
Alva langsung menepikan mobilnya saat melihat sosok yang dikenalinya sedang berjalan kaki, apalagi tanpa alas kaki. Entah mengapa hatinya pilu melihat itu. Dia sengaja menepikan mobil agak jauh dari Joana hingga bisa mengikuti langkah wanita itu secara diam-diam.
“Joana.”
Suara itu tidak asing bagi Joana, dia menoleh. Lalu mengambil napas dalam.
dia lagi.
Yang Joana lakukan hanyalah tersenyum tipis pada Alva, tanpa mau peduli, dia terus berjalan langkah kakinya menginjak aspal semakin cepat.
“Kakimu lecet, ayo masuk ke mobil,” pinta Alva.
Dia sempat mencari tahu penyebab wanita itu melepaskan heelsnya, tampak memar kemerahan tepat di atas tumit kanan Joana.
“Bukan masalah bagi saya, ini biasa.” Joana tetap melangkah dan mempercepat, tanpa peduli lelaki di sebelahnya sedang mengekorinya.
mau apa sih dia? bisa nggak kita pura-pura nggak kenal aja?!
“Joana, ayo!” Alva masih mengajaknya secara lembut. “Rumah kita masih jauh, dan sebentar lagi gelap.”
__ADS_1
apa katanya? rumah kita?
“Nggak apa-apa Pak udah biasa. Nanti hari libur saya perbaiki motor saya. Saya nggak bakalan jalan kaki lagi.” tegas Joana.
Alva memejamkan matanya singkat. Ya… dia baru ingat jika motor Joana hancur di bagian depan karena ulahnya.
“Saya akan ganti biaya perbaikannya nanti-“
“Nggak usah Pak!” tolak Jona cepat.
“Tapi itu kan karena saya-“
Alva menoleh ke belakang, mobilnya terparkir semakin jauh saja. Dan dia masih betah jalan kaki bersama Joana.
“Itu salah saya juga nggak hati-hati. Nanti waktu libur sekalian saya temani kamu ke bengkel,” tawar Alva lagi.
Joana tersenyum miring. gila, dia kerasukan setann apaan?
“Pak jangan buang-buang waktu Bapak deh. Saya udah bisa melakukan semuanya sendiri.” tolak Joana lagi.
__ADS_1
“Nggak apa-apa nanti saya temanin.” Alva masih saja bersikeras dan Joana tidak menanggapi.
Joana menoleh sekilas ke belakang untuk memastikan apa lelaki itu yakin, masih ingin berjalan bersamanya? “Mobil Bapak ketinggalan jauh,” ucapnya lagi sambil menunduk.
“Ya, biarkan aja.”
“Ngapain ngikutin saya?” tanya Joana sarkas. Bagaimana cara menghindari lelaki ini? sepertinya tidak akan mudah, apalagi mereka tinggal serumah.
“Udah lama saya nggak olah raga, jadi anggap aja ini sedang jalan santai.” lelaki itu menjawab asal dan santai sekali seperti tanpa beban.
Joana tersenyum tipis mendengar alasan lelaki itu yang tampak jelas dibuat-buat. Mau apa sebenarnya? apa tidak bisa mereka hidup tanpa saling mengurusi satu sama lain. Mau Joana jalan kaki, lari, terbang sekalian, mengapa Alva peduli? Pertanyaan itu yang mondar-mandir di benak Joana.
“Akhirnya kamu senyum juga walau kelhatan nggak ikhlas.” Alva pun tersenyum melihat wanita di sebelahnya tersenyum tipis.
Joana masih tidak menanggapi. Tanpa sadar, sedikit lagi mereka akan sampai di rumah karena telah melewati persimpangan.
“Bapak mau apa sebenarnya?!” Joana berhenti sejenak. Menatap kesal pada Alva. “Kan udah saya bilang, jangan ganggu saya dan anggap nggak ada yang pernah terjadi di antara kita.” tegas wanita itu mendongak menatap Alva yang jauh lebih tinggi darinya.
Alva terdiam, membalas tatapan Joana. Dari sorot mata Joana terlihat kesedihan dan kekecewaan entah apa itu. Tenggorokan Alva seperti tercekik, terasa sulit sekali mengeluarkan kata-kata.
__ADS_1