My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Tetapkan tujuan yang sama


__ADS_3

Sore sebelum malam, mobil yang ditumpangi Joana dan Alva melaju pelan. Jalanan kota Jakarta yang padat di setiap sore terutama di waktu weekend seperti ini, membuat Alva tak bisa mempercepat laju mobilnya. Sesuai permintaannya, Joana menuruti Alva untuk ikut dengannya malam ini. Mengambil pakaian dan beberapa keperluan lain miliknya di apartemen. Alva sempat memutuskan untuk pindah dan menghindari Joana sebelum pada akhirnya mereka dipersatukan lagi oleh takdir cinta satu malam.


Joana masih tak banyak bicara saat di dalam perjalanan sampi akhirnya, bunyi ponsel milik Joana memecahkan keheningan. Nama Kak Daniel terlihat di layar. Joana menyungging senyum tipis.


“Halo Kak…” lembut suara Joana saat menjawab telpon itu membuat Alva melirik sinis ke arahnya.


“Mau makan malam bareng?” tawar Daniel.


“Eum, jam berapa? midnight?” Mereka memang biasa makan jajanan pinggir jalan di tengah malam.


“Terserah kamu, asal jangan ngeluh gendut.”


Joana terkekeh, dan obrolannya di telepon terus mengundang perhatian Alva dan membuat konsentrasi menyetirnya terganggu.


“SIAPA?” tanya Alva.


“Nanti aku kabarin ya Kak, soalnya aku… lagi di luar.”


“Sama Zea?”


“Bukan, ini sama-“


Alva merampas ponsel Joana .”Sama gue.”


“What?” Daniel terperangah. “Lo siapa?!”


“Siniin hapeku!” Joana mencoba merebut kembali ponsel miliknya. Tapi tenaganya kalah.


“Ya gue, Alva. Bos sekaligus calon suami Joana.” tegas Alva sekaligus memutus panggilan secara sepihak.


“Bertindak sesuka hati, selalu begitu!” gerutu Joana, saat Alva mengembalikan ponsel miliknya lagi.


“Stop berhubungan dengan Daniel.” Alva mengingatkan.


“Dia kakakku, mana mungkin aku nggak berurusan lagi dengan dia-“


“Kakak angkat? kakak yang kamu temui saat kamu beranjak remaja? Bukan nggak mungkin dia punya maksud lain sama kamu.”

__ADS_1


Alva seperti sudah menguasai Joana saat ini. Joana merasa kebebasannya terenggut.


“Ingat Mas, kamu nggak punya hak untuk melarang dan membatasiku!” sentak Joana.


Ya… memang untuk saat ini tak ada yang mengikat mereka. Kejadian malam itu tak bisa Alva jadikan alasan.


“Maaf, Joana. Aku cuma-“


“Udah deh. Aku males.” Joana menyandarkan kepalanya, lalu matanya terpejam.


🍑


Nyatanya, Joana jadi badmood sampai mereka tiba di apartemen. Alva mencoba mencairkan suasana, saat turun dari mobil, dia meraih tangan Joana untuk digandeng, tapi Joana tentu menghindar. Alhasil, mereka jalan sendiri-sendiri. Joana tetap mengikuti Alva dalam diam, sampai tiba di unit apartemen milik Alva.


“Silakan masuk, Nyonya.” ucap Alva.


Joana terkagum melihat interior di dalamnya, siapa sangka di balik sebuah pintu itu terdapat interior mewah seperti ini. Semua perabotannya berkonsep minimalis modern. “Silakan duduk dulu, atau mau ikut ke kamar?” tawar Alva.


“Ikut aja.” bukan karena ingin selalu berada di dekat Alva, tapi Joana penasaran bagaimana bentuk kamar di apartemen mewah ini.


Mata Joana langsung tertuju pada sebuah dinding kaca, yang merupakan jendela di kamar itu. Di balik kaca menampilkan pemandangan malam kota Jakarta. Lampu-lampu kendaraan yang sangat banyak, terlihat sangat indah dari sini. Juga gedung-gedung tinggi dan langit cerah berbintang menambah suasana semakin indah.


Alva tersenyum melihat Joana yang tampak menikmati dan menyukai suasana apartemennya ini. “Kamu suka di sini?” Alva berdiri tepat di belakangnya, sangat dekat bagai tak berjarak. Dua lengan Alva juga menyusup perlahan melingkar di perut Joana. “Sebentar aja, sebentar, please.” pinta Alva sebelum si pemilik tubuh protes dan menghindar.


Joana mengangguk. Membiarkan Alva memeluknya meski dia kini sedang mati-matian menahan napas. Keberadaan Alva di sekitarnya sangat tidak baik untuk kesehatan jantung dan pernapasannya.


“Unit ini mewah banget. Kamu yakin mau ninggalin tempat sebagus ini, demi tinggal di rumah tua milik nenek?” tanya Joana.


“Memang bagus dan mewah, tapi nggak ada kamu di dalamnya, maka aku akan pergi ke tempat di mana kamu berada. Atau kamu mau kita berdua tinggal di sini?” Alva menawarkan sesuatu yang mungkin akan Joana terima.


Joana menggeleng. “Rumah nenek bakalan kosong, nggak ada yang jaga.”


“Oke kalau begitu, aku yang mengalah tetap tinggal di rumah nenek.”


Joana mengangguk lagi. Mana mungkin dia melarang lelaki itu. Lagipula, tak ada lagi yang perlu Joana khawatirkan. Sesuatu berharga dari dirinya juga sudah diambil oleh Alva.


“Joana.” Alva membalikkan tubuh Jona agar menghadap ke arahnya.

__ADS_1


Wanita yang tingginya hanya melewati sedikit bahu Alva itu menurut dan mendongakkan kepalanya menatap si lawan bicara.


“Aku mau bicara.” belum sempat Alva yang memulai, Joana telah lebih dulu.


“Ya?” Alva masih memegang kedua pundak wanita itu.


“Sebenarnya, apa yang kamu mau dari kita?” Jujur saja Joana masih bingung. Sejak awal, sikap lelaki itu sudah tak bersahabat dengannya dan kini semuanya seperti berubah seratus delapan puluh derajat.


“Dari kita?” Alva masih bingung dengan pertanyaan Joana.


“Ya, kalau tanggung jawabmu ke aku hanya sekadar karena malam itu, berarti kamu terpaksa menikahi aku. Jangan bohong, jujurlah. Bukan nggak mungkin setelah kamu bosan dan benar-benar menemumakan sosok yang kamu inginkan, kamu bisa aja meninggalkan aku di tengah jalan?” Joana mengungkapkan ketakutannya jika dia terlalu mudah menerima ajakan Alva.


“Joana, tolong dengar-“


“Sebentar, aku belum selesai, Mas.” potong Joana.


“Silakan dilanjutkan.”


“Pernikahan bukan hal yang bisa dipermainkan, aku cuma mau menikah satu kali seumur hidup.” tegas Joana.


“Aku juga maunya hanya sekali, dalam hidupku,” sahut lelaki itu.


“Lalu, apa aku pantas? mendampingimu selamanya, aku yatim piatu, dan keluargaku yang lain nggak ada di kota ini. Mereka di kampung. Kita jauh berbeda bagaikan langit dan bumi.” Joana menunduk tak mampu lagi menatap Alva.


“Pantas, sama seperti kamu, aku juga mau pernikahan dalam hidupku cuma sekali. Sejauh ini, kita jalani aja dulu. Kita bisa saling mengenal, saling peduli, perhatian dan belajar memiliki perasaan yang pantas dimiliki sepasang suami istri. Semua bisa kita lakuin sama-sama, yang penting kita punya tujuan yang sama.” Alva sadar, usianya tak lagi muda untuk hanya sekadar bermain-main. Maka menurutnya, memilih Joana bukanlah pilihan yang salah.


Baru kali ini Joana mendengar Alva berbicara seperti orang waras. Maksudnya, tanpa ada candaan, tanpa emosi, dan kata-katanya terdengar sangat bijak.


“Jadi, kamu mau, kan? kita saling belajar dan tetapkan satu tujuan?” tany Alva sekali lagi.


Joana mengangguk yakin, bibirnya menerbitkan senyum malu-malu. Dia terpesona dengan paras tampan di hadapannya, tak hanya parasnya tapi kewarasan lelaki itu malam ini.


Alva memeluk Joana, tangan Joana yang awalnya enggan membalas, kini memberanikan diri menyentuh pinggang Alva lalu perlahan melingkarkan lengannya di sana.


🍑


Likenya ya

__ADS_1


__ADS_2