My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Cari tahu tentang Joana


__ADS_3

Alva hanya menatap kesal pada punggung Joana yang kini berlarian menghindarinya. Baru kali ini, ada wanita yang terang-terangan tak peduli padanya dan jelas-jelas sangat membencinya. Sudahlah, jika itu yang diinginkan Joana, baiklah dia akan mengikutinya. Pintu lift kembali tertutup dan Alva memilih menyandarkan tubuhnya. Harusnya dia sudah tiba di ruang kerjanya sejak tadi, tapi rasa penasarannya terhadap Joana terlalu sulit dihilangkan hingga dia nekat ingin kembali ke lobi untuk menemui wanita itu. Alva pikir, keberuntungan sedang berpihak kepadanya karena Joana ternyata juga sedang ingin menggunakan lift. Tapi kenyataannya, aemua berbanding terbalik dari apa yang dia pikirkan.


“Zea.”


Masuk ke dalam ruangan, dia langsung mendapati sekretarisnya itu sedang bercermin sambil memoles bibirnya dengan pewarna.


“Pagi Pak.”


“Saya mau tanya.” mengabaikan ucapan selamat pagi dari Zea, Alva menatap serius pada wanita itu setelah duduk di kursi kebesarannya.


“Ada apa Pak? kayaknya serius banget tatapannya, saya jadi takut.” Zea berdiri, mendekat pada meja Alva.


“Apa kamu kenal dengan semua pegawai di gedung ini? atau paling nggak, para pegawai wanita, kenal?”


“Enggak semua Pak. Saya cuma kenal dengan yang langsung berurusan sama saya aja,” jelas Zea apa adanya. “Kenapa, Pak?”


Alva mengangguk pelan. Tapi rasanya tidak mungkin Zea mengenal Joana yang menurutnya sama sekali mereka tidak ada berkaitan dengan pekerjaan. ”Saya mau kamu cari tau nomor hape Jaoana, dia pegawai di bagian resepsionis. Cari tau nomornya, melalui HRD atau apapun itu, terserah kamu.”


Dari sekian banyak perempuan, kenapa harus Jona? Zea berkerut kening. Ya… karena menurutnya Joana itu tidak ada daya tariknya sedikitpun dibanding dia dan pegawai-pegawai wanita yang lain di gedung ini.


“Joana Avilia?” Zea sengaja menyebut nama lengkap wanita itu.


Alva mengangguk tetapi dia ragu. “Mungkin,” sahut Alva singkat.

__ADS_1


“mungkin? bapak masih ragu? dan ada apa dengan pegawai resepsionis itu?” Zea penasaran, jiwa persaingannya meronta-ronta. Tetapi tidak mungkin nantinya dia akan bersaing dengan Joana karena mereka sudah bersahabat selama tujuh tahun lamanya?


“Kamu cari tau aja!” titah Alva ketus, dia malas meladeni banyak pertanyaan dari Zea. “Kalau perlu bawa berkas data dirinya ke sini-“


“Iya Pak, saya akan lakukan perintah Bapak. Tapi sekarang, kita meeting dulu ya Pak?” bujuk Zea.


“Oke.”


Tidak bisa fokus Zea saat meeting, ingat akan ucapan Alva yang meminta informasi tentang Joana.


“Zea.” panggil Alva, wanita itu tampak melamun dan murung.


“Zea.” panggil lelaki itu sekali lagi.


“Tolong geser ke slide selanjutnya!” titah Alva. Saat dia sedang presentasi, tapi Zea justru melamun dan belum memindahkan slide pada layar in fokus.


“Ah iya Pak maaf.”


Kini, pusat perhatian tertuju pada wanita itu. Seisi ruangan menatap Zea heran, sebab yang sudah mengenalinya tidak bisa Zea seperti itu.


“Apa yang kamu pikirkan?” geram Alva pada sekretarisnya. Dia tetap memarahi Zea di hadapan peserta meeting yang lain. Sepertinya Zea menjadi tumpahan kekesalannya pagi ini.


Zea menggeleng. “Maaf Pak.”

__ADS_1


🍑


Joana menatap kendaraan dan orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Hari semakin sore, jalanan semakin padat, halte pun semakin penuh. Setelah berjalan sejauh seratus meter kini Joana sedang menanti busway untuk pulang ke rumah. Dia harus berhemat karena akhir bulan semakin mendekat, apalagi dia akan ada pengeluaran tidak terduga untuk memperbaiki motornya. Lima belas menit menanti, bus yang akan dia naiki akhirnya tiba. Berlomba-lomba Joana masuk ke dalam bersama penumpang lainnya.


Dia duduk di belakang, menyudut sambil menyandarkan kepalanya pada kaca. Dari luar, Joana memang tampak kuat, ceria dan bar-bar. Tapi dia hanyalah seorang gadis yang sering merasa rapuh, apabila mengingat kedua orang tuanya yang lebih dulu meninggalkannya. Joana rindu, dia rindu dimanja. Rindu setiap kali mamanya bertanya


bagaimana kabar anak mama hari ini? tiap kali dia pulang sekolah.


Ada makanan kesukaan kamu loh, cepat ganti baju dan makan ya.


Ada PR nggak, sayang? sini mama bantu.


“Ya Tuhan…” Joana bergumam sendiri, bersamaan dengan air matanya yang mengalir deras. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Tenggorokannya tercekat. Dia menangis dalam diam.


Tak ada lagi perhatian-perhatian seperti itu yang didapatkannya saat ini. Memang dia pernah memiliki keluarga angkat, tapi kasih sayangnya tentu tak sebanding dengan kasih sayang orang tua yang sesungguhnya.


Joana kembali turun di halte yang sejaalan dengan rumahnya. Dia tiba tepat sekali sebelum malam, tapi langit kemerahan mulai menampakkan warnanya. Joana kembali harus berjalan kaki, sejauh tiga ratus meter untuk tiba di rumah nek Merry yang sedikit jauh dari jalan utama.


Joana membuka heelsnya, karena tidak tahan lagi kakinya perih dan lecet karena jalan sejauh itu. Dia menenteng heelsnya, di tangan kanan dan memegang tasnya di tangan kiri.


“Joana.”


🍑

__ADS_1


Senang deh kalau ada yang nungguin cerita ini makasih yah


__ADS_2