
Joana tersentak, dia membuka mata melihat ruang kamarnya sudah terang dan udaranya juga cukup panas, gerah dan membuat keringatnya bercucuran. Apalagi, ternyata sejak malam tadi ada seseorang yang tidur di sebelahnya, membuat tidurnya tidak leluasa. Kini, ada sesuatu yang seperti mengaduk-aduk perutnya, mengharuskan Joana berlari menuju kamar mandi.
“Kalian pada nggak kerja, apa? jam segini baru bangun?” omel nenek saat Joana baru keluar dari kamar. Dia mengabaikan neneknya, dan tetap fokus ke kamar mandi.
“Hoek.”
“Hoek.”
“Hoek.”
Semua isi perut Joana pagi ini keluar, mual, pusing menerpanya. “Jo, nggak apa-apa kamu?”
Nenek datang mengusap-usap punggungnya. Sementara Joana masih belum bisa berkata-kata. Dia menyeka mulutnya dengan air. Setelahnya dia mengangkat kepalanya, karena menunduk membuatnya semakin pusing.
“Aku nggak kerja lagi, Nek.” Joana bersuara, pelan. Tangannya bertumpu di pinggiran bak mandi.
“cuti hamil? iya memang ada baiknya, kamu istirahat dulu. Masa awal kehamilan kayak gini, adalah masa-masa yang paling sulit. Apalagi kamu kayaknya tipe yang mual-mual parah,” jelas Nenek sambil menuntun Joana untuk berjalan.
“Sini duduk, nenek siapkan teh hangat untuk kamu.”
__ADS_1
“Nek, nggak apa-apa, biar aku sendiri aja-“
“Duduk di sini Joana.” tegas Nenek. Menahan Joana yang hendak bangun dari tempatnya. Dia benar-benar merasa tidak enak, biasanya dia yang selalu melayani nenek setiap pagi, membuatkan minuman juga sarapan. Tapi kali ini berbeda.
Joana duduk diam, sambil menetralkan rasa pusing yang kian menerpanya di pagi ini.
“Aku mau resign, nek. Aku nggak kerja lagi,” ucap Joana. Menyambung pembicaraan yang sempat terputus tadi.
“Loh, kenapa? bukannya cuti? Alva yang minta kamu berhenti kerja?” tanya nenek bertubi-tubi.
“Mas Alva nggak kasih aku kerja lagi, Nek. Katanya fokus aja sama kehamilan,” jelas Joana.
Joana mengangguk setuju atas saran nenek. “Makanya aku milih resign Nek.” Joana menyesap teh hangat buatan nenek. Perutnya merasa lebih baik saat ini, meski belum diisi apa-apa.
Dia bangun dari duduknya, saat melirik ke arah jam dinding, sudah pukul delapan lewat. Joana ingin mengerjakan tugasnya di pagi pertama menjadi seorang istri. “Nek, aku bangunin Mas Alva dulu, ya?”
“Tadi malam, kalian tidur di kamarmu? sempit-sempitan?”
“Iya Nek, aku nggak tau tiba-tiba waktu bangun, ternyata Mas Alva tidur di sebelahku.”
__ADS_1
Joana membuka gorden kamarnya selebar mungkin, dengan sangat sengaja untuk membangunkan lelaki yang kini sedang tidur nyenyak di atas ranjangnya.
“Mas, bangun.” Joana membungkukkan badannya, menatap wajah Alva dengan saksama.
Hm, masih tidur gini aja ganteng banget, gimana kalau udah mandi?
Joana tersenyum simpul menatap wajah itu. Masih tak percaya, dia sudah dinikahi bos tampan di tempatnya bekerja.
“Mas. bangun. Udah kesiangan nih. Kamu nggak kerja?” Joana memberanikan diri duduk tepat di sebelah Alva, menyentuh pipi kiri lelaki itu dengan lembut dan hati-hati.
“Eumh.” Alva bergerak dan menggeliat, dia semakin merapatkan kelopak matanya, lantaran merasakan silau yang sangat menyengat di kamar itu.
“Aku hari ini di rumah aja, sayang.” Alva membuka matanya perlahan, dengan pandangannya yang samar, dia mampu menatap istrinya yang sedang duduk di sebelahnya.
“Kenapa, Mas? Kamu sakit?” tangan Joana terulur menyentuh leher Alva untuk memastikan, tapi setelah disentuh, tidak ada yang aneh dan semuanya merasa normal.
Alva menggeleng, lalu ponselnya bergetar keduanya melirik ke arah ponsel itu. Joana memicingkan mata ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel suaminya, sedang melakukan panggilan video. Alva mengambil ponselnya, sedangkan Joana tiba-tiba merasa badmood, dan langsung meninggalkan Alva begitu saja tanpa berkata-kata.
“Sayang, jangan marah.” Alva mencampakkan asal ponselnya di atas ranjang, dia mengejar Joana, merasa perlu memberi penjelasan agar istrinya itu tak salah paham.
__ADS_1