
Nasi padang dengan dengan lauk rendang dan perkedel, ditambah beberapa jenis sayur, memenuhi piring Joana saat itu. Dia tidak lagi jaga image dan malu-malu di hadapan Alva. Bukankah ada istilah, malu-malu, malah lapar? Maka Jona mengabaikan rasa malunya. Dan kini, Alva sedang menatapnya dengan penuh keheranan dan seumur hidupnya, baru kali itu dia melihat seorang wanita muda makan nasi dengan porsi yang cukup banyak.
Joana merasa Alva menatapnya terlalu lama, lelaki itu sudah lebih dulu menyelesaikan makannya. Sedangkan Joana masih menikmati makanannya secara perlahan-lahan, tanpa mau tergesa-gesa agar nikmatnya lebih terasa. “Ada apa, Mas? ilfeel lihat aku makan banyak?” tuduh Joana. Bukan dia asal bicara, hanya saja Joana merasa lelaki di hadapannya risi dengan tingkahnya saat ini.
“Jangan asal bicara, atas dasar apa aku ilfeel? cuma karena kamu makan nasi padang pakai tangan, nggak akan merubah perasaanku padamu-“
“Ah aku udah kenyang dengan nasi padang ini, Mas. Nggak usah ngegombal ya.” Joana mengingatkan.
“Cepat habiskan, waktu kita nggak banyak lagi, Joana.” Alva berucap lembut, takut wanita itu tersinggung lagi, karena akhir-akhir ini, Joana jadi lebih sensitif. Apa mungkin, menjelang masa pms.
“Sabar, Mas. Bukannya kamu tadi yang ngajak aku makan bareng? sekarang, kenapa malah diburu-buru?!” protesnya ketus.
“Marah-marah terus, pms ya?” Alva memberanikan diri menyinggung soal itu.
Joana terdiam, dia merogoh saku blazernya mengambil ponsel dengan tangan kirinya yang masih bersih. Bicara soal PMS, Joana baru menyadari, dia sudah terlambat dua minggu. Untuk memastikan, kini dia sedang menatap kalender pada ponselnya. “Mas, aku telat!” ucapnya panik.
“Telat, maksudnya?”
“Aku udah telat haid dua minggu, harusnya awal bulan aku dapet. Tapi ini-“
“Tunggu! jangan-jangan kamu, ham-“
“Enggak, nggak mungkin. Aku pasti cuma stress aja. Sejak ada kamu, hidupku berantakan.” sindir Joana.
“Setelah ini kita ke rumah sakit ya, untuk memastikan?” bujuk Alva pada wanita yang sedikit keras kepala itu. Alva mengbaikan sindiran Joana yang mengatakan hidup Joana berantakan sejak kehadirannya.
__ADS_1
Joana menggeleng. “Mas, aku juga pernah telat begini, waktu lagi masa-masa nyari kerjaan sana sini, tapi nggak ketemu. Jadi ini, bukan hal yang perlu dibesar-besarkan, oke?” Joana berucap sesantai mungkin, padahal hatinya mulai gelisah, jantungnya berdegup. Bagaimana jika benar dia hamil? “Bukannya kita harus bersiap-siap sebelum nenek tiba?” Joana mengingatkan lagi.
“Oke, tapi… kalau ada sesuatu yang beda dari kamu, kita harus periksa. Jangan membantah, Joana. Dengar aja apa kataku!” tegas Alva.
“Iya Mas.”
🍑
Makan, berbelanja dan membeli sofa, selesai mereka kerjakan dalam waktu tiga jam. Semuanya beres, hanya saja saat ini Joana terpaksa harus meminta izin untuk tidak kembali ke kantor karena dengan alasan ada hal yang mendesak dan Joana tentu tidak perlu takut dipecat atau mendapat surat peringatan, karena dia merasa aman. Aman karena dengan siapa dia pergi saat ini.
Joana belum mengganti pakaiannya, masih mengenakan setelan kerjanya, dia menyusun semua bahan makanan yang mereka beli tadi, ke dalam lemari dan kulkas. Dia juga memeriksa isi kulkas, menyisihkan sayuran dan bahan-bahan makanan lain yang sudah tak layak pakai. Jujur saja, dia terlena dengan ketiadaan Nek Merry, Joana jarang membersihkan kulkas, dan kali ini dia tidak mau terlihat seperti perempuan pemalas, apalagi jika sampai nenek mengomelinya.
“Sofa lama kamu bawa ke mana, Mas?”
“Gudang,” sahut Alva santai. Lelaki itu juga sama, masih mengenakan kemejanya yang sudah terbuka dua kancing bagian atas. Dia membantu Joana membersihkan ruang tamu dan ruang keluarga. Sebagai cucu Nek Merry, dia tahu bagaimana sifat nenek. Tidak suka rumah kotor, berdebu apalagi berantakan. Tak hanya itu, Alva juga sudah membersihkan satu kamar di rumah itu, kamar tamu yang akan dia tempati, karena nenek sudah kembali pulang ke sini.
“Kamu tenang aja.” Alva sudah menyelesaikan tugasnya, dia menghampiri Joana yang terlihat kesulitan menyusun barang-barang di dalam lemari yang tinggi.
“Mas tolong ambilkan kursi,” pinta Joana.
“Kamu nggak butuh kursi, tapi butuh pacar yang peka, sini aku bantu.” Alva mengusap pelan kepala Joana, lalu memberi kecupan singkat di sana.
Joana tersenyum mendapat perlakuan manis seperti itu. Dia bersandar pada pantry dapur, memperhatikan apa yang sedang dilakukan Alva. “Ya… kita kan harus saling melengkapi ya. Kamu dikaruniai tubuh yang tinggi, nggak butuh naik ke kursi, sedangkan aku-“
“Assalamualaikum.”
__ADS_1
Joana segera menghentikan ucapannya saat mendengar suara seseorang yang dikenalnya. “Waalaikumsalam.” tak ragu lagi, dia langsung menyambut nenek, sosok yang telah meninggalkannya tanpa alasan selama dua bulan ini.
“Nenek, tega banget sih sama aku!” kalimat protes pertama yang Joana lontarkan pada Nek Merry.
“Alva nggak jahat kan ke kamu?” dan Nenek juga memberinya pertanyaan yang tidak dia sangka-sangka.
Joana hanya tersenyum tipis, sambil menyambut pelukan nenek. Dia tak mampu menjawab, apakah Alva jahat atau tidak terhadapnya. Jika dipikir-pikir, apa yang telah Alva lakukan padanya memang sangat jahat, kejam dan tega. Tapi melihat bagaimana perjuangan lelaki itu meluluhkan hatinya, Joana pun tak bisa berkata apa-apa.
“Nek.” Alva juga menyambut neneknya, menyalami lalu memeluk.
“Semakin sehat kamu ya selama di sini, wajahmu berseri-seri,” ujar nenek, sambil mengusap kedua pipi cucunya.
“Nenek ribet banget, bilang aja aku makin tampan.” celetuk Alva, sambil menarik dua koper milik nenek untuk dibawanya ke dalam kamar.
“Joana, kamu makin cantik dan gemukan ya?” Mengabaikan ucapan Alva, nenek justru memberi pujian pada Joana.
“Oh ya? aku makin gendut, Nek?” Joana memegang pipinya sendiri. Apa mungkin karena nafsu makannya meningkat beberapa hari ini mengakibatkan berat badannya naik.
“Iya, tapi justru bikin kamu tambah cantik. Gimana, kalian berdua akur-akur, kan?” tanya nenek, menatap keduanya bergantian dan seketika Joana dan Alva saling melempar tatapan.
“Seperti yang nenek lihat, kami adalah tim yang baik, bisa bekerja sama dalam mengurus rumah, iya kan Joana?” sahut Alva, berpura-pura.
“Iya benar Nek, jangan khawatir. Rumah nenek tetap aman terjaga,” sahut Joana.
🤭
__ADS_1
Minta votenya biar aku cepat lanjut