My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Kalau saya sukanya kamu, gimana?


__ADS_3

Sumpah, Zea eneg dan kesal sekali dengan keadaan ini. Usai makan malam sialaan itu berakhir dan mereka saling berpamitan satu sama lain, Zea langsung mengambil langkah cepat seakan sangat berniat meninggalkan Joana di belakangnya. Sedangkan Alva dan Raja masih tertinggal di belakang setelah mereka melakukan pembayaran.


“Zea tungguin dong!” Joana setengah berteriak ingin menghentikan langkah Zea. Dia begitu polos sampai tak menyadari bahwa Zea sengaja meninggalkannya.


“Sorry ya, gue buru-buru. Perut gue nggak enak, lupa bawa obat. Oh ya lo pulang sendiri ya? gue nggak bisa ngantar.” Zea hanya berhenti sejenak untuk mengatakan itu.


“Yah, gue gimana dong?” keluh Joana. Dia tahu ini sudah hampir larut. Tidak mudah menemukan ojek, atau kendaraan umum lainnya yang murah, kecuali taksi online.


“Terserah, taksi kan banyak,” sahut Zea sambil berlalu.


“Sama saya aja.” Alva menyentuh telapak tangan Joana dengan jemarinya sambil mengatakan itu, dia berlalu begitu saja. “Saya tunggu di mobil.” tegasnya lagi, menatap wajah polos Joana yang kebingungan.


“Makasih Pak nggak usah repot-“


“Kamu menolak ajakan saya? bilang sekali lagi!” titah Alva geram karena mendapatkan penolakan dari Joana.


“Maaf Pak, saya pulang sendiri aja.” tegas Joana.


“Oke, Zea masih ada di parkiran kayaknya dan saya akan ungkapkan-“


“Pak, jangan!” lagi-lagi Joana merasa terancam dan dia terpaksa menuruti apa yang lelaki itu inginkan. “Ya udah saya pulang sama Bapak. Lagian kita kan searah.”


“Searah? perlu diralat, Joana! kita serumah!” tegas Alva, lalu dia menggandeng tangan Joana. Karena merasa tidak nyaman, Joana langsung menarik tangannya kembali.

__ADS_1


“Ehem. Gue duluan ya!” Raja berdehem, dia masih di belakang mereka, juga memperhatikan interaksi dan sedikit perdebatan dua orang itu, tanpa mendengar percakapannya.


“Oke,” sahut Alva.


“Oh ya Joana, next time boleh kita ketemu lagi?” kini Raja beralih pada Joana.


“Boleh kok Mas,” jawabnya sambil tersenyum.


“Kamu jadi pulang sama saya nggak?” tegas Alva.


“Kalau Alva keberatan biar saya antar kamu nggak apa-“


“Nggak perlu repot karena kita searah bro.” ketus Alva pada Raja dan tanpa basa-basi menarik tangan Joana untuk ikut dengannya.


🍑


Untuk kedua kalinya, Joana duduk bersisian dengan lelaki ini di dalam mobil. Tapi kali ini keadaannya tidak seperti gembel, tidak memakai daster doraemon dan tanpa alas kaki seperti saat Joana kabur dari IGD. Penampilannya lebih layak.


“Kamu udah lama berteman dengan Zea?” pertanyaan Alva memecahkan keheningan, karena sejak berada di dalam mobil, Joana hanya diam saja.


“Sejak SMA Pak,” jawabnya jujur.


“Wah, persahabatan yang abadi.” celetuk Alva lalu dia tertawa.

__ADS_1


“Tapi sepertinya sebentar lagi akan renggang.” Joana baru menyadari, penyebab Zea cuek dan mengabaikannya sampai tega meninggalkannya dengan alasan sakit perut. Dia berteman dengan Zea bukan dalam hitungan hari, minggu atau bulan. Sudah hampir sepuluh tahun dan sudah sangat hapal bagaimana jika wanita itu sedang merajuk.


Berselisih karena seorang laki-laki, ini bukan pertama kalinya bagi mereka, di masa kuliah, mereka juga pernah bertengkar hebat karena Joana pernah ketahuan makan bersama seorang senior yang ternyata Zea sukai.


Joana tidak pernah tahu soal itu, dan akhirnya dia meminta maaf, mereka berbaikan kembali sampai saat ini.


“Kenapa?” satu kata dari Alva menggambarkan rasa penasarannya.


“Pak, saya beri paham ya sekarang!” Joana tak lagi peduli kepada siapa dia berbicara kali ini. Dia hanya ingin mempertahankan pertemanannya dengan Zea, dan tak ingin hal berharga itu hancur hanya karena seorang cowok.


“Paham soal apa? serius banget, ada apa?”


“Begini Pak. Zea itu suka sama Bapak, jadi tolong banget jangan berlaku baik sama saya di depan Zea. Dan tolong jangan sampai Zea tau soal kita tinggal serumah.” pinta Joana kali ini dengan mada tegas tak ada lagi nada memelas.


“Zea suka saya?” tentu saja dia berpura-pura tidak tahu. “mana mungkin.” padahal jelas sekali wanita itu sering menunjukkan perhatian padanya saat mereka bekerja.


“Jelas-jelas dia ngaku ke saya kalau dia suka sama Bapak dan dia memang ngincar bapak, saya harap semoga aja nggak akan ada lagi pertemuan-pertemuan aneh seperti malam ini, saya nggak mau Zea salah paham ke saya.” Joana sadar diri, dia tidak mudah mendapat teman apalagi yang sampai akrab seperti dengan Zea, maka dari itu dia menganggap Zea ada orang yang berharga dalam hidupnya yang sebatang kara.


“Tapi kalau saya sukanya sama kamu, gimana?” pikiran, hati, dan nalar Alva tidak bisa diajak kompromi sejak bertemu Joana, sering sekali dia mengeluarkan kalimat-kalimat tak masuk akal yang terkadang tak sinkron dengan jalan pikirannya.


🍑


Gimana-gimana

__ADS_1


Gaes ini memang cerita santai ya. Tegang2nya ada juga tapi nggak banyak kok😃


__ADS_2