My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Dengan satu syarat


__ADS_3

“Hahaha.”


Nyaring dan kaku tawa Joana, bermaksud untuk menanggapi kalimat Alva yang terdengar menggelikan menurutnya. “Maaf ya Pak, jangan samakan saya kayak cewek-cewek yang pernah bapak kenal, apa mungkin ada orang mengaku suka setelah bermusuhan? dan kita baru berbaikan selama beberapa jam aja. Stop bercanda Pak. Tapi saya hargai Bapak candaannya lucu, makanya saya tertawa.” kalimat Joana panjang lebar berhasil membuat lelaki di sampingnya melongo.


luar biasa cewek satu ini.


Suara hati Alva yang meronta-ronta karena dia baru saja mendapat penolakan. Dan ternyata Joana tidak bisa diajak main-main dan tidak mudah untuk dibaperin.


“Saya pikir, kamu perempuan yang gampang terpengaruh.” Karena Alva merasa dirinya dianggap lelucon, akhirnya pun mengalihkan dan membenarkan bahwa ucapannya pada Joana adalah candaan, padahal tidak. Suka menurutnya bisa mengartikan banyak hal, suka untuk berteman, tentunya pertemanan yang menyenangkan dan menguntungkan, belum tentu untuk dijadikan pasangan. Tapi pasti Joana memikirkan hal lain.


“Inti dari pembicaraan tadi, saya mau kalau di hadapan Zea, kita seperti orang yang nggak saling kenal Pak. Bisa kan?” pinta Joana.


“Saya nggak janji.”


“Pak, please…”


“Memohonlah pada saya, Joana…” akal licik Alva mulai bermain.


“Kurang memohon apalagi saya, Pak?” tanya Joana kesal.

__ADS_1


“Masih kurang.” tegas Alva. “Rayu saya sampai saya luluh.”


Wajah Joana kian menegang, sial sekali mengapa seakan-akan kini dia malah terperangkap di dalam permainan lelaki ini? apalagi Alva sering mengancamnya dengan menggunakan Zea.


“Bagaimana?” tanya Alva lagi, saat tak mendapat jawaban dari Joana selama beberapa detik.


“Saya bukan Zea. Saya nggak pandai merayu!” cetusnya, Joana mendengkus kesal. Berharap segera cepat sampai di rumah, tapi sepertinya mobil melaju sangat lambat. Entah lelaki ini sengaja mengulur waktu, agar bisa menjebaknya lebih lama.


“Maka belajarlah dari Zea.” Alva menertawakan Jona yang sudah memasang tampang cemberutnya.


“Belajarpun saya belum tentu bisa, saya bukan buaya-“


“Bukan begitu Pak, saya nggak mengumpat. Tapi begitulah Zea.” Joana menyangkal. Seenaknya saja Alva menilai bagaimana pertemanan mereka.


“Jadi maksud kamu, Zea bakalan marah kalau saya mendekati kamu hanya karena dia suka sama saya?” Alva menarik kesimpulan dari onrolan tak terarah mereka malam ini.


“Iya begitu Pak. Nah itu Bapak ngerti.”


“Berarti dia egois.” celetuk Alva.

__ADS_1


“Kenapa Bapak malah ngatain Zea egois?”


“Ya jelas, hanya karena dia suka saya, lantas saya nggak bole dekatin orang lain? dan akan marah sama orang yang saya dekatin, sifat macam apa itu?! saya bisa menarik kesimpulan bahwa selama kalian berteman, kamu yang banyak mengalah dari Zea dan sulit menolak kata-katanya, benar?”


Kalimat Alva bak belati yang menusuk jantungnya tepat sasaran, tak meleset sedikitpun. Ya selama ini Joana memang banyak mengalah dari Zea, apapun yang wanita itu inginkan Joana harus menurut meski berseberangan dengan keinginannya. Kenapa dia takut pada Zea?


“Kalau kamu diam, berarti dugaan saya benar,” tuduh Alva lagi.


“Salah Pak. Enggak gitu kok.” Joana menyangkal lagi. “Udah cukup bahas Zeanya ya.”


“Kan kamu yang memulai.”


“Iya Pak, memang saya, tapi saya cuma menegaskan hal itu tadi, supaya Bapak nggak salah langkah nantinya dan saya yang jadi korbannya, padahal Bapak cuma berniat bercanda pada saya. Tapi Zea menganggap serius. Dan satu lagi Pak, jangan coba-coba tanya apapun tentang saya pda Zea. Kalau Bapak mau tau apapun itu, tanyakan langsung pada saya, paham Pak?”


“Waw, saya didikte sama kamu. Baru kali ini, ada karyawan yang terlalu berani sama atasan.” sindir Alva.


“Tapi saya di sini bukan berbicara sebagai karyawan. Tapi sebagai teman, kan bapak bilang kita berteman? jadi tolong ya Pak, jangan sampai pertemanan saya dan Zea hancur hanya karena Bapak seorang.” Joana mampu menemukan jawaban yang tepat agar dia bisa mengelak dari Alva.


“Oke. Saya akan selamatkan kamu dari Zea, tapi satu syarat.”

__ADS_1


__ADS_2