My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Aku bersungguh-sungguh


__ADS_3

“Malam ini, ikut aku sebentar.” pinta Alva. Saat mereka duduk saling berhadapan, sedang menikmati makan siang masakan Joana.


Joana yang tiba-tiba seperti mendapatkan sebuah titah, langsung menoleh. “Ikut? ke mana? harus?” Joana merasa Alva semakin lama semakin bertingkah sesuka hati saja terhadap dirinya. Apalagi sejak lelaki itu mengklaim bahwa Joana adalah miliknya.


“Ke apartemenku, mau ambil pakaian dan semua keperluanku yang lain.” tegas Alva. “Temani aku.” lanjutnya lagi, tanda dia tak ingin ada penolakan sedikitpun.


“Nggak bisa janji.”


“Kamu punya janji dengan yang lain?” Alva menatap tak suka, sebab malam ini adalah malam minggu, bisa saja Joana sudah ada janji dengan orang lain. “Sama Zea?”


Entah mengapa Joana makin kesal saat mendengar nama Zea disebut, mendadak dia merasa muak. “Nggak ada.”


“Kalau begitu, ikut aku ya? please?” nada Alva kali ini terdengar memelas dan lembut, lebih kepada memohon daripada memerintah.


“Iya boleh,” sahut Joana.


Alva ingin bersorak ria. Langkah demi langkah, perlahan tapi pasti sepertinya dia hampir bisa meluluhkan hati Joana.


“Jangan terlalu jutek dan benci aku.” Alva berujar lagi.


Benci? kenapa dia bisa berasumsi gue benci dia?


“Nggak benci kok, kalau jutek, aku memang begini dari dulu.” Joana menyangkal dan masih tak habis pikir dengan tingkah lelaki di hadapannya ini yang cukup santai setelah setengah memperkosanya. Ya, Joana juga tidak tahu apakah itu bisa disebut pemerkosaan atau suka sama suka, semuanya terlalu sulit dan rumit untuk dimengerti.


“Ya, apapun itu. Aku peringatkan kamu dari sekarang. Jangan terlalu kesal, apalagi benci, nanti anak yang mungkin sebentar lagi akan jadi-“


“Stop, jangan bahas itu. Nggak! aku nggak mungkin hamil! Jangan mempersulit keadaan, Mas. Jangan buat aku semakin tersiksa.” Joana memukul meja, dengan kesal. Sungguh dia belum siap jika benar hal itu terjadi.


“Apa yang kamu khawatirkan? sedangkan aku siap bertanggung jawab lahir dan bathin atas dirimu, Joana.”

__ADS_1


“Mentalku belum siap. Kita ini cuma orang asing yang dipertemukan tanpa sengaja.”


Melihat Joana sepertinya mulai gelisah dan tak tenang, Alva memilih diam dan harus mengganti topik pembicaraan. “Oh ya, kamu pingin pindah posisi, di perusahaan? apa pegawai resepsionis memang pilihanmu?” menurut Alva, sepertinya ini hal yang menarik untuk dibahas.


“Hanya itu lowongan yang tersedia dan itu udah lebih dari cukup,” sahut Joana.


“Mau pindah ke bagian lain?”


Joana menggeleng. “Enggak, aku udah nyaman di sana.”


“Kamu yakin? Aku berencana menyingkirkan Zea, kalau kamu bersedia-“


“Enggak Mas, aku nggak mau jadi sekretaris kamu. Dan tolong, aku mohon banget sama kamu, jangan ganggu Zea. Biarkan dia tetap di posisinya karena dia cukup mencintai pekerjaannya. Juga mungkin sekarang mencintai bosnya,” sindir Joana sarkas. Ucapan Joana sulit ditebak. Terkesan antara membela Zea, atau justru menyindir Alva.


“Aku tau sifat aslinya padahal kami belum kenal lama. Dia adalah perempuan yang berani menghalalkan segala cara demi keinginannya. Dan kamu mau tau, apa yang terjadi pada kita semalam, itu juga ada campur tangan Zea,” jelas lelaki itu pada Joana tanpa diminta. Alva hanya ingin tahu bagaimana Joana menilai wanita yang katanya sahabatnya itu.


“Apa?! campur tangan Zea?”


Joana terdiam, tak menyangka Zea akan segila itu. Jadi, Alva seperti itu karena pengaruh obat dan bukan karena keinginannya sendiri. “Itu artinya dia berusaha menjebak kamu, Mas?”


“Ya.” jawab Alva singkat.


“Dan itu artinya juga, kalau kamu ikut dengannya, maka…”


“Maka semalam nggak akan ada yang terjadi di antara aku dan kamu.” sambung Alva.


“Dan kamu akan ngelakuin itu bersama Zea?” ada sedikit rasa tak rela dalam benak Joana jika itu terjadi, otak Joana mulai tak waras, ketika dia justru bersyukur Alva melakukan dan melampiaskan itu kepadanya, bukan pada Zea.


“Kamu tau apa yang lebih aneh?” tanya Alva.

__ADS_1


“Apa?”


“Waktu aku merasakan gairahku yang cukup besar itu, pikiranku cuma tertuju ke kamu, cuma kamu perempuan yang ingin aku datangi.” tegas Alva.


“Walaupun di depanmu ada Zea?”


Alva mengangguk. “Seksinya pakaian Zea semalam, bahkan nggak membuatku tergoda, aneh kan?”


“Dan kamu lebih tergoda dengan perempuan biasa, dengan piyama bermotif yang pernah kamu bilang kampungan itu, Mas?“ Lantas Joana tertawa sarkas mengejek Alva penuh kemenangan.


“Ya, mungkin sekarang aku kena karmanya.”


“Karma?” Joana berkerut kening.


“Ingat gimana pertama kita bertemu? gimana aku perlakukan kamu?”


“Kasar!” sahut Joana cepat. “Kamu juga pernah menghinaku mirip orang gila, karena aku kabur dari igd dengan daster dan tanpa alas kaki!”


“Maaf soal itu. Mata dan hatiku belum terbuka untukumu waktu itu.”


“Hm, kalau sekarang?”


“Jangankan mata dan hati, semua pin atmku juga bersedia aku bagikan ke kamu.” Alva menyeringai penuh godaan.


gombalan yang cukup menggelikan itu berhasil membuatnya tidak bisa menahan tawa. “Gomba!”


“Aku bersungguh-sungguh.”


🍑

__ADS_1


Siapa yang mulai termakan gombalannya Alva?😀


__ADS_2