My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Tidak akan merestui


__ADS_3

“Sejak kapan?!” Nenek duduk tepat di sisi ranjang, sambil masih menatap Alva dan bergantian dengan Joana yang sedang memejamkan mata.


“Ya sejak… udah sebulan, Nek,” sahut Alva gugup.


“Kenapa bisa, Al? kenapa harus dia? Kamu bisa dapat yang lebih!” protes keras dilayangkan oleh Alma pada anaknya.


“Apa yang salah dengan Joana?” Nek Merry bertanya dan menatap tajam ke arah sang menantu. “Joana gadis baik-baik. Dia sopan, pekerja keras dan merupakan gadis rumahan. Bukan seperti gadis-gadis di luar sana yang suka kelayapan nggak jelas.” Bela nenek terhadap Joana.


“Ibu? Why? kenapa? Apapun alasannya, Alva bisa dapat yang lebih.” tegas Alma tak peduli dengan siapa dia berbicara. “Kita nggak tau, keluarga dan latar belakang dia berasal dari-“


“Mama cukup! kali ini aja, aku mau pertahankan keinginanku, aku capek Ma ngikutin kemauan kalian terus! aku cinta Joana!” Alva berucap tegas.


Nenek tersenyum. Sepertinya misinya selama ini, berhasil. Tapi juga heran dengan Alva yang dengan mudah ya mengatakan dia mencintai Joana. Apa mungkin secepat itu?


“Alva, kamu… euh enggak! mama nggak akan restui kalian, apa itu tadi kamu bilang? mau menikahinya? putuskan dia sebelum terlambat!” Alma langsung balik badan setelah mengatakan itu. Tidak bisa dia terima anaknya akan menikahi gadis biasa.

__ADS_1


“Nggak usah pedulikan mamamu. Ini hidupmu, kamu berhak bahagia dengan pilihanmu.” bisik Nenek. “Nenek udah telpon Dokter Rika, beliau sedang menuju ke sini.”


“Cuma nenek yang bisa mengerti aku,” sahut Alva.


Nenek menyentuh telapak tangan Joana, wanita itu tampak pucat. “Joana memang pernah sakit demam, flu atau kelelahan. Tapi nggak pernah sampai muntah-muntah apalagi pingsan.” Nenek melirik ke arah Joana lagi.


“Kayaknya dia hamil, Nek.” Tanpa beban, tanpa rasa berdosa, Alva mengatakan kalimat yang membuat neneknya membulatkan mata.


“Yang benar aja kamu!” Nenek siap menjewer telinga cucunya, tapi sebisa mungkin Alva segera menghindar.


“APA?! SIAPA YANG HAMIL?!” Alma kembali masuk ke kamar, disusul dengan suaminya.


“Di mana pikiran kamu, Al? Hamili anak orang sebelum nikah?” timpal Vardi.


“Jangan-jangan itu cuma akal-akalan dia aja Pa. Supaya kita terpaksa merestui. Apapun alasanmu, Mama nggak akan restui! Ayo Pa, kita pulang aja!”

__ADS_1


“ALMA! Kalau kamu lakukan itu, berarti kamu nggak menghargai ibu.” Nenek berucap lebih tegas.


“Ibu, ini nggak masuk akal…” lirih Alma.


“Bagaimana denganmu, Nak?” pandangan nenek beralih pada putranya.


“Sebenarnya aku berat menyetujui, tapi kalau semuanya udah terjadi, kita bisa apa? Alva laki-laki, dan dia harus bertanggung jawab kalau memang itu perbuatannya.”


“Kalau memang Joana hamil, udah pasti dia hamil anakku.” Alva menegaskan.


“Salah dia sendiri nggak bisa menjaga diri. Kamu laki-laki, dia perempuan. Kalian tinggal serumah, pasti dia menggodamu, iya kan? udah deh, Terserah aja. Mama mau pulang!” Alma memegangi keningnya, pulang ke Indonesia bukannya membuat pikirannya tenang, justru semakin rumit.


Vari pun pergi meninggalkan ruangan itu, menyusul istrinya. Makan malam kali ini memang mereka tujukan untuk berbicara pada Alva tentang pernikahan, jika Alva belum memiliki calon, mereka akan siapkan. Tapi semuanya gagal, karena Joana dan Alma tidak henti-hentinya mengumpat tentang wanita itu di sepanjang perjalanan menuju rumah mereka.


🍑

__ADS_1


Tenang, hari ini aku akan double up. Jangan lupa likenya


__ADS_2