
Selepas kepergian nenek dari kamarnya, tinggalah Joana berdua dengan Alva. Napas Joana serasa naik turun, dia melirik ke arah lelaki yang sedang tersenyum ke arahnya, sambil merangkul pundaknya. Tak kuasa, Joana memeluk Alva dengan erat, sambil menumpahkan tangis.
Alva membalas pelukannya. Mengusap rambut panjang Joana. “Apa yang kamu tangisi? bahkan cowok yang menghamili kamu, sekarang ada dalam pelukanmu, Joana.” Alva menempelkan dagunya di puncak kepala Joana.
“Apa aku pantas, bersama kamu?” suara Joana terdengar dalam dan berat. Dia sadar akan siapa dirinya, bagaimana calon mertuanya memandangnya dengan sebelah mata. “Aku cuma yatim piyatu yang nggak punya siapa-siapa. Sedangkan kamu…”
“Ya pantaslah, kamu yang akan mendampingiku mulai hari ini, esok dan seterusnya.” Alva melepas pelukan dan memegang kedua pipi Joana. “Bisa nggak kamu senyum kali ini, aja? kamu lagi hamil, Joana. Kamu itu sedang mengalami satu hal yang pasti diimpikan banyak wanita di luar sana. Ayo tersenyum dan banggalah!” pinta Alva.
Senyum tipis terbit di bibir Joana, dengan air mata yang masih mengalir deras. “Kita harus gimana menghadapi orang tua kamu? apa kamu akan tetap menikahiku, tanpa restu?” tanya Joana tak yakin.
“Ya, nggak ada penghalang apapun-“
“Gimana kalau akhirnya kamu kehilangan semuanya, Mas? harta, fasilitas dan jabatan yang kamu punya sekarang? apa kamu yakin?”
“Apa kamu yang nggak yakin, dan takut hidup kita menjadi miskin? tenang sayang… kita nggak akan miskin sekalipun orang tuaku menarik semuanya.”
“Hah? kenapa bisa begitu?” Joana berkerut kening.
“Ya, karena investasi pribadiku, atas namaku sendiri, ada di mana-mana. Itu nggak ada kaitannya dengan perusahaan Papa.” tegasnya. “Jadi, kamu tenang aja-“
“Sebenarnya, bukan soal harta yang aku khawatirkan, Mas. Karena selama ini aku juga hidup pas-pasan. Dan itu bukan masalah besar bagiku.”
__ADS_1
“Jadi, apa?”
“Aku pernah memimpikan menikah, hidup bahagia, punya mama mertua yang menyayangiku seperti anak sendiri, sebagai pengganti kasih sayang mamaku yang udah nggak ada. Tapi pasti, mustahil aku dapatkan itu,” ujar Joana sedih.
“Kamu udah dapat kasih sayang nenek, bahkan kayaknya nenek sekarang lebih sayang kamu dari pada aku.” puji Alva.
“Berhenti bersedih! sekarang, makanlah! Kita udah masak banyak tadi. Kalau kamu nggak mau makan, siapa yang bakalan habiskan itu, Joana? kamu tau nenek paling nggak suka ada makanan yang tersisa?!” di sela-sela perbincangan mereka, nenek masuk kembali ke dalam kamar. “Makanlah, anakmu butuh nutrisi.” ujar nenek lagi.
Tanpa ragu, Joana turun dari tempat tidur. Bukan hanya karena dia lapar, tapi juga mengingat kata-kata nenek yang tak suka makanan tersisa, karena itu akan mubazir.
“Nah gitu dong.” puji nenek, melihat Joana berjalan ke arah pintu meski masih dnegan wajah yang sedih dan sembab.
Joana menelan salivanya, semua makanan itu membuatnya tergiur. Biasanya, Joana tidak berselera makan sama sekali jika sedang bersedih. Tapi kali ini, rasanya dia ingin melahap semuanya tanpa sisa.
“Nih sayur kesukaanmu, kan?” Nenek memindahkan sayur capcay ke piring Joana yang sudah berisi nasi.
“Iya Nek,” sahut Joana.
“Kamu nggak mual, kan?” tanya Alva.
Joana menggeleng, “Enggak, tadi itu mual banget karena aroma jahe. Biasanya nggak apa-apa kok.”
__ADS_1
“Mau disuapin atau makan sendiri?” tawar Alva lagi. Entahlah, dia hanya terlalu senang karena kehamilan Joana. Apapun akan dia lakukan demi wanita yanng sedang mengandung benihnya itu.
“Ih Mas aku cuma hamil, bukan sakit parah. Aku bisa makan sendiri.”
“Oke, oke.” Alva mengalah. Dan yang dilakukannya adalah memperhatikan Joana makan dengan lahap.
“Kamu nggak makan?” tanya nenek pada cucu tampannya.
“Aku lihat Joana aja udah kenyang Nek.” ucapnya asal.
“Huh, dasar bucin!” umpat nenek padanya.
“Dari mana nenek tau istilah itu?!” tanya Joana heran.
“Umur boleh tua, jiwa tetap muda dong. ya nenek tau istilah anak-anak jaman sekarang. Dan kamu Alva, jangan cuma manis di awal aja. Tetaplah perhatian dan sayang sama Joana.”
“Wah, apa nenek berminat cari kakek baru? Oh, kalau soal Itu nggak perlu nenek ajarkan dan ingatkan, aku juga tau.” Alva masih betah menatap Joana yang kini mulutnya sedang dipenuhi oleh makanan.
Teng!
Alva meringis saat kepalanya dipukul dengan sendok oleh neneknya.
__ADS_1