My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Memeluk tanpa alasan


__ADS_3

“Kamu begitu menggemaskan.” Alva yang saat itu sedang duduk di atas ranjang sambil bersila dan bersandar di sana, terus menatap Joana yang baru saja mengganti pakaiannya dengan sebuah kaos tipis berukuran besar milik Alva. Kaos itu persis mirip sebuah daster saat Joana memakainya, dan sialnya membuat Joana merasa nyaman dengan balutan kaos itu di tubuhnya.


“Apa ini nggak berbahaya?” sindir Joana. Dia berharap kali ini semesta mengampuninya. sebab dia begitu berani berpakaian seperti ini, di hadapan lelaki yang belum resmi menjadi suaminya. Joana terus merasa bersalah, berdosa, tapi dia seperti baru saja menemukan bagian dari dirinya yang lain yang tidak pernah dia temukan selama ini. Joana bahagia. Ya dia bahagia. Itu yang selama ini dia cari. Alva lelaki pertama yang memberinya tatapan penuh damba, ucapan-ucapan menenangkan, padahal mereka belum lama saling mengenal. Joana bingung, tapi dia hanya ingin semuanya berjalan apa adanya.


Alva menepuk sisi kosong di sebelahnya. “Kemarilah, aku janji nggak akan mengulangnya lagi.” entah sudah berapa kali Alva meyakinkan Joana bahwa dia tidak akan berbuat hal yang Joana khawatirkan. “Aku bukan lelaki yang gampang merusak harga diri perempuan-“


“Ah bohong!” sangkal Joana.


“Percayalah malam itu semua karena pengaruh alkohol dan minuman sialan yang Zea kasih ke aku.” berkali-kali Alva meyakinkan itu.


“Hm. Apa ojolnya masih lama? aku lapar.” Joana mencoba mengalihkan pembicaraan saja. Lalu dia merangkak naik, ke atas ranjang. Duduk berjarak dengan Alva dan susah payah dia menutupi paha mulusnya karena kaos itu tersingkap berkali-kali.


Alva mengerti keresahan Joana, langsung menarik selimut menutupi kaki wanita itu.

__ADS_1


“Thank you.” ucap Joana malu-malu.


“Makanan yang kamu pesan, jaraknya lumayan jauh dari sini. Wajar kalau lama sampainya, apalagi ini malam minggu, macet di mana-mana,” jelas Alva.


Sudah melewati jam sembilan malam, tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Joana mengangguk mengerti atas penjelasan lelaki itu.


“Mau nonton film?” tawar Alva lagi, bermaksud agar Joana tidak merasa bosan.


“Boleh.”


“Hm, horor. Ada film yang belum selesai aku tonton malam kemarin. Karena ada pengganggu, yang tiba-tiba datang menyerang dan menciptakan adegan dewasa di ruang TV.” sindir Joana.


Alva tertawa kecil. “Kita lanjut nonton bareng sekarang, pilihlah.” Lelaki itu menyerahkan remote tv pada Joana, memilih film yang dia maksud. “Apa kamu sengaja memilih film horor, supaya ada alasan memelukku, nanti?” Alva tertawa sarkas.

__ADS_1


“Apa untuk memeluk Mas Alva harus ada alasan ketakutan hantu di dalam film?” balas Joana sinis.


Alva tersenyum lebar, dia menggoda dan Joana membalasnya dengan kalimat yang lebih menggoda.


“Enggak, kamu boleh memelukku tanpa alasan. Dari awal film di mulai sampai akhir, kamu boleh memelukku. Kemarilah sayang!” titah Alva agar wanita itu semakin merapat kepadanya.


“Janji dulu!” Joana memberikan jari kelingkingnya pada Alva, hal yang biasa orang-orang lakukan jika membuat sebuah janji. “Just hug, no kiss, no more!” ucap Joana lagi.


Alva mengangguk, tanpa menyambut jari kelingking Joana. Dia langsung menarik Joana agar masuk ke dalam pelukannya, bersandar di dada bidangnya. Agar Joana bisa mendengarkan betapa hebat detak jantungnya saat ini, saat berdekatan dengan wanita menggemaskan ini.


“Percaya aku, Joana.” Alva mengusap pelan puncak kepala wanita yang sedang berada di dalam pelukannya itu.


🍑

__ADS_1


Kalau likenya tembus 1000 nanti aku up lagi hihihi


__ADS_2