My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Ada Buktinya?


__ADS_3

“Kamu mau ikut, ketemu mama?”


baru saja Joana menutup pintu kamarnya, tapi beberapa detik kemudian, pintu kembali terbuka membuatnya sedikit kaget dan mengerjapkan mata. Sosok tampan yang dia pikir melupakannya begitu saja itu, kini ada di hadapannya.


“Atau kamu istirahat aja di rumah?” lelaki itu bertanya lagi.


Alva menghampirinya, dia tidak lupa kalau kini sudah memiliki istri dan Joana adalah bagian dari anggota keluarganya, meksi belum mendapatkan pengakuan.


“Aku-“ Joana bingung. Ikut? atau tidak. Dia khawatir kalau dirinyalah penyebab mertuanya masuk rumah sakit. Dan kehadirannya di sana nanti hanya akan menjadikan suasana tambah kacau. “Di rumah aja deh.” ucapnya tanpa ragu. Joana sadar diri, dia pasti amat dibenci oleh orang tua Alva.


“Ya… Alva, biarkan Joana di rumah dan istirahat. Seharian ini pasti capek, kamu harus jaga kehamilan kamu, Nak. Oke? Nenek dan Masmu pergi dulu, ya?” nenek menimbrung pembicaraan mereka. Lalu pamit begitu saja.


Joana mengangguk lalu tersenyum. “Iya Nek, aku di rumah aja.” dia menjadi lebih tenang karena mendapatkan dukungan dari nenek.


“Ya udah, hati-hati di rumahTidur yang nyenyak, jangan nungguin aku, ya?” Sebelum benar-benar pergi, Alva mengecup kening Joana singkat dan cepat.


“Mas juga hati-hati.”


Dan kini Joana sedang menatap punggung suaminya yang tengah berlalu meninggalkannya.


Sebelum akhirnya naik ke tempat tidur, dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, meredakan air matanya yang nyaris keluar sedari tadi. Perjuangannya akan sangat panjang di mulai sejak hari ini.


🍑


“Mama kamu itu, nggak pernah sakit dan sebelumnya sehat-sehat aja. Kamu tau ini semua karena apa?” tanya Vardi, sang papa sambil menatap istrinya yang sedang terbaring dengan infus yang terpasang di tangannya.


“Pa—“

__ADS_1


“Tega ya kamu nikah, tanpa izin orang tua.” tegasnya lagi.


“Tapi Pa, Joana hamil anakku. aku harus tanggung jawab—“


“Bisa kan kamu ceraikan dia setelah anak itu lahir?”


“Apa yang salah dengan Joana, Pa?” lirih Alva sedih. Bagaiamanpun dia sudah terlanjur sayang juga cinta dengan wanita yang kini sedang mengandung anaknya itu.


“Dia nggak jelas asal usulnya, itu yang bikin mama khawatir mikirin kamu, sampai akhirnya sakit!”


“Nggak jelas gimana? dia itu yatim piatu.” Nek Merry tiba-tiba masuk, ke ruangan dan mendengar jelas percakapan mereka. ”Kalau kalian mau tau di mana orang tuanya? besok kita bisa pergi ke makamnya.”


Alva bernapas lega, ketika mendapatkan pemberlaan maksimal dari neneknya.


“Ibu, aku cuma mau yang terbaik buat Alva.”


“Ibu.”


Alma akhirnya bersuara, sedari tadi dia memang tidak benar-benar tidur. penyakit Asam lambungnya kambuh lantaran terlalu banyak pikiran, cemas dan panik.


“Alma, apa susahnya kamu menerima Joana sebagai menantu. Toh dia juga sedang hamil, calon cucu kalian.” jelas nenek.


“Bisa aja itu bukan anak Alva.” sahut Alma.


“Ma, itu anak aku-“


“Ada buktinya, bisa aja dia juga melakukannya dengan orang lain. Kamu cuma tumbal karena dia menganggap kamu pria kaya?” tanya Vardi.

__ADS_1


Bagaimana Alva harus menjelaskan tentang bukti? Tes DNA? tapi kehamilan Joana masih sangat baru, apa tidak berbahaya. Atau, Alva tunjukkan saja jejak noda percintaan mereka di sofa nenek yang ada di gudang?


“Tapi Joana masih perawan. Gimana cara aku buktikannya, Pa? sayangnya, aku nggak sempat merekam video waktu kami bercin—“


Kletak!


Kening Alva, mendapat sebuah sentilan dari sang nenek. “Bukan begitu, kamu ini lulusan S2 luar negeri masih aja bego!” kesal Nek Merry pada cucunya.


Sesungguhnya Alva tidaklah sebodoh itu, dia hanya saja ingin mencairkan suasana yang mencekam ini dengan kalimat asal yang keluar dari mulutnya.


“Terserah kalian aja. Alva, kehadiran kamu ke sini bikin mama tambah sakit, pergi aja sana temui istri barumu.”


“Ma, tapi penyakit mama ini, muncul akibat ulah mama sendiri.” Alva memberanikan diri berucap.


“Berani kamu nyalahin mama?!” sentak Alva.


“Ayo kita pulang!” Nek Merry menarik lengan cucunya memaksa agar keluar dari ruangan itu.


“Benar kata Alva, kamu itu sakit karena kecemasanmu sendiri.” tukas Nek Merry.


“Mau sampai kapan Ibu terus membela dia?” tanya Vardi pada sang ibu.


“Kalian nggak sadar? kalian hanya orang tua resminya aja. Tapi keseharian, sifat, sikap dan semua yang Alva sukai itu, Ibu yang lebih tau. Kalian meninggalkan Alva sesuka hati, dan sekarang juga memperlakukannya sesuka hati. Kemauan kalian harus selalu dia turuti. Ibu rasa, ibu lebih punya hak atas Alva.”


Pernyataan panjang lebar dari Nek Merry, sepasang suami istri itu tidak ada yang berani membantah bahkan sampai Alva dan neneknya pergi meninggalkan ruangan itu.


🍑

__ADS_1


Next? coba komen yang banyak dulu, biar seru😆


__ADS_2