My Wife, My Life

My Wife, My Life
Eps 10. Mengenalkan Kayla


__ADS_3

"Kalian darimana saja? Kenapa jam segini baru pulang" tanya Eva ketika melihat Albi masuk kedalam rumahnya.


Narendra sudah di bawah oleh ayahnya karena tadi sempat ketiduran di mobil.


"Dari beli cemilan buat Narend ma" sahut Albi.


"Alasan saja, kamu tidak sedang menghindari mama kan" ucap Eva.


Albi memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, mama nya memang sekarang sering marah-marah dengannya, tidak seperti dulu.


"mama mau Albi menikah?"


Tanya Albi serius sambil menatap wajah mama nya.


"Tentu saja semua orang tua ingin melihat anaknya menikah Al, apalagi umur mama sudah tidak muda lagi, mama juga ingin menimang cucu dari kamu" sahut Eva panjang.


Begitulah wanita, kalau di tanya apa jawabannya malah muter-muter, padahal Albi cuma butuh jawaban iya atau tidak.


"Kalau begitu besok Albi akan membawa calon istri Albi" ucap Albi membuat dahi mama nya mengeryit.


"Jangan bilang kamu ingin menyewa orang untuk menikah denganmu Al? Kek di novel-novel" sahut Eva sambil mengerutkan dahinya.


Albi harus benar-benar sabar menghadapi mama.


"Lihat saja besok, dan mama harus merestui pernikahan kami, tak ada alasan bibit, bebet, bobot apapun itulah Albi tidak mau tahu, yang jelas mama harus merestui pernikahan Albi dengan wanita pilihan Albi" tegas Albi tidak mau di bantah.


"Hah? tidak bisa begitu dong Al, kamu lihat Jessy mantanya kakakmu itu, dulu kakakmu cinta mati dengannya tanpa melihat bibit, bebetnya dan hasilnya Jessy hanya menjadikan kakakmu sebagai selingkuhannya dan dia cuma mau harta kakakmu saja. Lihatlah wanita pilihan mama, Alana baik karena mama sudah kenal betul dengan keluarganya seperti apa, makanya mama setuju menjodohkan Alana sama kakakmu itu." lanjutnya membandingkan Alana dengan Jessy mantan kakaknya.


Dalam mencari pasangan hidup memang perlu di lihat bibitnya, tapi kalau wanitanya sudah hamil ... apa yang bisa Albi lakukan selain menikahinya.


Tapi Albi yakin kalau Kay wanita yang baik, beberapa hari ini Kay juga tidak pernah meminta aneh-aneh, dia juga tidak pernah menuntut ini dan itu.


"Terserah mama, yang pasti besok Albi akan mengenalkan calon istri Albi kepada mama dan tolong di nilai sendiri nanti" ucap Albi.


Setelah itu pergi kekamarnya meninggalkan mama nya yang masih mendumal.


"Sudah sih ma, kita lihat saja besok wanita yang akan di bawa Albi kesini. Bukankah ini yang kamu inginkan, melihat putramu itu membawa wanitanya ke rumah" ucap Rudi menghentikan sang istri yang terus mengoceh tanpa henti.


"mama hanya khawatir kalau nanti Albi menikahi wanita modelan Jessy pa" ucap Eva.


"Tidak akan ma, Albi juga bukan pria yang bodoh yang tak bisa menilai seorang perempuan, lihat saja besok seperti apa baru kamu bisa menilainya" ucap Rudi menenangkan istrinya.


Eva akhirnya mau mengikuti saran suaminya, dia akan melihat wanita yang akan di bawa putranya.


"Ayo kita tidur, jangan terus memikirkan Albi, nanti kalau sudah waktunya anak itu juga akan menikah dengan sendirinya" ucap Rudi sambil merangkul bahu istrinya.

__ADS_1


Mereka berdua saling merangkul sambil berjalan menuju kekamarnya.


Meskipun umur Rudi sudah tidak muda lagi namun tak mempengaruhi rasa cintanya kepada sang istri, dia terkadang masih bersikap romantis selayaknya pasangan muda mudi lainnya.


Keluarga Wijaya sepertinya belum ada yang bangun kecuali Albi.


Setelah sholat subuh Albi langsung keluar dari rumahnya dan menuju ke rumah yang di tempati Kay.


Albi takut Kay akan kesulitan saat mengalami morning sickness tanpa dirinya.


Sampai di rumah Kay, Albi langsung masuk kedalam rumah tersebut dengan menggunakan kunci yang ia miliki.


Ceklek...


Albi langsung masuk ketika pintunya sudah terbuka.


Terlihat beberapa pelayan sudah pada bangun dan mulai memasak untuk sarapan nanti.


"Den Albi sudah datang" sapa bibi yang bernama Ruminah, Albi memanggilnya bi Rum.


"Iya bi, lanjutkan saja bi...Albi ingin ke kamar Kay dulu" sahut Albi dengan senyum manisnya.


Albi menaiki tangga menuju kekamar Kay.


Klek....


Terlihat Kay sedang terlelap bergelung di bawah selimut tebalnya.


Albi menghampiri Kay yang masih terlelap dan Albi mendudukan tubuhnya di tepi ranjang.


Dia menyibakkan rambut Kay yang menutupi setengah wajahnya, di lihatnya wajah Kay yang masih tertidur dengan damai tanpa terusik sedikitpun dengan kehadiran Albi.


Albi menundukkan wajahnya dan..


Cup


Bibir Albi menyentuh kening Kay singkat karena tak ingin Kay terbangun


Kemudian Albi menundukkan tubuhnya dan mendekat bagian perut Kay yang masih tertutp selimut.


"Selamat pagi anak daddy, sedang apa kamu di perut mommy sayang"


Ucap Albi lirih agar tak membangunkan Kay, lalu dia mencium perut Kay.


Usai mencium perut Kay, Albi membenarkan selimut yang di pakai Kay hingga ke batas leher.

__ADS_1


Setelah itu ia berjalan menuju sofa yang ada di kamar Kay.


Dia duduk di sofa sambil menunggu Kay hingga terbangun, kalau menunggu di luar takut nanti kalau Kay muntah Albi tidak mendengarnya.


Setelah menunggu lumayan lama akhirnya Kay bangun karena merasa perutnya bergejolak.


Kay langsung menyibak selimutnya lalu turun dari atas ranjang dan berlari menuju ke kamar mandi.


Hoekkk


Hoekkkk


Hoekkk


"Kay...." Albi langsung membuka matanya mendengar suara orang yang sedang muntah-muntah di kamar mandi.


Tadi ia sempat tertidur karena terlalu lama menunggu Kay.


Albi menyusul Kay ke kamar mandi.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Albi saat masuk kedalam kamar mandi Membuat Kay menoleh.


"Sejak kapan tuan di sini" tanya Kay gugup dan gemetar karena mual


"Sejak tadi aku sudah ada di sini" sahut Albi sambil membersihkan bibir Kay yang masih basah karena muntah tadi.


Albi tidak jijik sedikitpun membersihkan bekas muntahan Kay.


"Eh tuan biar saya bersihkan sendiri saja" ucap Kay merasa risih.


Albi tidak peduli, dia tetap membersihkan bibir Kay dengan menggunakan air.


"Mandilah, aku akan mengajakmu menemui orang tuaku" ucap Albi sambil tersenyum manis melihat Kay.


Kay memalingkan wajahnya kesamping karena merasakan detak jantungnya berdegub kencang melihat senyum manis dari bibir Albi.


"Senyumnya manis banget, bisa diabetes kalau dia tersenyum manis seperti ini terus" Batin Kay.


"Hah, ngapain tuan" tanya Kay kaget.


"Mengenalkanmu ke orang tuaku Albi, aku tak mungkin terus menerus menutupinya dari keluargaku Kay" sahut Albi.


Mendengar kata keluarga membuat mata Kay menjadi sendu, ia rindu dengan keluarganya.


Namun Kay segera merubah raut wajahnya menjadi biasa lagi, seperti biasa ia tak mau terlihat sedih di depan banyak orang.

__ADS_1


"Kalau begitu tuan keluarlah lebih dulu, saya ingin mandi" ucap Kay menyuruh Albi pergi dari dalam kamar mandi.


Albi mengangguk lalu keluar dari dalam kamar mandi dan membiarkan Kay menyelesaikan mandinya.


__ADS_2