
Selama beberapa menit mereka saling memeluk, Joana sangat menikmati aroma parfum mahal yang menyeruak di sekitar tubuh lelaki itu. Harumnya memabukkan dan sangat membuat candu. Joana pikir ini wajar karena harganya mahal.
Sedangkan Alva pun melakukan hal yang sama, aroma buah-buahan dari rambut Joana, dia cukup menikmatinya kala itu.
“Kita resmi jadian?” Alva belum bisa menjanjikan kapan mereka akan menikah, tapi untuk hal itu dia memang butuh waktu. Bukan bermaksud ingin menunda-nunda, hanya saja, dia perlu izin dan restu orang tuanya atas setiap tindakan yang dia lakukan, jika tidak, semua aset dan fasilitas yang dia miliki saat ini, bisa ditarik kembali. Dan Alva belum siap akan hal itu.
“Jadian?”
“Ya, kamu pacar aku sekarang-“
“Bukannya calon istri?” Joana meralat kalimat lelaki itu dengan tampang kecewa.
“Iya, calon istri. Bersabarlah, aku butuh waktu untuk bicara pada orang tuaku dan semuanya nggak semudah yang dibayangkan.”
“Apa orang tuamu menyeramkan?”
Alva menggeleng. “Mereka cukup kaku. Ingin segala-galanya dilakukan dengan sempurna tanpa ada celah. Walau mereka jarang ada bersamaku, tapi mereka selalu mengawasiku sejak kecil termasuk gimana pergaulanku di sekolah, gimana nilaiku, karena mereka nggak mau aku menciptakan hal yang memalukan dan menjelekkan nama keluarga,” jelas Alva apa adanya.
Joana tersenyum, wajah sendunya semakin terlihat. “Termasuk dalam memilih calon istri? iya, kan? itu yang membuatmu ragu, Mas? andai aku berasal dari latar belakang yang sama-“
“Joana please. Jangan mengambil kesimpulan sendiri.”
“Tapi aku siap kok, andai kita nggak direstui. Aku cukup sadar diri-“
__ADS_1
“Aku yang nggak siap!” sangkal Alva.
Kedua tangannya menangkup pipi Joana, dia menundukkan sedikit kepalanya mensejajarkan wajahnya dengan Joana, lalu mengecup bibir Joana dengan penuh kelembutan. Sekali kecupan, dua kali sampai berkali-kali, akhirnya bibir mereka menyatu dan Joana menyambutnya dengan sangat baik. Kedua lengan wanita itu melingkar di leher Alva. Ciuman bersambut, bibir Joana tidak lagi sungkan membuai bibir Alva, beberapa kali melakukannya dengan lelaki itu, membuat Joana mengerti bagaimana harus bertindak jika mendapat penyerangan mendadak seperti ini.
Dengan bibir yang masih saling bertaut, Alva menuntun Joana untuk menuju ranjang. Joana berjalan melangkah mundur karena Alva semakin mendorongnya, pelan-pelan sampai akhirnya sia berbaring di ranjang mahal milik Alva.
Dua tangan Alva mengunci Joana, lelaki itu masih betah mempermainkan bibirnya di sana, satu tempat yang berhasil membuatnya kecanduan, berawal dari coba-coba.
Joana memegang rahang, dan turun ke dada bidang Alva, memancing gairah lelaki itu untuk melakukan lebih dari ini, tapi Alva sadar, mereka harus segera berhenti. Maka Alva segera melepas tautan bibirnya.
“Kamu semakin mahir,” puji lelaki itu.
Joana tersenyum malu, ini pujian atau sebuah sindiran. Untuk mengusir rasa canggung yang sempat tercipta di antara mereka, Joana mencari cara dia menepuk-nepuk ranjang yang sedang dia tiduri itu. “Ini pasti mahal. Ranjang terempuk yang pernah aku coba.”
“Apa ada dua kamar? Kamu tidur di sofa luar Mas, aku di sini.”
“Cuma ada satu kamar di sini, dan kamu berani menyuruh tuan rumah untuk tidur di sofa? Hm?” Alva menyeringai iseng.
“Ya, jadi kamu mau tidur di mana?”
“Kita bisa berdua di sini-“
“Jangan!” tolak Joana.
__ADS_1
“Kenapa? kamu takut terulang lagi?” Alva semakin senang menggodanya.
“Ehm, aku lapar Mas!” lagi, Joana mencoba mengalihkan pembicaraan, dia tak lagi berbaring dan kini duduk bersandar sambil memeluk satu bantal.
“Kita pesan makanan.”
“Apa nggak ada sesuatu yang bisa dimasak?”
“Joana, ini malam minggu. Malam di mana anak-anak muda berpacaran dan memadu kasih. Aku nggak rela kalau kamu sibuk di dapur. Lagipula nggak ada bahan makanan apapun.”
Alva kembali menarik Joana agar berbaring, dan sepersekian detik wanita itu masuk ke dalam pelukannya. Memeluk dan mencium Joana, sepertinya sudah menjadi suatu kebutuhan baginya.
“Kalau begitu, pesanlah makanan yang enak-enak! titah Joana dengan nada manja.
“Oke, kita nginap di sini?”
“Nggak bawa baju ganti, nggak bawa apapun.” Joana masih menolak.
“Kamu bisa tidur pakai bajuku, nanti. Tenang aja.”
🍑
Apakah Alva bisa dipercaya?😃
__ADS_1