
Joana mengangkat kepalanya seketika saat menyadari kehadiran seseorang di sekitarnya. Lelaki itu tampak tersenyum ke arahnya, kemudian ikut berjongkok bersamanya dengan masih menggenggam gagang payung agar mereka berdua terlindung dari sengatnya sinar matahari.
“Kak, tau aja aku di sini.” Joana menyeka air matanya, lalu tersenyum kaku pada Daniel.
“Aku kenal kamu bukan sehari dua hari. Kebiasaanmu di hari ulang tahun, pasti mampir ke sini, setelah itu kita, makan bareng.” Ya, lelaki berpayung itu adalah Daniel si kakak angkat, yang sudah menemani kebiasaan Joana selama bertahun-tahun.
“Kakak nggak hubungi aku dulu? kalau ternyata aku nggak di sini, gimana?” Joana senang? ya tentu saja, dihampiri oleh Daniel, lelaki yang masih bersarang di hatinya namun terhalang status keluarga angkat dan lelaki itu juga telah memiliki tunangan, Joana hanya mampu menelan rasa sakit hati tanpa ada yang tahu.
“Hapemu mati, Joana.” keluh Daniel.
“Oh ya?” Joana merogoh sling bagnya untuk memastikan. Dan benar ternyata ponselnya mati. “Ya ampun, iya aku lupa cash tadi.”
Daniel tersenyum menanggapinya. “Udah selesai? ayo kita pulang,” ajak lelaki itu.
“Pulang?” tanya Joana tidak yakin.
“Bukan, maksudku, makan siang. Hari ini mau di mana?” Daniel meralat ucapannya.
“Aku ikut aja Kak, terserah Kak Daniel.” Joana berdiri, diikuti oleh Daniel. Ritual curhat, mendoakan dan menangisnya sudah selesai.
“Kita pergi sekarang?” tanya lelaki berkemeja itu.
Joana mengangguk yakin. “Iya Kak.” darah Joana berdesir kala merasakan sentuhan di pundaknya, Daniel tengah merangkulnya, lalu menoleh ke arahnya sekilas mata mereka saling bertemu.
Move on. Dia calon suami orang.
Joana berulang kali mengingatkan dirinya sendiri.
“Kakak bawa mobil?” tanya Joana. “Tumben.” dia melihat sebuah mobil yang cukup dikenalinya.
Daniel tampak sedang melihat ke layar ponselnya, sedang membaca pesan. “Kita makan di rumah, ya,” ucap lelaki itu kemudian. “Mama udah masak makan siang khusus hari ulang tahunmu.”
“Benarkah?” Mata Joana berbinar senang, tidak ada Nek Merry, dia masih bisa merayakan hari ulang tahunnya.
__ADS_1
“Ya, ayo!” ajak Daniel membukakan pintu untuk Joana.
🍑
Joana tiba di sebuah rumah yang sudah lama sekali tidak dia kunjungi. Rumah yang pernah menjadi tempatnya berteduh selama beberapa tahun sebelum akhirnya dia memilih hidup sendiri karena tak ingin merepotkan.
“Kamu!” sentak seorang wanita paruh baya saat melihat Joana.
“Tante!” Joana berjalan cepat ke arah di mana wanita itu berdiri, lalu memeluk Tante Wita. Teman dekat almarhumah mamanya.
“Tega kamu ya nggak pernah main ke sini lagi?!” protes Wita.
“Aku terlalu sibuk bekerja, Tante.” jawab Joana, lalu tersenyum lembut.
“Kalau Tante nggak memaksa Daniel membawamu ke sini, pasti kamu nggak akan mampir, iya kan?” keluh Wita. “Jangan begitu dong sayang, jangan lupakan Tante.”
“Aku nggak lupa sama Tante.”
Ya, dia juga sayang Joana. Sayang sebagai adik tentunya. Atau mungkin… entahlah. Danie selalu menepis tiap kali pikiran itu muncul.
“Om lagi di mana, Tante?” tanya Joana saat merasa rumah itu begitu sepi.
“Om keluar kota ada acara di club golfnya,” jelas Wita.
Daniel mengambil tempat tepat di sebelah Joana. “Untung aja kita belum singgah di restoran ya Jo.”
“Iya Kak, ternyata Tante kasih surprise buat aku. Makasih ya, Tante. Makasih Kak…” lirih Joana dengan binar mata bahagia.
Ada beberapa hidangan di atas meja, juga kue ulang tahun dengan lilin angka dua lima.
“Jo, kapan kamu kenalin pacarmu ke Tante?”
Joana yang sedang meneguk air putih langsung tersedak. Daniel pun sedang mengisi nasi di piringnya seketika berhenti, menatap tak suka akan pertanyaan sang mama.
__ADS_1
“Belum ada Tante-“
“Joana betah menjomlo selamanya,” timpal Daniel.
“Amit-amit deh Kak! masa iya aku nggak laku sampai tua!” protes Joana, memukul lengan lelaki itu.
“Harus.”
“Ish jahat!”
“Daniel, apa sih kamu kayak gitu ke Joana?!” Wita mengingatkan. “Eum, mau nggak tante kenalin sama anaknya teman Om?”
“Mama!” sentak Daniel. “Stop jodoh-jodohin orang, cukup aku aja yang jadi korban kalian!” protes Daniel. Pertunangannya dengan Lisa hanyalah sebatas bisnis belaka. Dia tak cinta Lisa, tapi wanita itu terlalu agresif menunjukkan rasa sukanya pda Daniel.
“Kamu jangan ikut campur, ini urusan mama dengan Joana!” balas Wita.
“Aku nggak mau Tante, aku mau fokus kerja dulu.” jelas saja Joana tak mau, karena dia hanya mau bersama lelaki di sebelahnya ini. Tapi sekilas, ingatannya juga tertuju pada Alva, lelaki yang sempat mengajaknya menikah dengan cara yang sangat aneh. Lelaki yang sempat dia amuk dengan emosi meluap-luap beberapa minggu lalu.
di mana dia sekarang?
Sungguh meski terkesan tak peduli, tapi Joana tetap bertanya-tanya tentang keberadaan lelaki itu.
“Ya, sambilan dong. Usia kamu udah dua lima loh.” Wita mengingatkan.
“Iya Tante, tapi jangan deh.”
“Hm, kamu ini. Maunya cowok yang gimana?”
“Mama,” geram Daniel kembali mengingatkan bahwa Joana mulai tak nyaman membahas hal itu.
🍑
Tolong, yang baca jangan lupa klik LIKE nya ya. Makasih
__ADS_1