
Bocil minggir, yang bacanya waktu lagi puasa, skip aja. Kalau masih lanjut, dosa tanggung sendiri.
🍑
dua pasang mata itu saling bertemu, Alva tersenyum menatap wajah Joana, setelah melepaskan ciuman mautnya. Tampak gadis itu terengah-engah kesulitan bernapas, antara takut, gugup dan dia juga sedang berperang batin mengapa bisa sulit menolak lelaki ini. Ada dorongan yang sedikit jahat dalam benaknya, jika dia bisa berdamai dan menjalin hubungan baik dengan Alva tentu dia bisa menang dari Zea bukan? Tak pernah Joana merasa sejahat dan selicik ini selama belasan tahun berteman dengan wanita itu. Tapi untuk kali ini, bolehkah dia berpikir egois? lagipula Alva tak ada hubungan apapun dengan Zea kecuali hubungan pekerjaan. Jadi, dia tidak merebut Alva dari siapapun.
“Minggirlah, Bapak mabuk!” akal sehat Joana ternyata masih bisa berjalan baik saat mengatakan itu.
“Jadi milikku, Joana.” bisik Alva, tanpa menanti jawaban gadis yang sedang berada di dalam kungkungannya, dia kembali menyambar bibir ranum Joana, kembali membuainya dengan penuh damba. Kedua tangan Joana disatukan oleh Alva dan dia bawa ke atas kepala Joana agar wanita itu tak bisa melawannya.
Joana gelagapan, ini apa? tidak ada cinta, tapi mengapa Alva melakukan ini padanya. Apa dia hanya pelampiasan saja? Tak hanya itu, dia juga merasa ada yang aneh dengan dirinya karena sulit sekali menolak.
Alva membuka secara kasar kemejanya sendiri sampai kancing-kancingnya terhempas dan bertebaran di mana-mana. Setelah tubuh bagian atasnya sendiri tak mengenaka apapun, dia beralih pada Joana, melakukan hal yang sama.
“Pak…” lirih Joana.
__ADS_1
“Stop panggil aku dengan sebutan Pak kalau kita lagi berdua,” pinta Alva, jemarinya terus bermain melakukan dan meluruskan niatnya.
Joana seperti tersihir dan pasrah akan apa yang dilakukan lelaki itu terhadapnya. Dia seperti wanita murahaan. Tapi juga tak terima jika di sebut seperti itu karena Alva lah yang pertama menyentuhnya sejauh ini. Ciuman pertama, sentuhan pertama dan dengan beraninya lelaki itu menanggalkan apa yang sedang dia kenakan.
Tidak, Joana tidak boleh seperti ini. Tersadar, dia langsung menutupi dadanya yang sudah terbuka, dia menutupi dengan sebelah tangannya, dan satu tangannya lagi dia gunakan untuk menarik rambut Alva yang sedang sibuk mencumbu leher dan beberapa titik tubuhnya yang lain, sampai dia ingin mengelurkan desahann, tapi sebisa mungkin Jona menahannya. Tapi sekeras apapun usahanya, Joana tetap saja kalah, kalah tenaga dan dikalahkan oleh hasraat kurang ajarnya tak bisa menolak pesona dan buaian lelaki itu. Sampai akhirnya Alva, mendapatkan apa yang dia inginkan.
Jika ini yang pertama bagi Joana, maka begitu juga dengan Alva. Tapi Alva ingat ucapan Joana waktu itu, waktu dia mengakui bahwa dia sudah tidur dengan banyak lelaki. Namun, Alva tak mempercayai kata-kata itu sepenuhnya. Andaipun benar Joana seperti itu, Alva hanya ingin dirinya yang terakhir bagi Joana. Tetapi nyatanya tidak. Dia bukan yang terakhir tetapi justru yang pertama. Hal itu dibuktikan dengan sulitnya jalan memasuki Joana saat ini.
Alva yang telah dibutakan oleh nafsuu yang sulit dia kendalikan, terus mendesak dan memaksa agar dirinya bisa menyatu dengan Joana tanpa peduli rintihan dan tangisan gadis itu, tangisan yang terdengar pilu karena diperlakukan seperti ini, Joana sendiri tak menyangka bahwa rasanya akan sesakit ini.
Alva memejamkan mata, tak peduli lagi dengan Joana yang seperti terombang ambing. Dia sibuk bergerak mencari titik kenikmatannya sendiri. Dan Joana benar-benar terasa nikmat, membuatnya semakin mabuk dan melayang akan gairah bersama wanita itu.
Joana masih terus memukul-mukul dada Alva yang tak memakai apapun, sesekali dia juga menjambak rambut lelaki itu dengan kuat.
“Aku benci kamu!”
__ADS_1
“Laki-laki nggak punya hati! kamu mengambil sesuatu yang paling berharga dalam hidupku!” suara Joana terdengar bergetar saat merasakan sakit yang teramat. Sakit yang baru pertama kali dia alami, rasanya tubuhnya seperti terpecah belah, nyeri, perih menjadi satu.
Alva tak peduli seberapa besar Joana mengumpati dirinya, dia masih bergerak-gerak perlahan, sampai rintihan Joana berubah menjadi sesuatu yang ingin didengarnya lagi dan lagi. Keduanya larut dalam penyatuan, selama beberapa menit hingga Alva mencapai apa yang harus dia lepaskan, tanpa ada pelindung, tanpa tahu harus melepaskan dirinya dari Joana sebelum gelombang itu benar-benar datang dan keluar. Kini Alva telah menyelesaikan hasraatnya di dalam rahim Joana. Dan berakhirlah siksaan yang dia rasakan sedari tadi.
Alva mengerjapkan matanya berkali-kali, masih tak percaya bahwa yang ada di bawahnya ini adalah Joana. Wanita itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menahan tangis dan merasakan sesuatu yang berbeda dari beberapa menit lalu, bukan sakit, tapi benda milik Alva yang tadinya sangat menyiksa, dan telah membelah tubuhnya itu, berhasil membawanya pada rasa yang sulit dia gambarkan, dan bukan seperti siksaan.
Keduanya kelelahan, Alva mendekatkan wajahnya pada Joana, setelah memaksa wanita yang tak lagi berstatus gadis itu menjauhkan tangan yang menutup tubuhnya, Alva mengusap kening Joana yang berpeluh. Mengecup singkat kening dan bibirnya, layaknya sedang mencurahkan penyesalan dan kasih sayang secara bersamaan.
“Karena kita melakukannya tanpa pengaman, aku akan bertanggung jawab, kalau sesuatu terjadi padamu nanti. Tapi harus kupastikan kalau itu memang hasil dari kegiatan kita malam ini. Apa kamu mengerti maksud dari ucapanku, Joana?” bisiknya lalu berpindah dari tubuh Joana, dan betapa terkejutnya dia ada bercak noda tepat di atas sofa, diantara kedua kaki Joana yang masih terbuka lebar.
“Ka-kamu, masih perawan?” Alva sangat terkejut dan sempat menyangka Joana bukanlah seorang virgin. Dia merasa bersalah, dan sepertinya kini kesadarannya mulai penuh.
Joana mendapat pertanyaan itu, kembali menangis terisak. Sekuat tenaga dia mengubah posisinya menjadi duduk dan berusaha memunguti pakaiannya yang dicampakkan asal oleh lelaki itu.
🍑
__ADS_1
Jangan protes, alurnya memang begini. Kalau ada yang ngga suka gapapa boleh skip aja ya.