
Alva tampak sedang membelakangi Joana dan membuka kancing kemejanya satu persatu. Joana menerka apa yang sedang dilakukan lelaki itu, membuat matanya mengerjap beberapa kali.
“PAK!” sentak Joana.
Lelaki itu berbalik menghadapnya, “Santai Joana, saya mau ganti kemeja saya. Kamu nggak lihat ini, ketumpahan kopi.” Ya memang benar, ada sedikit noda pada kemeja berwarna putih yang sedang di pegang lelaki itu.
“Ya, kalau Bapak mau ganti baju, saya bisa keluar dulu!” Joana berdiri kaku setelah menutup pintu. Alva menatapnya begitu dalam, sedangkan dia sendiri awalnya enggan menatap Alva, tapi entah mengapa matanya seakan menghianatinya, tak bisa bekerja sama dengan hati yang enggan menatap.
Joana menatap mata itu, senyum itu, seringai itu… Joana rasa otaknya mulai tak waras, karena entah mengapa dia senang melihatnya lagi. Dengan masih bertelanjang dada, Alva berjalan ke arahnya, mendekat dan semakin dekat, hingga Joana mundur beberapa langkah ke belakang, sampai dia bersandar pada pintu. Satu tangan Alva mengarah ke belakangnya.
“Pak tolong ya, kita baru aja ketemu. Saya mau bicara baik-baik nih. Jangan mulai deh!” protes Joana, saat Alva semakin dekat padanya.
“Saya mau kunci pintu, kamu pikir, saya mau apa?” Alva tersenyum lagi, ya dengan seringai menyebalkannya itu. Setelahnya Alva berbalik dan berjalan menuju sebuah ruangan di sudut sana, lalu lelaki itu, keluar dengan membawa kemeja yang lain yang pastinya lebih bersih dan baru.
“Tapi kenapa harus dikunci?!” Joana panik. “Pak!”
“Udah deh santai aja Joana, saya tau kamu mau bicara serius. Saya nggak mau obrolan kita terganggu, apalagi karena Zea.” Masih dengan santai tanpa beban, lelaki itu memakai kemejanya di hadapan Joana.
Joana mengalihkan pandangannya meski sudah melihat dada dan perut kotak-kota itu sekilas.
uh sempurna. Fisiknya. Tapi tidak dengan kelakuannya.
Joana memuji, lalu mengumpat dalam satu waktu.
Lelaki itu duduk di sofa, sambil menyilangkan kaki. ”Duduklah, bicara dengan santai tanpa amarah dan emosi. Ini soal apa?” sebenarnya Alva sudah bisa menduga apa yang akan dibicarakan Joana. Sudah pasti perihal hadiah-hadiah yang dikirimkannya secara cuma-cuma.
Joana tampak melangkah dengan ragu-ragu untuk mendekat.
Alva menyadari keraguan Joana. “Kamu bebas mau duduk di depan saya, atau di sebelah saya juga boleh, atau mungkin mau-“
“Di sini aja.” tegas Joana, duduk tepat berseberangan dengan lelaki itu. Ada sebuah meja yang menjadi pembatas mereka.
“Ya, silakan,” sahut Alva singkat. Dia belum lupa siapa posisinya saat ini adalah bosnya Joana. Alva tetap memasang tampang angkuhnya.
“Di mana alamat Bapak sekarang?” tanya Joana to the point. “Maksud saya Bapak tinggal di mana? Tolong beri alamat lengkap!” pinta gadis itu.
__ADS_1
Lagi-lagi Alva tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya. Benar kata orang-orang. Sesuatu atau seseorang itu akan terasa berharga setelah kehilangannya, apa selama ini beberapa hari ini, Joana merasa kehilangannya.
“Sini nomer hape kamu, nanti saya shareloc kalau kamu mau mampir.” Alva menadahkan tangannya meminta ponsel Joana. Sebenarnya dia sudah dapat nomor ponsel gadis itu sejak lama, sejak dia memaksa Zea memberi tahu segala info tentang gadis itu. Tapi kepura-puraan ini harus tetap berlanjut.
Joana merogoh saku blazernya, memberikan ponsel miliknya pada lelaki di hadapannya. Setelah ponsel berpindah ke tangan Alva, lelaki itu tampak senyum-senyum sepertinya sedang mengetik nomornya sendiri di sana.
“Udah.” Alva menyerahkan kembali pada Joana.
Joana tersenyum miring, antara geli dan entah apa rasanya kini. Alva menuliskan namanya sendiri di kontak Joana.
Mas Alva.
Dih sok akrab.
“Bukan saya mau mampir Pak. Saya mau kembalikan barang-barang yang Bapak kirim ke saya, SEMUANYA. Tanpa ada yang tersisa.” tegas Joana. Dia kembali berdiri tegak.
“Kembalikan? why?” Alva menatap tak percaya pada gadis di hadapannya. Luar biasa, “Saya pikir, malah kamu mau minta lagi yang lain.”
Kalimat Alva barusan di sambut tawa sengit oleh Joana. “Saya udah pernah bilang, Pak. Jangan samakan saya dengan yang lainnya. Dan saya nggak ngerti tujuan Bapak apa ngirim-ngirim saya barang sebanyak dan semahal itu?!”
“Berhenti mempermainkan saya.” Joana berdiri dari duduknya, merasa buang-buang waktu berada di sini terlalu lama. “Saya masih ingat banget gimana Bapak perlakukan saya di awal kita ketemu. Pak Alva tuh KASAR sama saya.” Awal pertemuan tak mengenakkan itu masih terekam jelas di pikiran Joana.
“Maaf, tapi saya malah nggak ingat itu sama sekali. Yang saya ingat hanya ciuman hebat kita waktu-“
“Pak, please jangan bahas itu!” sentak Joana.
“Dan kamu harus mengenal saya lebih jauh supaya kamu tau betapa lembut saya yang sebenarnya.” Alva tertawa sarkas.
“Nggak perlu Pak.” tolak Joana. “Pak, tolong ambil kembali ya, semuanya.”
“Kamu kenapa bodoh sekali Joana?” geram lelaki itu. “Kan udah saya sampaikan, saya hanya menjalankan amanah nenek membelikan kado untukmu. Jadi itu semua dari nenek, bukan dari saya. Terimalah!” tegas Alva, dia pun ikut berdiri, sama kesalnya seperti Joana. Memang benar nenek menyampaikan itu, tapi nenek tap pernah mengatakan kado apa, harga berapa dan berapa banyak. Semua yang dia berikan pada Joana adalah murni atas inisiatifnya sendiri. Menurutnya, semua wanita di dunia ini, mencintai barang-barang mewah seperti itu.
“Baiklah kalau itu memang dari nenek, saya terima.” Joana yang tidak mau terlalu lama terjebak di dalam ruangan lelaki ini, juga tak mau berurusan terlalu lama dengan Alva, langsung memutuskan pilihannya. “Saya permisi ya Pak, terima kasih untuk semuanya.”
Joana siap pergi, Alva kembali berjalan mendekatinya dan menahan lengannya. “Joana.”
__ADS_1
“Iya Pak, apa lagi?”
“Bisa nggak kita kalau ketemu bicaranya baik-baik tanpa, ada tatapan permusuhan?” pinta Alva.
Joana tersenyum mendengarnya. “Bisa Pak.”
“Bisa nggak kamu lebih ramah dan jadi diri kamu sendiri kalau lagi sama saya?” ujarnya lagi.
Permintaan apa ini? aneh.
“Maksudnya gimana ya Pak?”
“Jangan anggap saya bos kamu, anggap saya teman kamu. Teman yang bisa kamu ajak ngobrol, berbagi suka, duka. Kalau kamu bosan kamu bisa hubungi saya. Kalau kamu pingin ke mana, kamu bisa ajak saya. Kalau kamu…” Alva menjeda kalimatnya. dia tak habis pikir, mengapa bisa seperti ini?
“Kita butuh waktu untuk bisa sampai ke tahap itu, Pak.” tegas Joana, tak lupa menampilkan senyumnya .
“Ya, saya tau.”
“Gimana rumah tanpa saya? apa kamu merasa lebih aman dan nyaman, kan?”
Joana mengangguk. “Iya Pak.”
Tapi sepi.
lanjutnya dalam hati.
“Saya turun dulu ya, takut dicariin sama atasan.” Joana sadar, sudah meninggalkan Amanda sendirian lebih dari dua puluh menit, padahal dia berjanji hanya sebentar saja.
“Kalau saya masih mau kamu di sini gimana?”
Joana menggeleng. “Saya mau lanjut kerja, lain waktu kita ketemu lagi. Sekali lagi, terima kasih Pak Alva.” Joana menundukkan sedikit kepalanya tanda menghormati lelaki itu. Pintu sudah terbuka dan Joana siap melangkah keluar.
Joana nggak mudah. Usaha harus lebih keras, atau harus pakai cara nekat?
Batin Alva saat menatap kepergian Joana.
__ADS_1
Joana berjalan menunduk, tanpa sadar senyum terbit di bibirnya dan hal itu tertangkap oleh Zea.