My Sweet Roommate

My Sweet Roommate
Menemui Alva


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, kini meja antik milik Nek Merry yang terletak di ruang keluarga, dipenuhi oleh paper bag dari merk-merk ternama di seluruh negeri. Jika tepat di hari sabtu, Joana menerima dua barang mewah tas dan parfum, hari ini dia menerima lagi, dua buah gaun mewah dan high heels cantik seharga jutaan rupiah. Semuanya di tujukan atas nama Joana Avilia dan pengirimnya adalah Alvando Ricolas.


“Mau apa sih dia?” Joana bingung, ya tentu saja. Sebab ulang tahunnya sudah berlalu, tapi lelaki itu masih mengirimkan hadiah-hadiah dan lebih anehnya lagi, semuanya sesuai dengan ukurannya.


“Hebatnya dia, tau tentang ukuran gue dari mana?” tak mau munafik, Joana ingin sekali mencoba high heels dengan warna merah marun itu. Tampak mewah dan mengkilap, sangat menggoda untuk dipasangkan pada kakinya.


“Jangan!” Joana menggeram, mencoba menahan agar dia tak mencoba sepatu mahal itu walau hatinya meronta-ronta ingin mencoba. Kapan lagi? apalagi itu memang ditujukan untuknya.


“Enggak Joana, jangan!” Lantas dia tertawa sarkas. “Oh dia pikir, dia bisa berbuat seenaknya mentang-mentang punya banyak duit? dia pikir semua perempuan bisa dirayu dengan cara diberi barang-barang mewah begini? ya… ya itu benar, tapi kayaknya nggak berlaku buat gue.”


Joana duduk di kursi sambil menatap barang-barang itu. Ke mana dia harus mencari Alva? jalan satu-satunya adalah besok, dia harus temui Alva secara pribadi di ruangan lelaki itu. Tapi bagaimana dengan Zea?


Arrggh. Sial! baru kali ini Joana geram dan kesal pada teman dekatnya itu, bahkan sampai mengumpat. “Bodoh amat dengan Zea, dia juga kan bukan siapa-siapanya Alva? kenapa gue harus takut dengan dia saat berurusan sama tuh cowok.” Joana sudah meyakinkan hati dan membulatkan tekadnya untuk besok.


🍑

__ADS_1


Hari yang dinanti Joana tiba, tepat di jam sepuluh pagi menjelang siang, dia memastikan bahwa lelaki bernama Alva itu sudah tiba di kantornya. Dia memastikannya dengan cara mengecek keberadaan mobil lelaki itu di area parkir VIP khusus para bos.


“Nda, gue ke atas sebentar ya?” ucapnya pada Manda, rekannya pagi itu.


“Oh ya, ngapain?”


“Ketemu Zea, penting banget. Soalnya dia nggak balas chat gue.” Joana beralasan.


Dia diam sejenak, menyiapkan hati dan mental. Bukan karena akan menghadapi Alva, tidak. Dia tidak takut sama sekali. Ada yang lebih membahayakan daripada itu, adalah Zea temannya sendiri.


Mengetuk pintu beberapa kali, Joana membuka pintu sebelum dipersilakan. “Permisi,” ucapnya hati-hati.


“Eh maaf.” Joana langsung menutup pintu karena baru saja melihat sekilas sebuah adegan yang dia sendiri tidak tahu apa itu. Zea terlihat sedang berdekatan dengan Alva yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


“Lo? ada apa?” beberapa detik setelah menutup pintu, Zea keluar menghampirinya.

__ADS_1


“Gue mau ketemu Pak Alva.” tegas Joana, dengan sorot mata yang tajam.


“Ngapain? urusan apa?” Zea membalasnya dengan tatapan tak suka.


“Joana, ada apa? silakan masuk?” Alva berdiri tepat di belakang Zea, sambil tersenyum ke arah Joana.


“Tapi Pak-“


“Ini urusan saya dengan Joana, bisa kamu tinggalkan kami berdua?” tegas Alva, pucuk dicinta ulam pun tiba. Pagi ini dia terus memikirkan Joana, ingin menyapanya di meja resepsionis, tapi Alva tak punya alasan yang tepat dan masuk akal. Dia tak mau orang bertanya-tanya mengaja CEO sepertinya memiliki urusan dengan pegawai resepsionis.


“Iya, bi-bisa Pak.” dengan berat hati, Zea menyingkir dan menjauh dari pintu.


“Gue pinjam bos lo sebentar.” tegas Joana lagi, sambil melangkah masuk. Tak peduli Zea menatapnya seolah ingin menerkamnya


🍑

__ADS_1


Likenya ya


__ADS_2