
Alva terdiam, tak tahu harus berbuat apa, seperti lelaki bodoh yang baru saja memerawani seorang gadis. Ini tidak benar, dia telah salah mengira pada Joana yang dia pikir tak lagi perawan. Tapi ternyata dugaannya salah. Joana masih bersegel, pantas saja dia kesulitan saat melakukannya. Dan noda darah di ataa sofa kesayangan nenek juga menjadi bukti sucinya seorang Joana Avilia.
Joana menangis sambil memunguti pakaiannya yang berserakan. Alva pun melakukan hal yang sama, dia memakai pakaian seadanya. Setelah itu beralih pada Joana yang terlihat kesulitan berjalan.
“Maafkan aku, Joana.” Alva menarik tubuh lemah wanita yang sedang berupaya kabur darinya itu. Memeluknya erat, membiarkan Joana menangis dan bersandar di dada telanjanggnya.
Tangisannya semakin terdengar pilu, hingga Alva benar-benar merasa bersalah. Joana mencoba berontak ingin melepaskan diri dari Alva, tapi lelaki itu menguncinya dengan pelukan.
“Jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab, sekalipun kamu nggak hamil, aku akan tetap menikahimu.” tegas Alva, menenangkan Joana.
“Buat apa menikah? kita nggak saling cinta!” sentak Joana, dengan kedua kepalan tangannya dia memukul-mukul Alva sekuat tenaga sebagai luapan amarah, sedih dan kesalnya.
Dia tak lagi suci, dan kesuciannya terenggut sebelum ada ikatan yang sah, bukan dengan orang yang dicintainya pula. Melakukannya secara paksa, tanpa ada cinta. Dia merasa bersalah pada dirinya sendiri, juga pada kedua orang tuanya di sana karena tak bisa menjaga dirinya sendiri.
“Tapi harus, aku baru aja merusakmu, Joana. Aku yang pertama, juga harus jadi yang terakhir. Urusan cinta kita pikirkan belakangan, yang penting aku akan bertanggung jawab atas semuanya-“
“Minggrilah! berdiri begini, cukup menyiksaku! sakit, perih dan nyeri! aku mau istirahat!” keluh Joana lagi, masih dengan isak tangisnya. Dia mati-matian menahan nyeri di pusat tubunnya yang masih terasa perih dan panas. Masih terngiang di pikirannya bagaimana sesuatu yang besar dan keras itu membelah dirinya.
Ah sial! Tuhan, ampuni aku.
Joana membatin.
Tanpa berkata lagi, Alva langsung mengambil tindakan, mengangkat tubuh yang sudah dia jamah itu. Membawa ke dalam gendongannya, menuju kamar Joana. Lalu membaringkannya perlahan di atas ranjang.
__ADS_1
“Istirahatlah sekarang, besok kita obrolin lagi tentang malam ini, tentang kita.”
“Nggak perlu!” Joana menarik selimut menutupi tubuhnya, lalu berbalik membelakangi lelaki itu dengan berbaring miring.
Alva masih duduk terdiam di tepi ranjang Joana, sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Menyesal? ya dia menyesal tapi hanya sedikit saja penyesalan itu ada, karena Alva berpikir, hanya dengan cara ini, dia bisa memiliki Joana seutuhnya. Meski wanita itu jelas-jelas masih menolak ajakan menikah darinya.
Tak tahu harus berbuat apa, Alva meninggalkan Joana agar wanita itu bisa menenangkan dirinya. Dan malam ini, dia akan menginap di sini. rumah sederhana dan bangunan klasik ini benar-benar membuatnya rindu, ingin menetap di sini lagi. Dan malam ini Alva memutuskan untuk kembali menetap di sini, tentu untuk mengawasi Joana.
🍑
Joana melempari apapun yang ada di sekitarnya, tak peduli itu adalah botol skincarenya, parfum dan ada beberapa sebagian yang pecah karena terbuat dari bahan kaca. Joana tak peduli. Dia hanya ingin meluapkan amarah dan menyesali kebodohannya yang tidak bisa melawan Alva, meski dia menyadari saat mereka bersatu, dia juga sempat menikmat apa yang lelaki itu lakukan pada tubuhnya. Di situlah letak penyesalan yang sebenarnya. Satu jam menenangkan diri, Joana merasa dirinya sudah lebih baik. Dia ingin beranjak dari ranjang, memakai sandalnya lalu meraih handuk, ingin membersihkan dirinya yang baru saja ternoda. Setelah dia mencari tahu dari alat pencarian google, bagaimana cara mensucikan diri setelah berhubungan, Joana memutuskan untuk segera ke kamar mandi.
Alva masih larut dalam pikirannya, di tengah malam menjelang dini hari. Dia berbaring di sofa, sofa yang telah menjadi saksi bagaimana ganasnya dia menyerang dan mencuri kehormatan Joana. Lelaki itu tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Tampak Joana muncul dari balik pintu dengan wajah yang sembab, rambut yang diikan asal-asalan, sambil memeluk handuknya .
“Kamu mau ke kamar mandi?” sebenarnya ini adalah pertanyaan bodoh. Jelas-jelas Joana sedang membawa handuk, tentu saja tujuannya adalah kamar mandi, tidak mungkin ke halaman rumah.
“Iya,” sahut Joana singkat. Lalu dia mengalihkan padangannya pada Alva, berjalan perlahan dengan langkah gontai ke sana.
Alva menyadari Joana tampak kesulian melangkah. “Apa masih sakit? apa kita harus ke rumah sakit?” tanya Alva serius, dia sangat khawatir.
“Jangan bercanda Pak. Ke rumah sakit dengan keluhan apa? dengan keluhan perih, luka karena baru dimasuki benda tumpul dan besar, begitu? hah?” sindir Joana dengan tatapan tajam. “Memalukan.”
Mengabaikan Alva, Joana menatap khawatir pada sofa itu. Bagaiamana mengatasinya dan apa yang harus dia jawab jika tiba-tiba nenek pulang dan menanyakan hal itu.
__ADS_1
Alva mengulas senyun tipis mendengar jawaban konyol Joana. Dalam keadaan tersiksa pun dia masih terlihat menggemaskan.
“Maaf.” hanya satu kata yang bisa dia ucapkan. “Mau aku sembuhkan, biar aku menyekanya dengan air hangat.” Alva berharap dia tak salah bicara saat ini.
Dan apa yang dia dapatkan Joana justru menatapnya seakan ingin menerkan. “Mau mencoba peruntungan dua kali, begitu?”
Jujur saja, Alva tidak bermaksud demikian. Ya… jika Joana bersedia maka akan dia anggap sebuah keuntungan dan bonus, karena saat melakukannya tadi, dia belum puas menatap bagian tubuh Joana yang satu itu. Hanya melihatnya sekilas, dan benar-benar membuatnya terperangah. Cantik sekali, dengan hiasan rambut-rambut halus yang tertata rapi di sekitarnya.
“Sekarang, berpikirlah Pak. Gimana caranya membersihkan sofa ini supaya kembali bersih!” titah Joana. “Ini sofa kesayangan nenek!” ucapnya lagi.
“Kita beli yang baru dan sama persis. Itu gampang. Nenek nggak akan tau.” Alva tersenyum. Bolehkah dia sedikit jahat, ingin terus tersenyum dan bahagia di atas penderitaan Joana.
Joana diam, dan Alva menganggapnya dia setuju dengan sarannya, lantas wanita itu ingin meninggalkannya begitu saja.
“Joana.” Alva menarik satu tangan wanita itu saat Joana melintasinya. Menggenggam erat tangan Joana, tangan mungil yang sempat menarik kuat rambutnya beberapa jam lalu.
“Mau apalagi?” Joana menatapnya dengan tatapan sendu.
“Aku akan menikahimu.” tegas Alva sekali lagi, agar Joana tak perlu merisaukan nasibnya. “Bersabarlah, aku akan ngomong ke orang tuaku.”
Joana menggeleng. “Jangan memaksakan diri untuk hal yang nggak Pak Alva inginkan-“
“Joana, jangan panggil aku dengan sebutan Bapak lagi. Aku bukan bapak kamu!” Ucap Alva kesal. “Tapi pasti akan menjadi Bapak dari anak-anakmu!”
__ADS_1
🍑
Kasih votenya ya