
Alva mulai gerah dan muak, karena setiap pergerakannya diawasi oleh Zea sampai di penghujung acara. Wanita itu seperti lintah yang terus menempel padanya, tanpa tahu malu dan tanpa sungkan sedikitpun terhadapnya.
“Mau ke mana, Pak?” Zea bangkit dari duduknya kala melihat Alva meninggalkan kursi, wanita itu mengikuti langkah Alva yang terlihat kesulitan berjalan.
“Mau pulang!” ketus Alva.
“Pak, bapak pasti mabuk, kan? saya bantu ya? biar saya aja yang nyetir, Pak.” tawar Zea dengan senng hati. Semakin Alva terlihat kesusahan, maka Zea akan semakin bahagia.
“Saya bisa-“ Alva memegangi keningnya, dia menatap Zea sekilas tapi justru seperti melihat Joana di sana.
“Pak, saya bantu-“
“Saya bisa sendiri, Zea! kamu menjauhlah dari sekitar saya!!” titah Alva pada wanita yang menurutnya tak tahu malu itu. Dia bersandar di lift, sambil membuka jasnya.
“Pak, Bapak nggak mungkin nyetir dalam keadaan begini, akan berbahaya Pak. Nggak cuma buat Bapak aja, tapi juga untuk pengguna jalan yang lain. Pikirkanlah!” kesal Zea karena Alva tetap bersikeras menolak bantuannya.
“KAMU PIKIR, SAYA NGGAK BISA HUBUNGI SOPIR SAYA?! Saya muak dengan tingkahmu, Zea. Kamu pikir saya nggak tau, selama ini kamu mau menggoda saya?!” sentak Alva dengan nada tinggj dan suara yang cukup besar, amarah lelaki itu tak terkendali. Semuanya seperti tak terkendali dan dia hanya ingin, menemui seseorang saat ini.
Zea menyerah, membiarkan Alva pergi keluar dari lift sendirian tanpa dia dampingi. “Sialann!!” teriaknya geram. Rencananya gagal. Rencana liciknya gagal untuk membawa Alfa ke apartemennya.
Alva tak lagi memikirkan mobil mahalnya, tanpa berpikir lagi, dia memutuskan meninggalkan mobilnya di hotel itu. Lalu memilih terus bejalan sampai ke depan hotel dan memberhentikan taksi yang melintas. Memang benar, apa yang dikatakn Zea, dia tak mungkin menyetir dalam keadaan antara sadar dan tidak seperti ini. Semuanya akan kacau.
__ADS_1
Beruntung dia cepat mendapatkan taksi meski kini waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Lelaki itu duduk bersandar di kursi penumpang bagian belakang. Biasanya, dia tak masalah meneguk wine bergelas-gelas bahkan sampai lebih dari sebotol, atau minuman lainnya yang beralkohol, Alva tak selemah ini. Tapi malam in sungguh berbeda. Rasanya, dia hanya ingin tidur, memejamkan mata, tak hanya itu, ada perasaan lain yang cukup menggebu di benaknya.
“Argh sial!” maki Alva sampai sopir taksi terkejut mendengar umpatannya. Tapi lelaki paruh baya yang sedang menyetir itu paham bahwa penumpangnya kini dalam keadaan setengah sadar dan sudah bisa menyebutkan alamat yang jelas saja, itu sudah lebih dari cukup.
🍑
Joana menikmati malam weekendnya dengan menonton beberapa film dan ditemani oleh beberapa camilan termasuk birthday cake dari seseorang, yang masih disimpannya sampai berhari-hari. Joana tak peduli dengan bentuk badannya yang akan terus mengembang jika kebiasaan buruknya mengemil di malam hari tidak dia hilangkan.
“Yang penting happy!” Joana mengusir rasa gusarnya akhir-akhir ini, apalagi yang berkaitan dengan Zea. Joana hanya ingin menghilangkan penatnya selama ini. Menonton film melalui chanel luar negeri yang ada di TV, menjadi pilihannya dari pada harus pergi ke bioskop akan memakan banyak biaya, menurutnya.
Tangan kirinya sedang memegang sebuah piring yang berisi satu potongan cake cokelat tiramisu, satu tangannya lagi sibuk memotong menjadi bagian lebih kecil, dan dia siap menyantap satu suapan ke mulutnya.
ting tong
ting tong
“JOANA BUKA PINTUNYA!!!” teriak seseorang dari luar dengan suara yang serak dan berat.
Seketika Joana berhenti mengunyah, dengan mulut yang masih dipenuhi potongan kue cokelat itu, dia kini sedang berkonsentrasi mendengarkan apakah benar ada seseorang yang memanggil dan mendatanginya selarut ini, atau hanya halusinasinya saja.
“Joana, buka!!!”
__ADS_1
Ternyata dia tidak berhalusinasi, itu nyata. Dan sialnya dia langsung mengenal siapa pemilik suara itu. “Mau apa dia malam-malam ke sini?” meski kesal, tapi Joana cukup tahu diri, Alva bisa dikatakan sebagai pemilik rumah ini dan akan sangat kurang ajar jika dia tidak membukakan pintu meski lelaki itu terkesan tak tahu sopan santun karena datang di jam segini.
Tanpa ragu, Joana membuka pintu. “Ada apa Pak?”
Alva tersenyum tipis, dengan sorot mata yang berkabut, dia menatap Joana yang terlihat sangat cantik di matanya, dengan rambut yang diikat asal-asalan, memakai setelan piyama berwarna kuning bercorak gambar nanas kecil-kecil, terlihat sangat menggemaskan.
“Pak?” Joana menatap Alva yang sedari tadi hanya diam sambil terus menatapnya.
Alva menutup pintu dengan cepat tak lupa menguncinya. Tanpa ragu, dia menggerakkan kedua tangannya, menangkup pipi Joana, mengusap sudut bibir gadis itu karena ada sisa cokelat di sana. “Aku rindu kamu.”
Joana seketika menegang, karena Alva merapatkan tubuh mereka hingga tak berjarak. Aroma minuman beralkohol cukup terasa saat ini, karena wajah mereka sangat berdekatan.
Ada desir yang berbeda kali ini, Joana tampak sulit menolak. Lelaki aneh ini, tiba-tiba mendatanginya dan mengatakan rindu, tak masuk akal, tapi Joana senang mendengarnya. Apakah dia juga rindu Alva?
“Pak Alva, pasti mabuk. Istirahatlah di kamar-“
Ucapan Joana terhenti, karena bibirnya terbungkam, oleh ciuman panas menggelora yang Alva berikan padanya. Bibir lelaki itu tampa ampun membuai bibirnya, dengan kecupan bertubi-tubi. Joana tiba-tiba merasa kesulitan bernapas. Alva mengeratkan kedua tangannya di pinggang gadis itu, sambil terus menyatukan bibir dan memberi lumataan yang awalnya lembut, dan berubah menjadi lebih menuntut. Alva mendorong tubuh Joana menuntunnya untuk menuju sofa hingga tubuhnya terbaring di sana. Joana memukul-mukul dada bidang yang masih terlapisi kemeja berwarna putih itu, sampai akhirnya dia terbuai dengan apa yang Alva lakukan, tak ada lagi pukulan yang ada hanya cengkeraman erat di pundak Alva.
🍑
Berhubung ini bulan puasa, sambung besok malam ya ceritanya. Nggak mungkin dilanjut siang-siang. Bahaya😜
__ADS_1