My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Pesan nenek


__ADS_3

“Syarat apa lagi, Pak?” Joana bertanya dengan penuh penekanan. Dia tak segan-segan memperlihatkan jika dia sedang jengkel dengan lelaki di sebelahnya ini. Tapi ada satu hal setidaknya yang membuat Joana lega adalah, mereka sudah tiba di rumah. Mobil mewah milik Alva sudah berhenti tepat di halaman rumah kesayangan nenek.


Setelah menghentikan mobilnya, lelaki itu menoleh pada Joana. Dia bisa menatap Joana lebih lama dan lebih jelas meski dengan pencahayaan yang remang-remang. Tangan Alva terulur untuk menyielipkan rambut Jona di telinga wanita itu. Hingga Joana reflek menghindar.


“Jadilah teman yang saling menyenangkan.” Lelaki itu menyeringai, membuat Joana merinding.


“Ih apaa sih Pak.” Joana hendak membuka pintu mobil, tapi sial sekali dikunci oleh Alva. “Pak tolong, jangan nambah beban hidup saya. Hidup saya udah terlalu berat.” Keluh Joana. Dia kesal dan menghentakkan kakinya. Bagaimana Joana tidak mengatakan bahwa Alva menambah beban hidupnya. Hidupnya yang dulunya aman, tentram bersama Nek Merry, sejak kehadiran Alva, semuanya berubah.


“Justru saya akan meringankan beban hidup kamu, Joana.” tegas Alva.


“Mari kita nggak saling mencampuri urusan satu sama lain,” ucap Joana lagi.


“Kamu yakin nggak mau berurusan sama saya lagi?” Alva menaikkan kedua alisnya, dia tersenyum menang karena sangat yakin, setelah ini Joana akan memohon lagi padanya.


“Yakinlah, sangat yakin! mari kita hidup normal layaknya tetangga yang nggak saling mencampuri, sekadar menyapa dan say hai aja.” tegas Joana.


“Oke kalau itu mau kamu, silakan turun dari mobil saya…” Alva menjeda kalimatnya sejenak, lalu menekan tombol di sebelah kanannya, agar wanita itu terbebas. “Sayang banget ya, padahal saya mau kasih tau kamu kabar tentang nenek.” Alva mengetuk-ngetuk stir mobilnya menggunakan jemari panjangnya, menanti jawaban Joana.


satu


dua


ti…

__ADS_1


Benar kan, kamu bakalan sulit lepas dari aku, Joana.


Alva bergumam senang dan menang, ketika Joana mengurungkan niat untuk turun dari mobilnya meski pintu sudah dibuka oleh gadis itu.


“Ada apa dengan nenek?! nenek baik-baik aja kan?” tanya Joana khawatir. “Kalau mau kasih info jangan setengah-setengah, Pak.” protesnya.


“Tutup dulu pintunya!” titah Alva.


Joana berdecak, mau tak mau dia menuruti lagi. Entah mengapa dia selalu kalah dari lelaki yang sering berbuat semena-mena padanya ini.


Alva mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah chat lalu memutar voice note yang dikirim oleh neneknya.


“Jangan khawatirkan nenek, anak cantik. Nenek nggak apa-apa. Kamu nggak punya salah. Pesan nenek padamu, berdamailah dengan dirimu sendiri, juga dengan masa lalumu. Tataplah masa depan yang mungkin sekarang ada di sekitarmu, kamu berhak bahagia.”


“boleh saya nelpon nenek sekarang? pinjam hapenya Pak.” Joana kembali memasang tampang memelasnya.


Alva menggeleng. “Percuma,” sahut lelaki itu.


“Pak, tolong. Karena nenek nggak pernah angkat telpon dari saya. Bukan tanpa alasan saya minta tolong ke Bapak.”


“Hm, kamu nggak tau waktu? ini jam berapa? nenek udah tidur.” Alva menunjuk pada arlojinya. Sudah hampir jam dua belas malam. Benar yang dikatakan lelaki itu, nenek pasti sudah istirahat.


“Kalau besok gimana?” Joana tersenyum, menatap Alva. Bukan, dia bukan merayu. Hanya ingin mencoba tahu diri. Dia yang meminta tolong, bukankah harus bersikap sopan dan baik?

__ADS_1


Beberapa detik, Alva betah menatap gadis yang sedang tersenyum padanya itu sebelum senyum itu memudar. “Iya boleh. Jadi, masih mau berurusan dengan saya?” sindir Alva.


“Saya nggak punya pilihan.”


“Memang harusnya begitu. Kita akan saling membutuhkan. Sebagai imbalan, besok buatkan saya sarapan yang enak!” titah Alva.


“Siap Pak!” sahut Joana dengan semaangat, jika imbalannya hanya sarapan. “Tapi nenek beneran nggak marah sama saya? kenapa telpon saya selalu diabaikan, Pak? dan kapan nenek kembali ke sini?”


“Itu saya nggak tau apa sebabnya. Mungkin nenek bosan berurusan sama kamu,” ejek Alva. “Katanya beberapa bulan kemudian nenek akan kembali.”


“Apa?! beberapa bulan kemudian?!”


“Ya, dan segala urusan yang berkaitan dengan rumah, menjadi urusan saya.”


Joana pasrah. “Apa Bapak cucunya nenek?”


“Kenapa jadi kamu yang mau tau urusan orang lain? padahal tadi jelas-jelas kamu yang meminta supaya kita nggak mencampuri.”


skak mat.


Joana langsung terdiam. Sungguh dia memang kepo tentang itu. “Oke Pak kalau begitu, saya turun. Terima kasih tumpangannya juga informasinya.”


“Joana-“ Lagi, lelaki itu menahannya, kini tak hanya sekadar memanggil, tapi Alva menarik pinggang Joana agar kembali berbalik ke arahnya. Joana kini baginya bagainya magnet dan memiliki sihir yang sulit untuk dia hindari.

__ADS_1


__ADS_2