My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Bau alkohol


__ADS_3

“Siapa bilang gue jomlo?” Alva langsung menyangkal ucapan dan olokan teman-temannya saat itu. Sudah lama dia tidak bergabung dan bercengkerama dengan mereka, teman-teman sekolahnya. Khawatir dicap sombong, untuk malam ini saja, Alva mengikuti ajakan mereka.


“Lo bukannya jomlo? bujang tua.” sindir Ilman, salah satu temannya yang sudah menikah dan memiliki satu anak.


Alva meneguk minuman di hadapannya, ya sebenarnya dia sudah mulai membatasi dirinya dengan kegiatan-kegiatan tak berguna seperti ini. Tapi demi menjaga pertenanan, Alva terpaksa pergi ke sebuah club malam, di mana banyak cewek-cewek dengan pakaian seksi dan body aduhai melintas di hadapan mereka.


“Mau bukti kalau gue nggak jomlo?” Alva merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel. Baru beberapa menit lalu dia berbalas chat dengan Joana, kekasihnya. Ya, wanita yang sudah resmi menjadi kekasihnya sejak hampir dua bulan lalu itu. Mereka menjalin hubungan tanpa ada yang mengetahui termasuk Zea. Di kantor, mereka seperti orang asing. Tetapi saat di luar dan di rumah, mereka seperti perangko yang selalu menempel.


Mas cepat pulang, atau nggak aku bukakan pintu!

__ADS_1


Ya sayang, aku otw.


“Dih, udah serumah aja nih? Beneran cewek lo atau cuma cewek panggilan karena lo kesepian.” Ujar Ilman saat membaca chat mereka.


“Tunggu aja undangan dari gue.” Alva berdiri, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Dengan percaya dirinya dia mengucapkan itu. Padahal dia juga masih belum bisa memastikan kelanjutan hubungan mereka, bisakah dia menikahi Joana? Alva sendiri takut dan khawatir akan banyak rintangan yang mereka hadapi nanti.


“Oke ya, gue cabut duluan. Calon istri gue udah nunggu di rumah.” Sebelum jam satu dini hari, Alva meninggalkan tempat itu.


Joana merasakan sentuhan pelan pada perutnya, sebelum sesuatu yang hangat melingkar di sana. Alva, lelaki itu sudah pulang, dan masuk seenaknya ke dalam kamar Joana, memeluk wanita yang sudah terlelap itu. Bukan kali ini saja, Alva sering menyusup masuk ke kamar Jaona dan akhirnya tidur sambil memeluk wanita itu. Tidak ada yang terjadi selama mereka bersama, Alva sudah berjanji padanya, juga pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menyentuh Joana sejauh malam itu. Hanya sebatas pelukan dan kecupan di bibir saja. Selama hampir dua bulan menjadi kekasihnya, Alva mati-matian rasa itu. Tapi itu semua dia lakukan demi menjaga kepercayaan Joana terhadapnya.

__ADS_1


“Sana ih. Aku malas dekat kamu, bau minuman!” Joana membalikkan tubuhnya, lalu mendorong tubuh Alva sekuat tenaga.


“Aku cuma minum sedikit-“


“Sedikit atau banyak, tetap aja minum, kan? aku benci lelaki pembohong. Katanya janji cuma ikut gabung tanpa alkohol, nyatanya apa?” sindir Joana. Tak segan dia juga menendang kaki Alva agar lelaki itu segera menjauh darinya.


“Maaf sayangku. Janji nggak ulangi lagi.” Alva belum menyerah, dia masih betah di atas ranjang Joana, sambil merayu wanita itu.


“Terserah! tapi malam ini, jangan tidur di sini. Kamu bau minuman, aku nggak suka!” Joana kembali membelakangi lelaki itu, lalu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Tidak mau Joana semakin mengamuk, Alva memilih keluar dari kamar. Sebelum meninggalkan Joana, dia menyingkap sedikit selimut yang Jaona pakai, sampai kepala wanita itu terlihat dan Alva memberikan kecupan di sana.


“Bau, kamu bau Mas!” Joana masih saja mengumpatinya. Alva hanya menanggapi dengan senyum. Dia sudah tahu bagaimana Joana, sudah mulai mengenal karakter wanita itu. Malam ini marah, besok pagi Joana pasti akan kembali baik dan perhatian padanya.


__ADS_2