
Sesuatu yang sangat Joana rindukan akhir-akhir ini adalah masak bersama nenek, dan sore ini benar-benar terwujud. Joana sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai di rumah, lalu dia terjun ke dapur membantu nenek. Joana hanya mengikuti instruksi nenek, apa yang diperintahkan kepadanya.
Saat ini, wanita itu sedang memotong sayuran, mengiris bawang dan cabai, meski sebenarnya dia agak sedikit lelah karena sudah berkeliling swalayan untuk berbelanja dan berkeliling toko furniture untuk mencari sofa yang persis seperti di rumah. Tapi tidak masalah untuk saat ini, Joana masih sanggup menahan jika hanya untuk kegiatan masak memasak.
“Alva nggak jahat kan sama kamu?” tiba-tiba nenek memberinya pertanyaan itu, setelah nenek memastikan tidak ada Alva di sekitar mereka.
“Enggak kok Nek,” sahut Joana disertai senyum yang meyakinkan.
“Jangan takut, jujur aja sama nenek.” Nenek seakan tak yakin dengan jawaban yang Joana berikan.
“Beneran, Mas Alva baik banget.” Joana hanya menceritakan bagaimana Alva akhir-akhir ini, tanpa menceritakan sejarah awal pertemuan mereka.
“Mas?”
“Iya, maksudnya Pak Alva. Dia kan bosnya aku Nek. Nggak nyangka ternyata selama ini aku kerja di perusahaannya dia.” Joana meralat panggilannya terhadap Alva saat nenek menatapnya curiga. “Nek, kenapa sih nenek sengaja ninggalin aku? berdua dengan Pak Alva di rumah ini?”
“Nenek bosan di rumah, kamu kan tau nenek udah lama pingin liburan,” sahut nenek santai.
__ADS_1
“Tapi kenapa nenek biarkan Pak Alva tinggal di sini?” protes Joana, percuma saja dia protes, karena semuanya sudah terjadi.
“Supaya ada yang jagain kamu,” ucap nenek dengan seringai menggoda.
Menjaga? bukannya menjaga, justru dia adalah orang yang paling berbahaya Nek. Keluh Jona dalam hati. Lalu dia menghela napas berat. Meski Joana sudah dalam tahap ikhlas atas apa yang terjadi padanya, tapi tetap saja ada setitik penyesalan dalam dirinya.
“Menurut kamu, dia gimana? selain baik, cakep nggak?” pertanyaan nenek semakin mengarah entah ke mana, membuat Joana bingung.
“Ya… ganteng sih, standart orang-orang Asia,” sahut Joana lalu tertawa kaku.
“Oh, jadi menurutmu aku hanya sebatas standart cowok-cowok Asia? bukan di atas rata-rata, yakin?” yang sedang dibicarakan muncul tiba-tiba, dan entah sejak kapan lelaki itu berada di sana.
“Kalian ini kaku sekali, santai ajalah. Alva, kalian kan udah saling mengenal, coba deh jangan kaku sama Joana.” usul Nenek.
kaku? wah andai nenek tau yang sebenarnya.
Batin Alva,
__ADS_1
“Enggak Nek, Joana aja yang membatasi diri.” Lagi, Alva berpura-pura.
“Ya wajar dong, dia kan sungkan sama kamu, karena kamu bos di tempat dia bekerja.”
Joana mengangguk setuju atas pertanyaan nenek. “Benar, Nek.”
“Oh ya, Joana, nanti kamu ikut gabung makan malam ya? harus.” pinta Nenek.
“Aku?” Joana menunjuk pada dirinya sendiri. “Enggak usah Nek, ini kan acara kelurga.” tolak Joana.
“Bukannya kamu udah dianggap cucu sama nenek? artinya, kamu juga keluarga, kan?” sambung Alva.
“Iya, tapi…”
“Udah nurut aja. Kamu udah bantuin nenek masak, harus ikut gabung makan di meja, oke?” tegas Nek Merry, dari caranya berbicara, jelas sekali nenek tidak mau dibantah.
Joana mengangguk terpaksa. Makan malam bersama keluarga Alva? bersama orang tua lelaki itu? Joana tidak siap rasanya. Ya meski, saat ini mereka masih menyembunyikan hubungan mereka, tapi tetap saja ada rasa gugup dan mendebarkan.
__ADS_1
🍑
Jangan lupa likenya