My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Mengungkapkan yang sebenarnya


__ADS_3

Diberi titah untuk bergabung makan malam dengan orang tua Alva, Joana kini sibuk memilih pakaian yang layak. Usai mandi dan membersihkan diri juga sedikit berhias, Joana sibuk membongkar lemarinya. Dan dia baru menyadari ternyata sudah lama sekali dia tidak shopping membeli baju. Sampai ada satu dreas yang layak menurutnya. Dress itu berwarna hitam pekat, ada kancing di bagian depan dengan panjang selutut dan lengannya sesiku. Joana sedikit percaya diri dengan pakaian berwarna hitam karena membuat tubuhnya menjadi lebih langsing.


Setelah memastikan penampilannya benar-benar layak dan tidak memalukan, Joana keluar dari kamarnya. Di ruang keluarga ternyata sudah ada orang tua Alva yang sedang duduk berbincang mengobrol dengan lelaki itu.


“Dua puluh sembilan tahun, nggak muda lagi, kan Mam?” Vardi berbicara pda istrinya, Alma tentang putra mereka satu-satunya.


“Ya, bahkan papa aja menikah di umur dua puluh enam, waktu itu mama dua puluh satu,” sindir Alma, mamanya Alva.


“Jaman kita berbeda Ma, Pa,” sahut Alva. Dia memang sedang berbicara pada mama dan papanya. Tapi, matanya tak henti memandang Joana yang sedang menghidang makanan di atas meja.


“Kalau kamu nggak niat cari calon istri, biar mama yang turun tangan. Tapi ingat, jangan coba-coba cari yang nggak setara dengan kita! anak kolega Papa banyak tuh yang muda, cantik dan berpendidikan baik, setara dengan kamu.” timpal Alma lagi, dia benar-benar memperingatkan.


Inilah yang membuat Alva ragu memperkenalkan Joana pada kedua orang tuanya. Dia tahu kriteria mamanya seperti apa. Ditambah lagi, mamanya itu jika berbicara suka asal tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya.


Sayup-sayup Joana mendengar percakapan itu. Tapi dia harus tetap fokus pada kerjaannya.


“Makanan udah siap, ayo kita makan!” Nek Merry baru saja keluar dari kamarnya, langsung mengajak anak, menantu dan cucunya segera ke meja makan.


“Ibu selalu aja senang merepotkan diri,” ujar Alma pada mertuanya.


“Makanan di restoran itu nggak ada yang seenak masakan ibu.” tegas nenek.


“Oh ini ya? yang namanya Joana? temannya Ibu selama tinggal di sini?” Alma menatap seorang wanita yang sedang menyajikan makanan, menata piring, gelas dan sendok di sana.


“Iya Tante, saya Joana,” jawab Joana gugup, tak lupa dia tersenyum ramah, bersama dengan debaran jantung yang tidak bisa diajak kompromi.

__ADS_1


“Bagus deh, anggap aja Ibu ada pembantu, tapi gratis.” cetus Alma lagi.


Senyum Joana perlahan memudar, dia melirik ke arah Alva sejenak dan ketika lelaki itu membalas tatapannya, Joana langsung menunduk seakan tak pantas bertatapan dengan Alva. Wanita itu, mamanya Alva berpenampilan sangat glamour, kulitnya halus, bersih, dengan beberapa perhiasan mewah yang ada di jemari dan lehernya. Jelas sekali tampak seperti wanita berkelas. Jauh berbeda dengan Joana yang tidak ada apa-apanya.


“Enak aja pembantu, enggaklah. Joana ini udah Ibu anggap cucu,” sahut Nek Merry.


Alva menyadari perubahan dan gelagat Joana, rasanya ingin menghampiri wanita itu detik itu juga. Tapi Joana merasa sedikit tersanjung saat nenek menyebutnya menganggap cucu sendiri.


“Jo, nenek lupa deh. Bikinin minuman nenek kayak biasa ya?” pinta Nek Merry.


Joana mengangguk. “Minuman hangat jahe, kan Nek?” tanya Joana memastikan.


“Iya Nak, tolong ya sayang.”


Joana mengambil jahe seperlunya, serai, gula aren. Lalu merebus air secukupnya. Di dapur, dia melakukan hal lain sambil menunggu air sampai mendidih. Tanpa berani melirik pada satu keluarga yang sedang berbincang-bincang itu. Beberapa menit kemudian, aroma jahe dari rebusan air mulai terhirup, Joana mematikan kompor lalu memindahkan minuman itu ke dalam gelas. Joana semakin tak tahan, kala mencium aroma jahe, ada yang bergejolak hingga mendorong Joana untuk segera berlari menuju kamar mandi.


“Hoek.”


Joana tak bisa menahan rasa mual yang tiba-tiba menerpanya hingga dia memuntahkan isi perutnya dan suaranya terdengar sampai ke luar.


“Kenapa dia?” Alma sedikit terganggu dan risi mendengar orang yang sedang muntah. “Nggak sopan banget sih?”


Alva yang merasa khawatir Joana, langsung bangun dari duduknya menyusul Joana ke sana, tentu mengundang perhatian semua yang ada di sana termasuk Nek Merry.


“Kenapa, sayang?” bisik Alva, menerobos masuk ke dalam kamar mandi yang tak sempat Joana kunci.

__ADS_1


Alva mengusap-usap tengkuk Joana yang masih berdiri di belakang wastafel.


“Aku nggak apa-apa.” Cepat-cepat, Joana menyeka mulutnya dengan air dan tisu. Sebenarnya, sedari tadi dia sedang menahan rasa lelah dan sedikit pusing. “Kamu kembalilah ke meja makan, Mas,” ucapnya dengan nada lemah.


“Al, ngapain kamu?” Alma menoleh ke arah kamar mandi, kala merasa ada yang aneh dengan putranya. Untuk apa menyusul Joana sampai masuk ke dalam kamar mandi?


“Joana, kenapa, Nak?” Nenek yang juga ikut khawatir, kini menyusul untuk melihat apa yang terjadi pada Joana.


Mengabaikan mamanya, Alva masih fokus pada Joana yang terlihat kesulitan berdiri, dan sedang memegangi keningnya. “Joana, kamu-“


Sepersekian detik setelahnya, tubuh Joana terasa melayang dan Alva segera menangkapnya.


“Joana!” sentak Alva, segera menggendong tubuh wanita itu keluar dari kamar mandi. Alva mengabaikan mama dan papanya yang sedang menatap keheranan dan curiga padanya.


“Nggak pernah Joana kayak gini, coba nenek telpon dokter Rika ya.” Dengan sigap, nenek mengambil ponselnya di dalam kamar, mencari kontak bernama Dokter Rika, yang merupakan dokter pribadinya.


“Ada apa dengan dia?” gerutu Vardi, sang papa. “Segitu pedulinya dengan perempuan bernama Joana itu?”


“Mama juga heran!” sentak Alma, menyusul anaknya yang kini sedang berada di kamar Joana, duduk tepat di sebelah wanita yang sedang berbaring lemah itu.


“Ada hubungan apa kamu, sama dia?” Alma melipat ke dia lengannya di dada, menatap tak suka pada anaknya yang terlihat cukup khawatir pada Joana.


“Sebenarnya, dia pacarku, Ma.” tegas Alva. “Dan aku akan menikahinya.” lanjut Alva tanpa ragu lagi dia mengungkapkan semuanya. Terserah, entah bagaimana nantinya.


“Apa?!” Nenek dan mamanya merespon secara bersamaan, namun dengan ekspresi berbeda dan bertentangan.

__ADS_1


__ADS_2