My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Dia menangis?


__ADS_3

Merasa Joana benar-benar mengikuti permainannya, Alva berhenti. Melepas cumbuan mereka serta tak lagi menahan pinggang Joana hingga dia terjatuh begitu saja di lantai. Napas Joana terengah-engah.


“Sakiit…” keluh Joana sambil memegangi pinggulnya. Menatap lelaki yang masih berdiri di hadapannya itu. Lalu Joana sepenuhnya sadar, dan dia langsung berdiri, ingin beranjak dari kamar ini.


“Dugaanku nggak salah, kan? Kamu itu benar-benar wanita mu-“


Plak


Plak


Dua kali Joana menampar pipi Alva dengan keras, bergantian kiri dan kanan. Dia tidak peduli siapa lelaki ini. Hatinya sakit sekali atas perkataan dan perbuatan Alva padanya. “Apa?! mau ngatain apa untuk saya? wanita murahan? ya saya memang murahan. Puas, Anda?!” akal sehat Joana tak bisa berjalan dengan baik. “Saya memang udah tidur dengan banyak laki-laki hidung belang, kenapa memangnya?!” Dia merasa dipermainkan dan sialnya dia malah mengikuti permainan lelaki bangsat itu. Sekalian saja dia menjelek-jelekkan dirinya agar lelaki itu semakin ilfeel padanya.

__ADS_1


Joana berlarian menuju kamarnya, matanya terasa panas. Sakit hatinya karena Alva menganggapnya seperti itu. Memang tak sepenuhnya salah lekaki itu. Harusnya Joana jangan terbuai. Apa karena pesona Alva yang sulit di hindari. Entahlah… Joana merasa dirinya sangat bodoh saat ini.


Dia duduk bersandar di ranjangnya dengan menekuk ke dua lututnya sambil memeluk kedua kakinya di sana. “Joanaaaa goblok!! dia cuma mau bermain-main dan menilai lo doang. Bisa-bisanya malah terbuai.” Joana mengambil ponsel untuk mengecek saldo rekeningnya. Andai punya pilihan, dia pasti sudah berpindah dari rumah ini dan mencari kontrakan yang lainnya. Tapi, gajinya yang tidak terlalu besar dengan posisi resepsionis itu hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya ditambah membayar cicilan motor setiap bulannya.


*


Yang ditampar oleh Joana adalah kedua pipinya, tapi kini justru Alva sedang mengusap-ngusap bibirnya. Masih jelas terasa di sana hangat dan lembutnya bibir Joana. Jika bagi Joana ini adalah ciuman pertama, bagi Alva ini adalah ciuman ke dua. Setelah ciuman pertamanya dicuri oleh seorang teman dekatnya saat masih kuliah di Amerika. Wanita berdarah Jepang itu terang-terangan mengatakan menyukainya dan tak segan mengecup, melumaat bibirnya. Tapi kala itu Alva tak merespon sedikitpun. Tapi dengan Joana, dia bagai benda yang mengandung besi, sedangkan Joana adalah magnet hingga sulit menjauhkan diri saat bibir mereka menyatu tadi.


Alva tidak berniat menyakiti Joana, hanya saja dia tak ingin semakin terbuai, bisa gawat jika mereka berakhir di atas ranjang. Alva hanya mencari-cari alasan untuk menutupi kesalahannya yang memulai ciuman lebih dulu. Alva berakting seakan Joana yang tak bisa lepas darinya, maka kata-kata wanita murahaan keluar begitu saja dari mulutnya, dan kini dia menyesal.


“Ah bodooh!!” sama halnya dengan Joana, Alva juga mengumpati dirinya karena telah berlaku kasar pda wanita itu.

__ADS_1


Alva keluar dari kamarnya, bahkan box nasi goreng masih ada dua di atas meja. Itu artinya, Joana tidak mengambil jatahnya.


Lelaki itu kini berdiri tepat di hadapan pintu kamar Joana. Tangannya tergerak perlahan untuk mengetuk pintu kamar itu. Belum sempat Alva melakukannya, samar dia mendengar isak tangis di dalam sana. Tangis yang terdengar pilu dan tersedu-sedu. Menyedihkan.


“Dia menangis? kenapa?” tanya lelaki itu tanpa rasa bersalah. “Bukannya dia juga senang melakukannya?”


🍑


Enaknya si Alva ini diapain ya😂


Oh ya….

__ADS_1


Kakak2 yang terhormat, makasih banyak yah yang udah mampir di cerita yang tak seberapa ini.


__ADS_2