadak pula.
“Nenek juga nggak tau, ini keinginan mama dan papamu. Katanya ada hal penting yang mau mereka sampaikan ke kamu. Dari pada makan di restoran, lebih bagus nenek yang masak! kita makan di rumah,” jelas Nek Merry.
Mendengar namanya disebut, Joana langsung gugup dan takut. Mengapa Alva seberani itu, mengatakan bahwa mereka sedang berdekatan.
“Baiklah Nek.” perasaan Alva semakin berkecamuk saja, dia memang berencana mengajak Joana bertemu orang tuanya dalam waktu dekat ini. Mengajak wanita itu ke Singapura menemui mama dan papanya, tapi waktunya saja yang belum pas karena banyak pekerjaan yang belum bisa dia tinggalkan.
“Apa kata nenek?” Joana yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari Alva, langsung bertanya ketika panggilan tersambung.
“Kita harus belanja bahan makanan, nanti malam orang tuaku makan malam di rumah nenek,” jelas lelaki itu.
“Eum, ya… tapi kita makan dulu, kan Mas? aku lapar banget.” Joana tidak lupa kalau lelaki ini tadi mengajakanya makan siang.
“Belum jam makan siang, kamu udah lapar pake banget. Seingatku, pagi tadi kamu juga makan nasi goreng dua piring,” ujar Alva menoleh heran pada wanita itu.
“Ya mana aku tau. Aku lapar, gimana? terus masalahnya apa kalau aku makan nasi goreng dua piring. Kamu takut aku gendut, Mas? iya? hah?”
Jika Joana sudah menjawab dengan nyolot seperti itu. Alva lebih baik diam, salahnya juga menyebut-nyebut Joana makan nasi goreng dua piring. Sampai kekasihnya itu merasa tersindir, tapi dia hanya berkata apa adanya. Itulah yang dilihatnya pagi tadi. Joana makan cukup banyak.
“Kamu mau makan apa?” tanya Alva mengalihkan pembicaraan.
“Nasi padang.” jawab Joana tegas tanpa ragu.
🍑
__ADS_1