
“Beneran gue nggak nyangka sama lo.” Zea berujar dengan nada kecewa yang tak bisa dia gambarkan.
Joana menegakkan kepalanya, “Gue salah apa? jangan berpikir aneh-aneh. Nggak ada hubungan apapun antara gue dan Pak Alva. Lo bebas lanjutin perasaan dan obsesi lo ke dia.” tegas Joana.
“Yakin? nanti lo nangis kalau akhirnya Pak Alva milih gue.” Zea tertawa sarkas, ucapannya penuh dengan sindirian. Dia melipat kedua lengannya di dada.
“Nggak sama sekali.” Joana juga tertawa. “Silakan ambil Pak Alva. Jangan jadikan lelaki seperti Pak Alva sebagai objek kesalahpahaman kita, gue nggak mau.” tega Joana lagi. “Dan lo cukup tau, kan? siapa cowok yang gue cinta.”
“Belagu lo!” Zea mendorong bahu Joana. “Bukan nggak mungkin lo juga bisa terpengaruh dengan pesonannya Alva!”
Tapi yang dilakukan gadis itu hanya diam dan mengabaikan tanpa membalas perbuatan Zea. “Gue masih mau menjaga pertemanan ini,” ucapnya sambil berlalu meninggalkan Zea. Tapi, ada yang berkecamuk di dalam hatinya entah apa itu. Zea mengulang lagi perbuatannya beberapa tahun lalu. Memusuhinya hanya karena laki-laki. Terserahlah. Kini Joana tak mau lagi mengambil pusing.
Joana berlarian menuju lift untuk menghindari amarah Zea. Tak hanya itu, dia juga merasa meninggalkan rekan kerjanya, Manda terlalu lama.
Jangan anggap saya bos kamu, anggap teman kamu. Teman berbagi suka dan duka….
__ADS_1
Kalimat itu masih terngiang-ngiang di pikiran Joana. Apa ini? Ya, terkadang memang Joana butuh teman, bukan sekadar Zea. Tapi untuk bisa sampai ke tahap itu bersama Alva tentu semuanya butuh proses.
“Sorry ya Nda, gue lama,” ucap Joana ketika sudah tiba di tempat kerjanya.
“Nggak masalah, aman kok. Ngobrolin apa sama Zea? pasti bahas dresscode acara ntar malam?”
Joana menepuk keningnya “Oh bukan. Gue aja lupa kalau malam ini kita ada acara ulang tahun perusahaan. Kayaknya gue nggak bisa hadir.” Dia enggan sekali menghadiri acara-acara seperti itu. Salah satu alasannya dia tak suka keramaian, lalu biasanya acara seperti itu bisa menjadi ajang pamer dan caper di kalangan karyawan yang jomlo dan jomlowati.
“Ikut ajalah, setahun sekali juga.”
Faktor pendukung lain yang membuatnya enggan hadir adalah Zea, secara tidak langsung mereka baru saja bertengkar dan entah kapan semuanya akan kembali normal. Sepertinya akan sulit, apalagi Zea sama sekali tak mau mendengar alasan apapun darinya. Wanita itu selalu curiga padanya, selalu menganggapnya saingan yang akan merebut orang yang disuka. Padahal, Joana merasa dirinya tidak ada apa-apanya dibanding Zea yang cantik, dengan tubuhnya yang proposional, tinggi, fashionable. Tapi Zea selalu takut dan merasa tersaingi.
“kali aja ntar malam kita ketemu cowok ganteng yang berasal dari lantai-lantai atas,” bisik Manda sekali lagi, masih berupaya mengajak Joana untuk pergi.
Gadis iti terkekeh menanggapinya. “Gue nggak minat Nda.”
__ADS_1
“Hmm, payah lo. Mau jadi jomlowati sejati?” sindir Manda.
Joana hanya diam, sambil merogoh saku blazernya, dia menerima sebuah pesan dari kontak dengan nama Mas Alva.
Nanti malam, kamu datang ke pesta ulang tahun perusahaan, kan? Saya jemput kamu, dan pakailah dress pilihan dari saya! saya nggak terima penolakan!
“Ini ajakan atau perintah? atau mungkin paksaan.” Joana bergumam sendiri setelah membaca pesan singkat itu.
“Apanya, Jo?” tanya Manda.
“Eh, enggak ini lagi baca chat.” seketika Joana mengunci layar ponselnya sebelum Manda membaca siapa pengirimnya.
Maaf ya Pak, bukannya saya menolak ajakan Bapak. Tapi saya lagi kurang sehat dan malas ke mana-mana malam ini, mau istirahat. sekali lagi maaf…
Dengan sopan, Joana membalas chat itu. Tanpa melemparkan percikan api permusuhan seperti biasa. Ya, Joana juga ingin perlahan-lahan memperbaiki hubungannya dengan lelaki itu agar semakin membaik, meski tentu akan membutuhkan waktu yang lama.
__ADS_1