
Sarapan pemberian Alva habis dilahap oleh Joana tanpa sisa, selain karena menghargai makanan, Joana juga memang lapar. Lelah menangis, kiga lelah berpikir. Satu jam setelahnya, Joana keluar dari kamar setelah membereskan dan merapikan kamarnya. Setelah tidur semalaman, dia merasa lebih baik saat ini. Ya meski masih merasa tidak nyaman di tengah-tengah tubuhnya itu. Apalagi ketika buang air kecil, rasanya panas dan juga perih.
Usai mandi dan lebih rapi, Joana kembali keluar dari kamarnya sambil membawa nampan bekas piring dan gelas kotornya. Apa yang pertama dilihatnya setelah keluar adalah Alva yang sedang berbaring di sofa, entah mengapa sejak malam itu, sepertinya sofa menjadi tempat favoritnya. Semuanya masih terngiang-terngiang dan terekam jelas dalam ingatannya.
Senyum terbit di bibir Alva, saat mendengar suara pintu, sesuatu yang sangat dia nantikan. Lelaki itu langsung menoleh. Joana, wanita itu akhirnya keluar dari sarangnya. Joana tampak sibuk di dapur mencuci gelas dan piring bekas makannya, membersihkan dapur dan meja makan. Kebetulan, interior rumah itu antara ruang keluarga, ruang makan dan dapurnya menyatu. Jadi Alva bisa bebas memandang gerak gerik Joana meski agak berjauhan
Tidak tahan, Alva akhirnya mendekat. Berharap Joana tidak menolak dan menghindarinya saat ini. “Ada yang bisa aku bantu?” Alva menawarkan bantuan, siapa tahu Joana butuh.
Kebetulan Joana sedang mengikat kantung plastik berisi sampah. “Apa aku sopan kalau meminta bantuan sama bos besar?” sindir Joana.
Alva tertawa kecil. Sepertinya suasana hati Joana mulai membaik. “Aku bukan bos kamu kalau di rumah. Karena kita dititipkan menjaga rumah ini bersama-sama, maka apa yang berkaitan dengan rumah, juga menjadi tanggung jawabku.” tegas Alva, lalu mengambil alih kantung plastik berisi sampah dari tangan Joana.
“Tapi Pak, itu sampah.” Joana merasa tidak enak jika Alva yang melakukannya, saking gugup dan panik dia lupa mengubah panggilannya pada lelaki itu.
Seketika Alva menunduk, mendekatkan wajahnya pada Joana, mengecup singkat bibir wanita itu mengakibatkan Joana terdiam kaku. “Hukuman untukmu kalau masih panggil aku dengan sebutan Pak.” ucapnya tanpa rasa bersalah, Alva kabur keluar rumah sambil membawa kantung sampah.
“Seenaknya aja dia.” Joana menggerutu, sambil mencuci tangannya di wastafel. Meski menggerutu, dia tak bisa menunda lengkungan di bibirnya yang kini telah membentuk sebuah senyuman.
Selesai urusan di dapur, Joana mengambil sapu. Entah sudah berapa hari dia tidak menyapu rumah, dan benar-benar tidak ada waktu jika tidak di hari libur seperti ini. Joana menyapu dari dapur, dan semua ruangan dan kamar yang ada di rumah itu kecuali kamar yang ditempati Alva.
Joana penasaran apa yang dilakukan Alva di luar rumah, hingga lelaki itu tak kunjung kembali setelah lebih dari sepuluh menit. Saat ingin menyapu di bagian teras, Joana terperangah melihat Alva sedang memegang sapu lidi dan menyapu halaman, membersihkan dedaunan pohon jambu yang berserakan di atas rerumputan.
“Bisa juga dia nyapu halaman?”
__ADS_1
Sekilas mereka saling melempar senyum, Joana mencuri-curi pandang pada lelaki yang sedang asyik dengan sapu lidi dan serokan sampah itu. Dengan beberapa titik keringat di dahinya, Alva terlihat semakin tampan.
Aktifitas mereka saat ini persis seperti sepasang suami istri yang sedang mengurus rumah bersama-sama. Usai menyapu, Joana menyusul Alva ke halaman rumah. Dia menyalakan kran dan mengambil selang air yang biasa dipakai untuk menyiram tanaman. Hal yang biasa dilakukan Nek Merry, sejak nenek pergi begitu saja, kini harus dilakukan Joana, merawat semua tanaman milik nenek.
“Biar aku aja.” Alva menawarkan diri setelah merasa halaman sudah lebih bersih. Lelaki itu mampu menyapu dengan sempurna. Dedaunan kering yang sudah dikumpulkan menjadi satu, Alva membuangnya ke tempat sampah yang ada di depan rumah.
“Ternyata Mas bisa ngerjain kerjaan rumah kayak gini ya?” puji Joana, tanpa membiarkan Alva mengambil alih selang air yang masih dipegangnya.
“Aku juga pernah tinggal di rumah ini selama dua tahun, waktu SMA. Mama dan Papa terlalu sibuk dan bolak balik ke luar negeri, aku dititipkan di sini, tinggal sama nenek. Jadi, menyapu dan membersihkan rumah ini bukan suatu yang aneh lagi. Nenek selalu minta aku membersihkan halaman, setiap hari minggu,” jelas Alva panjang lebar.
Joana mendengar dengan saksama. Ternyata, ada sisi yang berbeda dari lelaki itu saat mereka saling berbagi cerita seperti ini.
“Hm, begitu. Kenapa nenek nggak mau pakai jasa art ya?” tanya Joana heran, karena selama ini memang nek Merry selalu melakukan banyak hal dengan tangannya sendiri tanpa bantuan orang lain.
“Kamu nggak pingin tau awal mula gimana aku bisa tinggal di sini?” tanya Joana.
“Gimana? di mana kamu kenal nenek?” Alva begitu penasaran sebenarnya, tapi dia enggan bertanya.
“Kamu lihat di depan sana, Mas.” Joana menunjuk sebuah rumah bertingkat, di seberang rumah mereka.
“Ya, kenapa?”
“Itu kos-kosan wanita. Sebenarnya tujuan aku ke sana. Tanpa sengaja aku berhenti di depan rumah ini. Kebetulan ada nenek lagi membersihkan tanaman, aku berhenti untuk nanya alamat kos-kosan itu ke nenek. Tapi ternyata, setelah aku ke sana, semua kamar penuh. Nenek malah nawarin untuk tinggal di sini, dengan harga yang cukup menggirukan. Siapa yang bisa menolak? apalagi kata nenek, beliau mengaku tinggal sendiri dan kesepian. Mulai hari itu aku setuju tinggal di sini, dan besoknya aku langsung pindah.” Joana pun terlihat nyaman bercerita dengan Alva tentang awal perkenalannya dengan nenek. “Dan ternyata nenek itu baik banget, penyayang, dan udah anggap aku kayak cucunya sendiri. Ya mungkin karena nenek juga kasihan dengan nasibku yang ternyata seorang yatim piyatu.” Lanjut Joana.
__ADS_1
Kali ini, Alva yang mendengarkan cerita Joana tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah wanita itu. “Nenek memang baik, aku cucu kesayangannya, mungkin beliau juga pingin merasakan punya cucu perempuan.”
“Kamu anak tunggal, Mas?”
“Iya,” sahut Alva.
“Sama.” timpal Joana.
“Kamu yatim piyatu? nggak jauh beda, sebenarnya kita sama.”
“Kenapa begitu?” Joana berkerut kening, orang tua Alva masih lengkap mengapa dia mengatakan sama?
“Orang tuaku terlalu sibuk, terlalu gila bekerja sampai sering melupakan aku, dari kecil aku nggak dekat sama mereka. Lebih dekat sama nenek, Dan sekarang udah terbiasa tanpa mereka,” jelas Alva lagi.”
Joana mengangguk. “Tapi paling nggak, kamu masih bisa melihat sosok mereka. Bukan kayak aku yang cuma bisa lihat pusara dan fotonya aja.” Joana tersenyum pilu.
“Mas, tolong kamu lanjutin ya!” titah Joana tanpa aba-aba dia menyerahkan selang air itu pada Alva.
“Kamu mau ke mana?” Alva heran menatap Joana yang sepertinya sedang terburu-buru masuk ke dalam rumah. “Kenapa dia?!” gerutu Alva.
🍑
Udah ada manis-manisnya belum, mereka?
__ADS_1